Beberapa Pekerjaan Ini Diprediksi Hilang akibat AI
- 09 Feb 2026 07:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dunia kerja global diprediksi akan berubah cepat oleh AI. Sebanyak sepuluh profesi berada di ambang kehilangan eksistensi.
Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) memproyeksikan adanya pertumbuhan pekerjaan secara global hingga 14 persen pada 2030, namun bersamaan dengan itu sekitar 8 persen pekerjaan juga diprediksi akan menghilang akibat disrupsi teknologi dan perubahan struktur ekonomi.
Pekerjaan dengan tugas rutin menjadi target pertama otomatisasi mesin. AI diperkirakan akan menggantikan peran yang mudah diotomatisasi.
Petugas pos tradisional kini menghadapi ancaman besar hilang. Digitalisasi surat dan paket membuat peran ini kian tersingkir.
Teller bank juga tak luput dari disrupsi digital. Layanan perbankan otomatis membuat posisi ini makin berkurang.
Pekerja entri data termasuk yang paling berisiko punah. AI mampu mengolah data lebih cepat tanpa kesalahan manusia.
Kasir dan petugas tiket akan tergeser oleh sistem self-checkout. Teknologi tanpa kasir kini marak di mancanegara.
Asisten administrasi juga mulai ditinggalkan perusahaan besar. Tugas administratif kini dikerjakan program cerdas.
Profesi lain ikut terancam karena pola kerja repetitif. Misalnya pekerja telemarketing yang kerap diotomatisasi.
Driver kendaraan jarak jauh dapat tergantikan mobil otonom. Perkembangan kendaraan tanpa sopir makin nyata.
Resepsionis juga diprediksi akan semakin jarang dibutuhkan. Asisten virtual mulai menangani tugas front desk.
Pekerja layanan makanan cepat saji menghadapi risiko besar hilang. Robot sudah mampu menggantikan pekerjaan sederhana ini.
Ancaman hilangnya pekerjaan ini memicu kecemasan pekerja. Laporan global juga menyebut jutaan pekerjaan lainnya ikut berubah.
Pakar menyarankan pekerja segera belajar keterampilan baru. Ini demi menghadapi masa depan pasar tenaga kerja penuh AI.
Meski beberapa pekerjaan hilang, peluang baru akan lahir. Profesi terkait teknologi tetap dibutuhkan banyak perusahaan.
Populasi tenaga kerja Indonesia perlu adaptasi cepat keterampilan. Permintaan skill baru meningkat seiring otomatisasi global.
Guna menjaga daya saing, pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci. Pekerja dituntut terus upgrade kompetensi AI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....