Membanggakan! Dosen ISI Yogyakarta Terpilih sebagai Short-Term Fellow Yale ISM
- 28 Feb 2026 21:30 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, semakin meneguhkan posisinya di kancah internasional. Akademisi dan peneliti ISI Yogyakarta, Citra Aryandari, terpilih sebagai Short-Term Fellow di Yale Institute of Sacred Music (ISM), Amerika Serikat.
Citra mendapat kesempatan untuk melakukan riset manuskrip Jawa kuno yang tersimpan di Yale University Art Gallery. Program pendanaan dan pelatihan intensif yang berlangsung pada Februari 2026 tersebut, difokuskan pada penelitian koleksi manuskrip wayang abad ke-18 hingga ke-19 yang belum banyak dikaji secara mendalam selama ini.
Penelitian tersebut dipresentasikan pada 19 Februari 2026 di Miller Hall, Yale ISM, dalam forum akademik bertajuk “Dancing Ink: The Rhythmic Dialogue of Text and Image in Javanese Manuscript.” Dalam paparannya Citra menyebut, mnuskrip tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai dokumen historis.
“Saya menemukan bahwa manuskrip ini bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi adalah ‘partitur’ untuk pertunjukan wayang yang mengodekan informasi visual, naratif, musikal, bahkan teologis,” ucapnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Secara rinci Citra menyatakan, pihaknya telah melakukan transliterasi intensif terhadap sekitar 250 halaman manuskrip. Hingga saat ini, ia telah berhasil mengalihaksarakan sekitar 1.500 kata naskah Jawa Kuno.
“Saya juga telah mengidentifikasi dua jenis tembang macapat Pangkur dan Durma yang dikodekan melalui penanda visual dalam iluminasi manuskrip. Temuan lain yang signifikan adalah bukti sinkretisme Islam-Jawa dalam narasi wayang, termasuk representasi tokoh Semar sebagai “ulama” yang digambarkan melaksanakan Salat Duha,” katanya.
Citra menambahkan, riset yang dilakukan menggabungkan dua pendekatan metodologis yang saling melengkapi. Metode tersebut yakni pendekatan etnografi di Yogyakarta melalui wawancara dengan para praktisi seni, serta pendekatan arsip di Yale melalui dokumentasi, analisis visual, dan transliterasi manuskrip di Wurtele Study Center.
“Tanpa praktisi di Yogyakarta, saya tidak bisa memahami signifikansi apa yang ada di manuskrip. Tanpa manuskrip di Yale, pengetahuan praktisi kehilangan pijakan material. Arsip dan praktik bukanlah alternatif, melainkan saling bergantung,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....