Ini Kata Dosen UMY tentang Isu Nuklir Iran

  • 29 Apr 2026 20:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Narasi dominan yang menyebut kepemilikan senjata nuklir oleh Iran sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dinilai bukan fakta objektif. Melainkan konstruksi politik yang dibangun Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide menilai, persepsi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas geopolitik yang netral. Saat ini, yang terjadi justru framing sepihak

”Sudah tentu isu ini sarat kepentingan AS dan Israel,” katanya, Rabu, 29 April 2026. ”Narasi itu menyebut jika Iran punya nuklir, kawasan akan menjadi tidak stabil, namun ini bukanlah perspektif yang netral, jika dikaitkan soal kepentingan.”

Sahide juga menjelaskan isu tersebut melalui perspektif realisme dalam hubungan internasional, yang menekankan pentingnya kekuatan militer sebagai jaminan keamanan negara. Karena politik global saat ini banyak dipengaruhi perspektif realis.

”Untuk mendapatkan perdamaian, sebuah negara harus siap menghadapi perang,” ujarnya. ”Jika Iran tidak memiliki kekuatan militer yang kuat dan canggih, posisinya tidak aman.”

Dalam kerangka tersebut, upaya Iran membangun kapabilitas militer, termasuk program nuklir, dinilai sebagai respons rasional terhadap ancaman yang dihadapi. Dan langkah ini menurutnya, bukanlah bentuk agresivitas Iran.

Ia juga menilai bahwa dalam berbagai konflik yang terjadi, Iran cenderung bersikap reaktif, yakni membalas serangan setelah mereka diserang terlebih dahulu. Selama ini, Iran bukan sebagai pihak yang memulai eskalasi konflik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....