Kisah Jasmine, Karateka Cilik Jogja yang Menyabet Dua Gelar Juara di Malaysia

  • 22 Apr 2026 10:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bekal kedisiplinan yang tertanam dan keinginan kuat menjadi atlet bela diri sejak usia Taman Kanak-kanak, Jasmine Ashadiya Gunarto yang memiliki segudang prestasi dalam olahraga karate berjenjang tingkat daerah ini, berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional pekan lalu.

Sosok yang ramah dan memiliki cita-cita sebagai seorang dokter ini berhasil meraih prestasi membanggakan di ajang tahunan 15th Silent Knight International Karate Cup 2026 yang digelar 17-19 April 2026 di Stadium Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia.

Perempuan asli Yogyakarta yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan memiliki sapaan akrab Jasmine ini mengaku, sudah berlatih karate sejak TK, dan benar-benar serius menekuni olahraga ini saat duduk di bangku kelas 3.

"Sekarang kelas lima. Serius awal kelas tiga sekitar dua tahun lalu," katanya, seusai sesi latihan di Almahyra Training Camp, Selasa petang, 21 April 2025.

Jasmine menceritakan, kecintaannya terhadap olahraga karate karena sering melihat sesi latihan kakaknya yang juga seorang atlet karate, berbekal keinginan kuat menjadi seorang atlet karate dan didukung kedua orang tua, kini sosok yang memiliki idola Tiara Sandi ini mampu mengukir prestasi pertamanya di tingkat internasional.

"Waktu pertama berlaga di tingkat internasional tidak takut, sama saja. Cuma sebelum tanding itu ada rasa deg-degan, karena kepikiran harus menjaga keseimbangan terus powernya," ucapnya.

Namun rasa deg-degan yang muncul sebelum bertanding di pengalaman pertamanya ditingkat internasional ini terbayar dengan prestasi yang diraihnya. Jasmine dalam ajang 15th Silent Knight International Karate Cup 2026 berhasil menyabet Juara 2 Girl Individual kumite 10-11 Years Old -40 kilogram. Sedangkan prestasi kedua di kelas Girl Individual Kata 10-11 dengan meraih juara tiga.

Latihan yang rutin dan disiplin menjadi bekal penting bagi seorang Jasmine, termasuk dalam mengatur pola makannya hingga istirahat yang cukup. Ia pun memiliki prinsip untuk terus berusaha dan hingga saat ini sudah menguasai empat Kata.

“Kalau menang itu senang, tapi kalau enggak ya dijadiin pelajaran jadi bisa lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya.

Jasmine Ashadiya Gunarto bersama sang ayah Arjunadi dan ibu Brigita Kingkin Pitaningrum menunjukkan medali yang diraih saat berlaga 15th Silent Knight International Karate Cup 2026 yang digelar 17-19 April 2026 di Stadium Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Dukungan orang tua Arjunadi dan Brigita Kingkin Pitaningrum mendorong anak menjadi sosok yang tangguh dan disiplin, Pitaningrum menceritakan momen emosional saat berlaga di Malaysia. Menurutnya, dari total sekitar 500 peserta untuk kelas yang diikuti Jasmine perkelas ada 30 anak dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Sri Lanka, hingga India.

“Terakhir final lawan tuan rumah, kemarin pas final itu sebenarnya sama-sama bagus, poinnya sama, tapi kebetulan wasitnya ambil tuan rumah. Dia sedih banget terus sampai wasit itu juga datengin dia menurut dia bilang, ‘Kamu itu sebenarnya bagus banget cuman saya bingung mau milih kamu atau dia’, kemarin meluk dia (wasit) sampai datang karena dia nangis sedih banget,” katanya, mengungkapkan.

Memar hingga berdarah sering terjadi dan memunculkan kekhawatiran Pitaningrum meski saat latihan bahkan sempat jempol kaki mengalami retak, tetapi hal ini tidak membuat surut Jasmine. Sehingga sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan memberikan arahan untuk serius dan hati-hati, agar risiko cidera dapat dihindari.

Arjunadi, ayah Jasmine mengungkapkan, prestasi yang diraih dan menjadi pengalaman pertamanya dalam berlaga di tingkat internasional menjadi bahan evaluasi dan perbaikan dari pelatih. Sehingga diharapkan nantinya dalam kompetisi internasional lainnya bisa lebih maksimal.

“Kebetulan dia pilih-pilih event, jadi kalau yang Di DIY, dia emang pilih event yang berjenjang kayak dari O2SN kan kalau SD dari kecamatan, menang lanjut ke kota, kabupaten, lanjut ke provinsi, lanjut ke nasional. Ini kemungkinan tahun ini udah O2SN bulan minggu depan, nuwun doanya. Terus kalau event yang berjenjang lainnya ada Kejurda Forki, ada Kejurda Perguruannya Inkai,” ucapnya.

Dalam sepekan 11 kali latihan setiap pagi dan sore hari, menjadikan peran orang tua dalam mendukung keinginan Jasmine untuk menjadi atlet nasional sangat penting. Ajunadi menyebutkan, setiap harinya Jasmine pukul 04.00 WIB sudah harus bangun dan 04.30 WIB sudah harus berangkat dari rumah ke tempat latihan, di tempat latihan mulai dari pukul 05.00 – 07.00 WIB.

“Itu dia mandi di sini baru sekolah balik lagi ke SD Muhammadiyah Sapen 1, Yogyakarta, itu sesi pagi. Terus dia pulang sekolah 15.30 pukul 15.40 nanti sudah harus berangkat lagi ke sini. Latihan jam 4 sampai jam 6. Terus pulang, itu rutinitas harian kayak gitu,” ujarnya, mengungkapkan.

Disamping rutin latihan asupan gizi serta istirahat yang cukup juga penting untuk memaksimalkan performa latihannya, termasuk waktu untuk pemulihan tubuh juga diperlukan. Melalui rutinitas ini, kedua orangtuanya Jasmine mengaku kediplinan yang tertanam menjadikan setiap aktivitas lebih tertata.

“Banyak ya untungnya, anak lebih PD (percaya diri), otot postur kan pasti lebih bagus dibanding yang enggak pernah olahraga. Terus disiplin tentunya, dia dengar suara dikit jam empat pagi itu sudah bangun. Efeknya ya salat subuh enggak pernah kesiangan, ibadah amanlah, kalau sudah disiplin itu enak membentuknya,” ujarnya, menambahkan.

Jasmine Ashadiya Gunarto bersama pelatih Isfan Alfredatama. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Pelatih Jasmine dari Sandfish Karate Academy, Isfan Alfredatama menyampaikan, selain didukung fasilitas, kemauan dari diri sendiri menjadi faktor paling penting untuk menentukan kemajuan anak. Hal ini terlihat dari kemauan Jasmine, termasuk rasa percaya diri dan pantang menyerah.

Disamping itu, Isfan mengaku, Jasmine memiliki pola berfikir yang sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, sehingga ketika mendapatkan masukan lebih mudah dalam menerima materi latihan. Termasuk saat masuk dalam taktik atau strategi.

“Anaknya lebih gampang nyambung, karena pertama dia PD, terus yang kedua dia bawaannya itu pola berpikirnya sedikit berbeda. Kalau persiapannya sendiri itu sebenarnya jas ini itu fokusnya ke event-event resmi contohnya seperti kalau di usianya itu di O2SN karena tahun-tahun sebelumnya itu ada jenjangnya setelah di provinsi nanti main di bertanding tingkat nasional setelah itu di nasional biasanya dikirimkan bermain di luar negeri, cuman untuk tahun ini O2SN di nasional itu dihapuskan DBON tidak tidak bergabung kembali,” katanya, menjelaskan.

Latihan terus menerus dan berkesinambungan setiap hari dalam dua sesi dengan berbagai program yang telah disiapkan terutama saat sesi pagi lebih cenderung ke fisik lalu sedikit ada pengelolaan teknik. Sedangkan pada sesi latihan sore hari lebih pada teknik serta strategi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....