Sosok Yusuf Jadi Wisudawan Terbaik-Tercepat UIN Sunan Kalijaga

  • 16 Feb 2026 06:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga baru saja mengukuhkan ratusan mahasiswa dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu-Kamis, 11-12 Februari 2026. Di antaran capaian akademik para wisudawan, kisah Yusuf Fisdaus Hasibuan menghadirkan warna yang berbeda.

Wisudawan Magister Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik dan tercepat dengan IPK sempurna 4.00.

Yusuf berhasil menyelesaikan studi magisternya dalam waktu 1 tahun 10 bulan 10 hari. Ini merupakan pencapaian yang semakin bermakna karena diraih di usia 43 tahun. Ia mengaku perbedaan usia tak menjadi persoalan selama proses pembelajaran.

“Sebagian besar teman kelas saya seusia anak atau keponakan saya, bahkan beberapa dosen juga lebih muda. Itu bukan masalah bagi saya,” ujarnya, Jumat, 13 Februari 2026.

Bagi Yusuf, angka bukanlah inti cerita. Ia justru merayakan proses belajar yang membuatnya terus tumbuh, bukan menua.

Berangkat dari kegelisahannya di ruang kelas sebagai guru Al-Qur’an Hadis di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Kepulauan Riau, Yusuf mempertanyakan mengapa pembelajaran Al-Qur’an sering berhenti pada jawaban normatif. Ia melihat anak-anak menerima penjelasan tanpa diajak memahami konteks atau proses berpikir ilmiah.

Pencarian melalui berbagai sumber digital seperti YouTube dan internet justru membukakan kesadaran baru, bahwa pemahaman Al-Qur’an perlu bertumpu pada kajian para ahli, pendekatan riset, dan pembacaan yang lebih kontenstual. Kegelisahan itulah yang membawanya melanjutkan studi ke Program IAT UIN Sunan Kalijaga.

Di kampus ini, Yusuf menemukan paradigma integratif–interkonektif mengajarkannya bahwa teks Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, melainkan berdialog dengan realitas zaman. Baginya, pengalaman akademik itu membuka “mata batin”. Ia belajar melihat makna yang lebih luas daripada sekadar pemahaman tekstual.

Latar belakang Pendidikan Agama Islam membuat perjalanan akademiknya tidak selalu ringan. Beralih ke IAT berarti memasuki wilayah ilmu yang lebih spesifik seperti semiotika, hermeneutika, hingga isu-isu tafsir kontemporer yang sebelumnya terasa jauh dari pengalaman belajarnya.

Namun, Yusuf memilih untuk tidak mundur. Ia menerapkan konsep self-regulated learning dengan pembelajaran mandiri, mengatur ritme belajar, merekam poin penting perkuliahan, berdiskusi, hingga mendatangi dosen untuk memastikan tugasnya benar-benar sesuai arah akademik.

Yusuf juga tak segan belajar dari rekan-rekan yang lebih muda. Baginya, ilmu tidak mengenal usia, dan kerendahan hati adalah syarat utama untuk bertumbuh.

Di balik capaian akademik itu, terdapat keseharian yang penuh peran, yakni sebagai pendidik, kepala keluarga, sekaligus mahasiswa. Yusuf mengaku harus membagi waktu dengan cermat dan menyusun prioritas dengan bijak. Menurutnya, keberhasilan akademik tidak pernah berdiri sendiri, ada dukungan keluarga yang menjadi fondasi utama.

Menariknya, IPK 4.00 bukan target awal yang ia bidik. Ia justru fokus pada pembelajaran, bukan sekadar mengejar nilai. Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda.

Saat kemampuan kognitif terasa terbatas, kecerdasan emosional, kedisiplinan, serta kemampuan membangun relasi dapat menjadi kekuatan yang sama pentingnya. Baginya, karakter personal tidak dibentuk dalam waktu singkat, namun dengan ketekunan, tanggung jawab, dan integritas yang perlahan membentuk kualitas seseorang.

Pengalaman belajar di IAT membawanya pada refleksi yang lebih luas tentang dunia pendidikan madrasah. Ia berharap ilmu yang didapat dapat didiseminasikan untuk meningkatkan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam, terutama di era AI yang menuntut pendekatan pembelajaran berbasis riset dan literasi yang kuat.

Yusuf membayangkan pendidikan Al-Qur’an yang lebih dialogis, tidak hanya menyampaikan teks, tetapi juga menghidupkan makna dan relevansinya di tengah dinamika zaman. Baginya, wisuda hanyalah salah satu titik dalam perjalanan panjang menuntut ilmu dan wisuda bukanlah garis akhir perjalanan akademik.

Ia menyiapkan diri untuk langkah-langkah berikutnya, termasuk memperkuat kemampuan bahasa sebagai jembatan menuju studi yang lebih tinggi yakni studi doktoral di luar negeri. Ia terus belajar menjadi teladan bagi keluarga dan para muridnya dan membuktikan bahwa belajar tidak memiliki batas usia, serta semangat berkembang adalah pilihan yang harus terus dijaga.

Kisah Yusuf Firdaus Hasibuan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari jalan yang mudah. Menurutnya, keberhasilan kadang tumbuh dari keberanian untuk bertanya, kesediaan untuk belajar kembali, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa ilmu selalu lebih luas daripada diri sendiri. Ia yakin, yang membuat seseorang tetap muda bukanlah usia, melainkan keberanian untuk terus bertumbuh.

“Angka itu ada batasnya, tapi spirit untuk bertumbuh tidak pernah berbatas. Saya percaya semangat belajar bisa membawa seseorang melampaui apa pun. Karena itu saya mulai menyiapkan diri, termasuk kemampuan bahasa, agar kelak bisa melanjutkan studi ke luar negeri,” katanya.

Ia berharap, kelak ilmu yang diperoleh dapat dibawa pulang untuk memberi solusi bagi madrasah dan pendidikan, bukan sekadar menambah gelar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....