China Cari Momentum Geser Pengaruh AS

  • 29 Apr 2026 22:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sikap diam China dan Rusia dalam konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran, bukanlah sebuah sikap netral. Namun, kedua negara tersebut menjalankan strategi geopolitik terukur.

Dosen Hubungan Internasional UMY Ahmad Sahide menilai, langkah China dan Rusia tersebut, merupakan upaya untuk menggeser dominasi AS dalam tatanan global. Sebab, kedua negara punya kepentingan strategis terkait konflik yang berlangsung.

”Semakin lama konflik terjadi, semakin besar tekanan terhadap ekonomi dan kekuatan militer AS,” ucapnya, Rabu, 29 April 2026. ”Momentum ini, menjadi peluang yang dimanfaatkan Beijing untuk memperkuat posisinya di panggung global.”

Jika perang ini berlangsung lama, maka ekonomi Amerika Serikat akan melemah. Dan situasi itu menjadi kesempatan bagi China untuk mengambil alih supremasi global dari tangan AS, dan kalkulasi ini bukan sekedar spekulasi akademis.

Namun sejalan dengan tren jangka panjang yang telah diprediksi banyak ilmuwan hubungan internasional. Sejumlah kajian bahkan memproyeksikan China akan melampaui AS sebagai kekuatan ekonomi dan politik antara 10 hingga 15 tahun ke depan.

Dalam pandangan Sahide, konflik Iran berpotensi menjadi akselerator dari proyeksi tersebut. Ia mencontohkan insiden penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang tidak direspons secara militer, baik oleh AS maupun NATO.

”Ini jelas menjadi indikasi melemahnya pengaruh Amerika di tingkat global,” katanya. ”Keputusan China dan Rusia untuk tidak terlibat langsung ,tidak lepas dari kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang lebih luas.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....