Guru Besar UMY: Ilmu Pengetahuan Harus Punya Dampak Sosial

  • 28 Feb 2026 08:24 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Wakil Rektor UMY Profesor Faris Al-Fadhat menekankan, ilmu tidak boleh netral nilai di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA). Karena, ilmu pengetahuan harus berdampak secara sosial.

”Membebaskan cara berfikir, dan tetap berpijak pada etika ke Islaman,” katanya secara tertulis, Sabtu, 28 Februari 2026. ”Inilah derajat perbedaan kita dalam kompetisi global.”

Maka, Profesor Faris menawarkan empat strategi utama untuk memperkuat program pascasarjana PTMA. Pertama, reorientasi kurikulum yang berbasis nilai profetik dan responsif terhadap isu-isu strategis nasional maupun global.

Kedua, penguatan riset dan publikasi, dengan menempatkan pascasarjana sebagai produsen utama karya ilmiah kampus. Guru Besar UMY di bidang Ekonomi Politik Internasional ini menilai standar mutu pascasarjana PTMA justru harus berani melampaui standar minimal yang ada.

Strategi ketiga adalah internasionalisasi bertahap, melalui penguatan jejaring global, penyelenggaraan konferensi internasional, riset kolaboratif, hingga skema joint supervision. ”Sedangkan strategi keempat dan paling krusial adalah, penguatan dosen sebagai aktor utama pascasarjana.”

Jika PTN menetapkan target publikasi di jurnal terindeks Sinta tiga atau empat, maka PTMA harus berani menaikkan standar ke level yang lebih tinggi. Tanpa dosen yang unggul, visioner, dan berani mengambil posisi intelektual di ruang publik, mustahil program pascasarjana memiliki reputasi dan daya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....