Yogyakarta Jadi Titik Temu Alumni Jesuit dari Seluruh Dunia

  • 31 Jul 2026 12:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berharap penyelenggaraan Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) yang bertepatan dengan peringatan 70 tahun organisasi itu menjadi momentum memperkuat persaudaraan lintas bangsa. Menurutnya, pertemuan di Yogyakarta diharapkan melahirkan semangat baru untuk membawa nilai-nilai kemanusiaan, ilmu, iman, dan pengabdian dalam menjawab berbagai tantangan global.

Harapan tersebut disampaikan Sri Sultan saat membuka Kongres World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026, Kamis, 30 Juli 2026, di Auditorium Universitas Sanata Dharma, Kabupaten Sleman.

“Dengan semangat itu, saya berharap perjumpaan di Yogyakarta ini tidak selesai ketika forum ditutup. Biarlah dari kota ini lahir keberanian baru, untuk membawa persaudaraan ke tengah dunia, yang sedang diuji oleh kecurigaan, jarak sosial, luka ekologis, dan perpecahan nilai,” kata Sri Sultan.

Sri Sultan menilai kepercayaan menjadikan DIY sebagai tuan rumah Kongres XI WUJA memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penyelenggaraan sebuah agenda internasional. Menurutnya, penunjukan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa Yogyakarta merupakan ruang yang mampu mempertemukan berbagai latar belakang sekaligus mempererat persaudaraan.

Ia mengatakan, dalam nilai budaya Jawa, menerima tamu bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga membuka ruang dialog, saling mendengarkan, dan membangun kebersamaan.

“Bagi kami, menjadi tuan rumah bukan perkara menerima tamu semata. Dalam tata batin Jawa, tamu adalah titipan rasa. Ia datang membawa cerita, pengalaman, doa, dan harapan. Maka, menyambut tamu,berarti membuka ruang bagi persaudaraan untuk duduk, mendengar, dan menemukan irama bersama,” kata Sri Sultan.

Sri Sultan juga mengingatkan bahwa Yogyakarta memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan Jesuit melalui berbagai institusi, seperti Kanisius, De Britto, hingga Universitas Sanata Dharma. Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut telah melahirkan banyak insan yang berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.

Ia berharap kongres tersebut dapat memperkuat persatuan, memperjelas arah kepemimpinan, serta meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar pengabdian.

“Akhirnya, marilah kita rawat api kecil yang menyala di batin masing-masing. Api yang tidak membakar, tetapi menerangi. Api yang tidak menghanguskan perbedaan, tetapi menuntun manusia untuk saling mengenali sebagai sesama ciptaan Tuhan,” katanya.

Sementara itu, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia sekaligus Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana S.J., menyampaikan kongres tersebut diikuti lebih dari seribu peserta yang berasal dari Indonesia maupun berbagai negara. Di tengah berbagai konflik yang terjadi di sejumlah belahan dunia, menurutnya, pertemuan ini menjadi simbol pentingnya menjaga persatuan dan memperkuat solidaritas global.

“Kita semakin bersemangat dengan tema United in Spirit, Leading with Purpose (Bersatu dalam Semangat, Memimpin dengan Tujuan). Inilah sesungguhnya kerinduan terdalam kita, yaitu untuk senantiasa dipersatukan dalam semangat yang sama dalam menjalankan misi Tuhan di dunia,” ucap Bagus.

Bagus menilai Yogyakarta merupakan lokasi yang tepat untuk menjadi tuan rumah kongres alumni Jesuit dunia. Sebagai kota budaya dan pendidikan, Yogyakarta telah lama menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi, budaya, dan agama, termasuk melalui kontribusi komunitas Katolik dan Jesuit dalam bidang pendidikan maupun kehidupan sosial.

“Kini, Yogyakarta berkembang menjadi kota global yang semakin berkomitmen menjaga kekayaan tradisi perjumpaan budaya dan agama. Karena itulah, sangatlah tepat apabila Kongres WUJA diselenggarakan di Yogyakarta,” kata Bagus.

Ia menambahkan, WUJA terus berkomitmen membangun jejaring alumni Jesuit yang mampu melahirkan pemimpin dengan kepedulian terhadap sesama, berakar pada nilai-nilai lokal, sekaligus responsif terhadap isu-isu global.

“Kita berkomitmen menjadi warga dunia yang aktif terlibat, bekerja bersama demi kebaikan bersama. Karena itulah, dunia membutuhkan kita, sebuah jejaring global alumni Jesuit,” ujar Bagus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....