Donald Trump Ingin Kembalikan Kejayaan Amerika Serikat
- 03 Mar 2026 23:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Konflik antara Iran, Amerika Serikat dan Israel yang kembali bergolak, bagian dari dinamika panjang hegemoni Negeri Paman Sam sebagai superpower global. Pakar Hubungan Internasional UMY Profesor Sidik Jatmika melihat eskalasi terbaru ini sebagai peristiwa yang tidak bisa berdiri sendiri.
Untuk memahami konflik Iran, Amerika Serikat dan Israel saat ini, masyarakat perlu memahami sejarah Negeri Paman Sam sebagai kekuatan dunia. Dalam sejarahnya, Amerika Serikat lahir pada 1776 sebagai negara dengan 13 koloni di Pantai Timur.
Mereka kemudian melakukan ekspansi teritorial ke wilayah tengah dan barat. Termasuk melakukan aneksasi di Texas dan California, pembelian Alaska dari Rusia, hingga penguasaan Hawaii, untuk membangun fondasi sebagai kekuatan nasional yang solid.
Transformasi menuju kekuatan global terjadi melalui keterlibatannya dalam Perang Dunia I dan terutama Perang Dunia II. Sejak 1945, Amerika Serikat resmi menjadi superpower, menggantikan dominasi Inggris dan Prancis yang melemah.
Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York menjadi simbol pergeseran pusat kekuasaan dunia. Puncaknya terjadi setelah runtuhnya Negara Uni Soviet, pada masa akhir Perang Dingin, ketika Amerika merasa menjadi satu-satunya polisi dunia, tanpa negara pesaing yang seimbang.
Dalam konteks tersebut, kebijakan luar negeri Amerika, terutama di bawah kepemimpinan Donald Trump pada periode keduanya, perlu dipahami secara komprehensif. Slogan “Make America Great Again”, menurutnya, bukan sekadar retorika.
”Ini buah refleksi dari pandangan bahwa Amerika dianggap kehilangan sebagian kejayaannya akibat pertumbuhan Tiongkok dan kebangkitan Rusia,” ucapnya, Selasa, 3 Maret 2026.
Dalam logika tersebut, Trump menilai pemerintahan sebelumnya terlalu lunak terhadap negara-negara yang dianggap menantang dominasi Amerika. Iran diposisikan sebagai salah satu aktor, yang perlu ditegaskan batasnya.
”Serangan atau tekanan terhadap Iran bukan sekadar respons situasional,” katanya. ”Namun bagian dari penegasan ulang posisi Amerika sebagai kekuatan terbesar dunia.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....