Menenun Harapan Mollo Indonesia, Hiasi Pameran di Vatikan
- 24 Des 2025 14:19 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Vatikan: Di bawah deretan tiang marmer karya maestro Renaisans Gian Lorenzo Bernini (1598–1680) yang berdiri gagah di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, sebuah instalasi karya seni berdiameter 135x135x65 cm terpampang di tengah riuhnya ribuan peziarah dari seluruh penjuru dunia. Karya ini bercerita tentang kehangatan dari sebuah desa di Nusa Tenggara Timur untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.
Menjadi catatan sejarah baru, karena untuk pertama kalinya karya seniman Indonesia turut serta bersanding dengan 132 gua Natal karya para seniman dari 23 negara lainnya dalam The International Exhibition '100 Presepi in Vaticano' atau ‘100 Gua Natal di Vatikan’, di Vatikan.
Karya dari Indonesia yang dibawakan seniman asal Yogyakarta Maria Tri Sulistyani dari Papermoon Puppet Theatre ini berjudul Waving Hope atau Menenun Pengharapan yang mengangkat kisah perjuangan para ibu penenun di Mollo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merawat alam dan identitas budaya melalui tradisi menenun.
Mollo yang merupakan nama Kota Kecamatan di NTT, juga berarti perempuan dari gunung atau orang-orang yang ditugaskan oleh leluhur untuk menjaga batu, mata air, dan hutan. Nuansa Mollo yang kental dalam karyanya juga nampak dari hadirnya kain tenun dari Mollo yang membalut Keluarga Kudus.
Karya instalasi nativitas Delegasi Indonesia ini juga direspons dalam bentuk pentas teater boneka oleh Papermoon Puppet Theatre. Partisipasi Indonesia dalam gelaran yang diwakili karya seniman asal Jogja, Maria Tri Sulistyani dari Papermoon Puppet Theatre ini juga menjadi spesial, karena bertepatan dengan 75 tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci.
Pameran ini yang juga menjadi salah satu aspek perayaan Natal Vatikan dan sudah menjadi tradisi Romawi yang ditampilkan mulai 1976. Namun di masa kepausan Paus Fransiskus, pada 2018 dipindahkan ke Vatikan dan menyatukan lebih dari 100 diorama Natal dari seluruh dunia.
Maria mengibaratkan tangan penopang Keluarga Kudus tak hanya sebagai tangan-tangan yang mendukung dan menemani tangan para penenun, petani, tangan para gembala, tangan para penjual sayur, namun juga tangan tiga orang majus yang datang dari jauh dan membawakan hadiah.
"Tangan ini juga melambangkan bahwa kebaikan datang jika kita mau memulainya," kata Maria, Rabu (24/12/2025).
Nuansa Mollo kental dalam karyanya juga terlihat nyata dari hadirnya kain tenun dari Mollo yang membalut Keluarga Kudus. Perempuan Mollo menenun selama berbulan-bulan di bawah kaki Gunung Mutis yang ditambang sejak 1999.
Para perempuan Mollo maju menjadi garis terdepan, berjuang dalam melawan tambang, karena bagi mereka merusak alam berarti mengganggu keseimbangan mereka menjalankan tugas menjaga ruang hidup dan sumber pengetahuan yang sekaligus identitas diri.
"Bagi saya kain tenun ini menjadi lambang perlawanan, dan juga upaya manusia untuk melawan keserakahan manusia lain. Jika saya boleh menggambarkan peristiwa kelahiran Yesus, dan melihatnya dengan peristiwa hari ini, Keluarga Kudus hari ini ditemani oleh Mama-mama penenun kain dari Mollo," ujar Maria.
Lewat karya instalasinya Maria menyisipkan pesan yang sangat korelatif dengan keadaan di Indonesia sekarang ini, yakni masalah alih fungsi hutan. Menurutnya, hutan yang menjadi tempat jutaan spesies makhluk hidup tinggal, harus dibabat habis, digantikan oleh tumbuhan satu jenis.
"Bumi yang kita tinggali hari ini, bukanlah tempat hidup yang sedang dalam kondisi baik-baik saja. Ribuan tahun yang lalu, Yesus juga lahir di tempat yang tidak baik-baik saja, Ia lahir di sebuah kandang, dan dalam bayang-bayang teror Herodes yang ingin membunuhnya. Jika bisa memilih, tak akan ada seorang perempuanpun mau memilih kandang sebagai tempat melahirkan," ungkap Maria.
Terbesit pertanyaan dengan kondisi yang dihadapi dunia saat ini sebagai dan menjadi penopang kehidupan manusia.
"Dunia yang kita tinggali hari ini juga bukanlah dunia yang tengah dalam keadaan baik-baik saja. Hutan-hutan yang sedianya menjadi paru-paru dunia, pepohonan yang memampukan seluruh makhluk hidup untuk bernapas, ditebang habis, digantikan dengan kehadiran alat-alat berat yang membuat lubang ke dalam perut bumi," kata Maria.

Delegasi Indonesia untuk pertama kalinya memamerkan karya seni pada The International Exhibition '100 Presepi in Vaticano' atau ‘100 Gua Natal di Vatikan’, di Vatikan.(Foto: Dok.Istimewa)
Karya Pendiri dan Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre ini terasa sangat kaya dengan Patung instalasi nativitas yang dipentaskan dalam bentuk teater boneka oleh Papermoon Puppet Theatre.
Pentas teater boneka dilakukan dua kali, salah satunya di KBRI Takhta Suci yang ditonton oleh sejumlah duta besar dan diplomat negera lain seperti Korsel, Rusia, Iran, perwakilan United Nations Women's Guild, para romo, dan umat paroki.
Partisipasi Indonesia dalam pameran ini juga melibatkan Program Studi Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang berperan dalam pendalaman konseptual, riset budaya, serta kerangka teologis, dan sosial dari karya instalasi.
“Pilihan Maria untuk menggunakan kain mama-mama dari Mollo, untuk membungkus Keluarga Kudus sungguh merupakan sebuah simbol yang sangat kuat untuk sebuah solidiritas penjelmaan Yesus di Hari Natal,” ujar G. Budi Subanar, SJ, Ketua Program Doktor Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma.
G. Budi Subanar, SJ yang turut mendampingi riset teologis karya ini, melihat pilihan Maria sebagai simbol solidaritas yang kuat. Membungkus Keluarga Kudus dengan kain tenun mama-mama Mollo adalah wujud nyata dari motto Jubileum 2025: Peregrini in Speranza (Peziarah Pengharapan).
“Apalagi dikaitkan dengan Peringatan 75 Tahun Hubungan Diplomasi Indonesia – Vatican, sekaligus merupakan penutupan tahun yubile ‘Peziarah Pengharapan’. Kehadiran persepio ‘Weaving Hopes’ dalam Cento Presepi in Vaticano menjadi wujud diplomasi budaya, dalam terang iman,” katanya.
Delegasi Indonesia ke The International Exhibition '100 Presepi in Vaticano' ini dipimpin oleh Nina Handoko. Menurutnya pada di pameran ini, Indonesia tidak hanya menampilkan kekayaan seni dan budaya, tetapi juga menegaskan peran penting diplomasi budaya dalam mempererat persahabatan antarbangsa.
“Kami yang berangkat ke Vatikan ini benar-benar bermodal nekad. Para performer sepakat untuk tidak meminta honor atau fee apapun, karena kami semua melihat ini sebagai persembahan tulus untuk Kanak-Kanak Yesus dan untuk Indonesia. Semangat pengorbanan dan kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama kami,” kata Nina.
Nina mengungkapkan, partisipasi ini bukan hanya soal seni, tapi juga tentang bagaimana Indonesia membawa pesan perdamaian dan harapan ke panggung dunia, serta memperkuat ikatan antarbangsa melalui bahasa universal budaya.
“Di momen Natal yang penuh kehangatan ini, kami berharap semangat kebersamaan dan kasih dari Indonesia dapat menyebar ke seluruh dunia, menjadi pengingat bahwa perdamaian dan cinta kasih adalah hadiah terindah yang bisa kita bagikan,” ujar Nina.
Karya delegasi Indonesia yang bersanding dengan 132 gua Natal karya para seniman dari 23 negara lainnya, seperti Italia, Kroasia, Spanyol, San Marino, Ukraina, Irlandia, Slovenia, Hongaria, Polandia, Estonia, Jerman, Slovakia, Republik Ceko, Austria, Rusia, Amerika Serikat, Kolombia, Taiwan, Venezuela, Filipina, Guatemala, dan Paraguay ini berlangsung sejak 8 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026.
Pameran ini bukan hanya sekadar tentang memamerkan keindahan visual, namun menjadi pengingat dari Indonesia bagi dunia, bahwa di tengah hutan yang mulai gundul dan bumi yang terluka, harapan harus terus ditenun, tangan demi tangan, helai demi helai, seperti yang dilakukan mama-mama di pegunungan Mollo. (Yan/par)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....