Waspada Dampak Perang, BPS Kota Yogyakarta Prediksi Inflasi Minyak Bisa Terjadi

  • 03 Mar 2026 10:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Konflik geopolitik antara Amerika-Israel dengan Iran dapat mempengaruhi ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta memprediksi dampak inflasi akan terjadi akibat perang yang terjadi dapat berpengaruh pada aktivitas ekospor dan impor.

Kepala BPS Kota Yogyakarta Joko Prayitno mengatakan, minyak merupakan salah satu komoditas dunia yang paling terdampak situasi perang. Hal ini diakibatkan Iran dan sejumlah negara di timur tengah merupakan negara pemasok minyak.

Awal bulan ini (Maret) sudah ada tanda inflasi karena harga Pertamax sudah naik. Per satu Maret kalau tidak salah Rp12.300 per liter, sebelumnya Rp11.000,” katanya, Senin, 2 Maret 2026.

Joko mengakui, minyak merupakan komoditas yang tidak bisa dikendalikan karena sangat dipengaruhi dengan situasi global. Termasuk emas dan tiket pesawat yang juga tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah lokal.

Upaya mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia saat ini agar dampak minyak dunia ini adalah mengendalikan kelompok komoditas bahan pangan yang harganya mudah berfluktuasi (volatile food). Menurut Joko dengan operasi pasar atau menambah pasokan diharapkan masyarakat tidak kesulitan untuk mencari bahan pokok.

“Tapi pemerintah daerah mungkin masih bisa untuk komoditas beras, dicek ketersediaan dan pasokannya,” ucapnya.

Terkait kondisi inflasi di Kota Yogyakarta tercatat pada periode bulan Februari 2026, kategori makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi paling besar. Angkanya mencapai 0,36 persen dengan penyebab utama ada pada kenaikan harga cabai rawit.

Joko menjelaskan, kenaikan cabai rawit di bulan Ramadan hingga Idulfitri merupakan siklus tahunan, karena pada momen ini juga tejadi peningkatan permintaan yang cukup drastis. Di samping itu, ketersediaan di pasaran cenderung terbatas.

“Di bulan Ramadan ini mungkin dari sisi demand-nya meningkat, permintaan untuk konsumsi buka puasa dan sebagainya mendorong beberapa komoditas makanan menjadi naik,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....