Pergulatan Pemikiran Al Makin Lahirkan “Dari Athena sampai Nusantara”

  • 26 Feb 2026 19:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sebuah karya yang dibuat dari perenungan situasi dan kondisi terkini di Tanah Air dibuat oleh mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Al Makin. Buku tebal dengan judul berbobot “Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama dan Kekuasaan” dibedah langsung di hadapan penulisnya, Kamis, 26 Februari 2026.

Al Makin sendiri blak-blakan menyebut, buku tersebut ditulis di tengah situasi politik kebangsaan yang kian menegangkan, ketika demokrasi kembali dipertanyakan dan kebebasan warga berada dalam berbagai tarikan kepentingan, ajakan untuk kembali berpikir secara jernih dan filosofis terasa mendesak.

Dari buku yang ditulisnya, Al Makin mengajak pembaca menelusuri sejarah pemikiran manusia dari berbagai peradaban, seperti Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Eropa, Asia, China, pasca Perang Dunia II, hingga Nusantara, dalam bahasa yang relatif mudah dipahami.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Makin menegaskan, buku itu bukan sekadar hasil renungan akademik, tetapi juga bagian dari pengalaman intelektual pribadinya. “Banyak dari pemikir tersebut yang secara pribadi saya kenal, berkomunikasi, dan bergaul dengan mereka,” ujarnya pada acara yang berlangsung di di Aula Convention Lantai 1 Kampus UIN Sunan Kalijaga.

Ia mengurutkan para pemikir sejak 3000 SM hingga masa kini, termasuk para pemikir Indonesia. Pengalaman mengajar sejak tahun 2000 dan kunjungan ke berbagai situs penting turut membentuk penulisan buku tersebut. Al Makin bahkan mengaku pernah tinggal di sekitar rumah Max Weber selama tiga tahun, menghadiri kuliah Jürgen Habermas dan Jacques Derrida, serta mengunjungi petilasan Karl Marx.

“Filsafat pada hakikatnya adalah milik seluruh umat manusia, sebab setiap manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir. Moral dan agama pun sepatutnya direnungkan secara mendalam, tidak berhenti pada penerimaan atau pengajaran formal semata,” katanya pada acara yang dihelat oleh Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, bekerja sama dengan Suka Press.

Sementara itu, penulis sastra Okky Madasari menilai buku ini penting karena menempatkan para pemikir dunia secara sistematis dan runtut. Banyak orang mengenal filsuf besar seperti Plato, tetapi tidak memahami silsilah dan konteks pemikirannya.

“Buku ini menjadi wajib bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah pemikiran dunia dan bagi yang berminat melakukan dekolonialisasi pengetahuan,” ujar penulis dan sekaligus aktivis sosial itu.

Filsafat yang komunikatif

Menurut Okky, buku tersebut juga menyadarkan pembaca bahwa pengetahuan lahir dari kegelisahan. Para pemikir besar tidak lahir di ruang kosong, melainkan sebagai respons atas persoalan zamannya. “Mereka kerap kali kita pandang sebagai sosok yang jauh dan seolah seperti dewa, padahal mereka adalah manusia biasa yang gelisah, merenung atas realitas zamannya, lalu menuliskannya,” ucapnya.

Di lain pihak, filsuf UIN Sunan Kalijaga, Dr Fakhrudin Faiz, melihat buku ini sebagai karya ensiklopedi yang kaya informasi. Dan sebagaimana ensiklopedi pada umumnya, selalu ada ruang untuk bertanya dan merasa belum tuntas, sehingga justru mengundang lahirnya edisi-edisi lanjutan.

Namun demikian, ia menyayangkan realitas masyarakat Indonesia yang kerap lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi media sosial daripada melakukan pembacaan yang produktif dan reflektif. Dalam situasi seperti ini, menurutnya, pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana menghadirkan filsafat dalam bentuk yang lebih komunikatif dan menarik, tanpa kehilangan kedalaman berpikirnya.

Dosen UIN Sunan Kalijaga tersebut menilai fenomena tersebut juga membuat makna filsuf berubah dari era ke era. Pada zaman kuno, filsuf dipandang sebagai orang suci atau begawan; pada abad pertengahan, identik dengan ulama; pada era modern, merujuk pada akademisi; lalu berkembang menjadi aktivis sosial.

“Sekarang, yang disebut seolah filsuf adalah selebritas yang sering tampil di media sosial,” ujarnya, menandai pergeseran otoritas dan cara publik mengenali figur pemikir di ruang digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....