Mualaf di Amerika Meningkat Drastis

  • 26 Mei 2026 20:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tragedi 11 September 2001, menjadi momen paradoksal bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat. Di tengah gelombang kebencian terhadap Muslim yang meningkat hingga 1.600 persen, angka konversi ke Islam justru melonjak lebih dari 400 persen dalam periode yang sama.

Pernyataan tersebut disampaikan Imam Besar New York asal Indonesia, Shamsi Ali, dalam Rapat Senat Terbuka Penganugerahan UMY Awards 2026, di UMY, Sabtu, 23 Mei 2026. Ia menyebut, tragedy 9/11 sebagai titiik balik yang mengubah banyak hal.

”Termasuk cara masyarakat memandang Islam,” katanya. ”Di satu sisi, komunitas muslim menghadapi tekanan luar biasa berat, namun justru Islam tumbuh pesat dalam Sejarah AS.”

Sebagai tokoh Muslim Amerika Serikat yang telah menetap dan berdakwah di New York selama puluhan tahun, Shamsi Ali melihat, pemerintah AS memberlakukan PATRIOT Act, pasca terjadinya peristiwa 9/11.

Pemerintah AS melakukan profiling terhadap Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan. Kemudian juga menjalankan pengawasan terhadap masjid-masjid oleh Kepolisian New York, yang berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Data Federal Bureau of Investigation (FBI) juga mencatat, kejahatan berbasis kebencian terhadap Muslim meningkat hingga 1.600 persen pada periode tersebut. Namun, di tengah tekanan itu, tingkat konversi ke Islam justru meningkat tajam.

Al-Qur’an disebut menjadi salah satu buku paling banyak dicari di Amerika Serikat. Banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal Islam mulai mencari informasi lebih dalam dan sebagian akhirnya memeluk agama tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....