Era VUCA, Noorhaidi Titip Pesan ke Sivitas Sunan Kalijaga

  • 27 Jan 2026 17:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah dunia yang kian berisik oleh polarisasi dan percepatan teknologi, Kementerian Agama menegaskan kembali perannya sebagai penjaga harmoni kebangsaan sekaligus penuntun arah masa depan.

Pesan itu mengemuka dalam upacara Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu, 3 Januari 2026 di di Halaman Gedung Pusat Administrasi Umum (PAU).

Pada kesempatan tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof H Noorhaidi Hasan, yang bertindak sebagai pembina upacara mengajak segenap sivitas akademika menjadikan peringatan HAB sebagai momentum reflektif atas delapan dekade perjalanan Kementerian Agama dalam merawat kehidupan keagamaan Indonesia yang majemuk.

Menyampaikan amanat Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar, Rektor mengungkapkan tema HAB ke-80 “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, menegaskan, kerukunan bukan sekadar absennya konflik, melainkan energi kebangsaan yang produktif—ruang di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dirajut menjadi kekuatan kolaboratif.

“Kementerian Agama lahir bukan hanya dari tuntutan sosiologis, tetapi dari kebutuhan nyata bangsa yang majemuk,” ujar amanat Menteri Agama Republik Indonesia, seperti dibacakan Rektor UIN Sunan Kalijaga. 

Sepanjang 2025, ungkap Rektor, Kementerian Agama mengusung fondasi “Kemenag Berdampak”. Transformasi digital dilakukan secara masif untuk menghadirkan layanan keagamaan yang lebih dekat, transparan, dan cepat.

“Di sisi lain, penguatan ekonomi umat digerakkan melalui ribuan pesantren serta berbagai skema dana sosial keagamaan—mulai dari zakat, wakaf, infak, sedekah, hingga dana kebajikan lintas tradisi yang berkontribusi nyata bagi kemandirian lembaga keagamaan dan ekonomi masyarakat,” ujar dia.

Namun, tantangan zaman tidak berhenti di situ. Amanat Menteri Agama juga menyoroti tantangan besar abad ini, Artificial Intelligence (AI). Dunia kini berada di era Volatilty, Uncentainity, Complexity, and Ambiguity (VUCA), di mana perubahan berlangsung cepat dan penuh ketidakpastian. Dalam konteks ini, ASN Kementerian Agama diminta tidak menjadi penonton, melainkan aktor yang memiliki kedaulatan AI.

“Menjadi tugas ASN Kemenag untuk mengisi ruang AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, moderat, sejuk, dan mencerahkan. Algoritma masa depan, ditekankan, tidak boleh hampa dari nilai ketuhanan dan kemanusiaan, serta harus dijaga agar menjadi alat pemersatu, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” katanya.

Menutup pidatonya, Rektor Noorhaidi Hasan mengajak seluruh pegawai bertransformasi menjadi pribadi yang adaptif, terbuka pada inovasi, sigap menghadapi perubahan, dan responsif melayani umat dengan empati serta integritas. “Nilai-nilai tersebut sesungguhnya merupakan warisan luhur tradisi keagamaan yang relevan untuk terus diaktualkan,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, UIN Sunan Kalijaga juga menyampaikan anugerah Satya Lencana Karya Satya kepada 22 pegawai atas pengabdian dan dedikasi mereka sebagai ASN. Sebanyak 12 pegawai menerima penghargaan masa bakti 10 tahun, serta masing-masing lima pegawai untuk masa bakti 20 dan 30 tahun.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 124/TK/2025 yang ditetapkan pada 1 Desember 2025. Rektor, Wakil Rektor II Prof Mochamad Sodik, dan Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Dr Ali Sodiq, menyematkan pin dan menyerahkan sertifikat penghargaan secara langsung kepada para pegawai dimaksud.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....