Aji Mandaya Bantu Akses Internet Majukan UMKM dan Desa Wisata

  • 31 Mar 2026 17:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui Dinas Komunikasi dan Informatika DIY terus mengakselerasi upaya pemerataan akses digital lewat Program Aji Mandaya (Aksesibilitas Jaringan Internet untuk Kemanfaatan dan Keberdayaan Masyarakat Jogja). Program ini dirancang untuk memperluas inklusivitas digital sekaligus mendorong penguatan ekonomi masyarakat, mempererat konektivitas sosial, serta menekan kesenjangan digital antara kawasan perkotaan dan perdesaan.

Kehadiran akses internet yang lebih merata dan terjangkau membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi secara mandiri. Pelaku UMKM, komunitas lokal, hingga sektor pariwisata kini lebih mudah memanfaatkan teknologi digital, mulai dari promosi usaha, transaksi daring, hingga penguatan jejaring bisnis. Internet pun tidak lagi dipandang sebagai fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan utama penopang produktivitas.

Dalam pelaksanaannya, Kominfo DIY memegang peran kunci dalam memastikan kelompok masyarakat yang kurang beruntung turut memperoleh akses digital. Upaya ini tidak hanya bertujuan mengurangi kesenjangan teknologi, tetapi juga menjawab keterbatasan akses informasi dan layanan publik, terutama di wilayah dengan tantangan geografis.

Kepala Dinas Kominfo DIY, Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, menegaskan bahwa Aji Mandaya melampaui sekadar pembangunan infrastruktur TIK. “Program Aji Mandaya adalah sebuah gerakan bersama. Ini merupakan proyek perubahan yang kami dorong melalui kolaborasi lintas sektor dan pemangku kepentingan, dengan masyarakat sebagai fokus utama. Program ini dimulai dari kalurahan sebagai fondasi utama transformasi digital yang inklusif,” ujarnya.

Manfaat program ini kian terasa, khususnya bagi sektor UMKM. Pada 2026, Pemda DIY menargetkan pemasangan fasilitas internet di 140 titik UMKM di seluruh wilayah DIY. Hingga kini, sekitar setengah dari target tersebut telah terealisasi dan ditargetkan rampung seluruhnya pada pertengahan tahun. Fasilitas wifi ini membantu pelaku UMKM memperluas jangkauan pasar, meningkatkan mutu layanan, serta beradaptasi dengan ekosistem ekonomi digital.

Selain UMKM, Aji Mandaya juga menghadirkan layanan Free Wifi Publik Broadband 30 Mbps simetris di berbagai lokasi strategis, seperti kampung wisata, pasar tradisional, ruang terbuka hijau, kawasan wisata, hingga fasilitas pendidikan dan keagamaan. Keberadaan wifi publik tersebut menjadi pengungkit aktivitas ekonomi lokal, sektor pariwisata, sekaligus ruang interaksi sosial masyarakat.

Pemda DIY juga tengah mengembangkan jaringan internet di kawasan pantai selatan (Pansela) Gunungkidul dan Bantul yang ditargetkan selesai pada Juli 2026. Pembangunan ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru di kawasan pesisir yang sebelumnya minim konektivitas.

Meski demikian, sejumlah wilayah masih menghadapi kendala blank spot, terutama di kawasan wisata Pansela, Pegunungan Menoreh, dan lereng Gunung Merapi. Tantangan geografis berupa pegunungan dan wilayah pantai yang relatif terpencil membuat area tersebut kurang diminati penyedia layanan komersial. Namun, untuk wilayah kalurahan dan padukuhan, persoalan blank spot seluler secara umum telah teratasi.

Sebagai bagian dari transformasi digital pemerintahan, seluruh kantor kalurahan di DIY kini telah terhubung dengan internet, baik melalui jaringan fiber optic maupun nirkabel. Seluruh SMA, SMK, dan SLB di DIY juga telah terkoneksi dengan jaringan internet dari Pemda DIY, sehingga mendukung pemerataan akses pendidikan digital.

Didukung Dana Keistimewaan (Danais), Aji Mandaya menjadi fondasi penting dalam digitalisasi Pemda DIY. Program ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan publik, tetapi juga mendorong masyarakat DIY menuju kemandirian dan keberdayaan yang inklusif di era teknologi informasi.

Salah satu kawasan yang turut menikmati fasilitas ini adalah Jalan Malioboro. Wifi publik dengan username JOGJAISTIMEWA dapat diakses, antara lain, di area pedestrian depan Pasar Beringharjo. Sejumlah warga dan wisatawan mengaku terbantu, terutama saat tidak memiliki kuota internet pribadi.

Adi Taufik, wisatawan asal Pekanbaru, mengaku baru mengetahui keberadaan wifi publik tersebut saat berkunjung ke Malioboro. “Dengan adanya wifi ini sangat membantu wisatawan yang mungkin providernya tidak cukup sinyalnya atau internet kuotanya habis. Sinyalnya cukup membantu meskipun tidak terlalu kencang, tetapi juga tidak terlalu lambat. Cukup untuk misalkan order ojek online atau sekadar buka Google Maps, itu sangat membantu sekali. Tetapi kalau untuk streaming YouTube mungkin kurang membantu,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Salsa asal Blora dan Lala dari Banguntapan. Keduanya mengaku baru pertama kali mengetahui adanya wifi publik gratis di kawasan tersebut. “Jujur kami baru pertama kali tahu kalau ada wifi publik gratis di sini. Kami sebenarnya tidak pernah tahu kalau ada. Setelah dicoba, sebenarnya cuma dapat 3 bar. Tetapi saya coba buat buka TikTok aman, lancar saja. Buka komen juga lancar. Biasanya kalau udah buka komen lancar, itu sudah paling pas. Jadi baguslah,” ucap Salsa.

Sementara itu, Nurhasa Bila, mahasiswa asal Yogyakarta, menilai kualitas akses wifi publik kini lebih baik dibanding sebelumnya. “Menurut saya kencang internetnya jadi sangat membantu. Apalagi untuk traveler-traveler yang mungkin kehabisan kuota. Mereka itu mungkin butuh untuk cari tempat makan di mana. Pokoknya segala apapun itu untuk konten sangat membantu,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....