Beda Persepsi Perubahan Iklim Orang Australia dan Indonesia
- 04 Jun 2025 11:05 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Sleman: Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Deakin University Australia bekerja sama melakukan riset terkait Media Komunikasi pada Kebijakan Perubahan Iklim. Pada Selasa (3/6/2025) digelar workshop dan diskusi kelompok terarah di Fakultas Teknik UGM terkait hasil penelitian tersebut.
Riset ini digelar di kedua negara yakni Australia dan Indonesia dengan tiga bagian. Anna Klas, salah satu peneliti menyampaikan adanya perbedaan persepsi pada masyarakat pedesaan di Australia dan Indonesia terkait perubahan iklim. "Mayoritas orang Australia yakni 63,2 persen responden meyakini aktivitas manusia sebagai penyebab perubahan iklim, sementara di Indonesia hanya 49,8 persen yang percaya," ujarnya.
Survei ini dilakukan pada 1.048 orang Indonesia pedesaan berusia 30 tahun ke atas serta 1.234 orang pedesaan di Australia dengan usia di atas 56 tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat pedesaan di Indonesia menunjukkan dukungan, kepercayaan, dan keterikatan yang kuat terkait aksi serta kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim dibandingkan masyarakat Australia.
"Terutama pada solusi berbasis teknologi dan alami," katanya.
Sementara masyarakat Australia lebih skeptis terutama terhadap pajak, aktivisme, dan teknologi. Karenanya perbedaan ini membutuhkan desain strategi komunikasi yang harus lebih menyesuaikan dengan kondisi masing-masing negara terkait kebijakan iklim.
Masih dari riset yang sama, pada bagian kedua penelitian difokuskan terhadap liputan media terhadap kebijakan iklim. Adam Cardilini dan Novi Dewi menyampaikan sejumlah temuan mereka dalam penelitian ini. Utamanya ketidakcocokan antara publikasi media dan kebijakan yang ada.
"Media cenderung membesarkan topik yang menjadi diskusi global, melibatkan inovasi atau perubahan ekonomi seperti energi terbarukan, juga isu yang memicu perdebatan publik dan menyebabkan informasi terkait kebijakan yang penting kurang terekspos," ujar Adam.
Ketidakseimbangan antara fokus kebijakan dan pemberitaan media ini tampak misalnya pada topik mengenai energi dan ekonomi hijau yang mendapatkan banyak perhatian. Sementara berbagai usaha kecil di tingkat lokal kurang mendapatkan perhatian.
Sehingga penting untuk menjembatani kedua hal ini terutama di kalangan masyarakat desa yang masih sangat memanfaatkan media sebagai sumber informasi.
Pada bagian ketiga riset ini, para peneliti mengembangkan platform interaktif multibahasa untuk meningkatkan literasi kebijakan iklim serta resiliensi pada masyarakat pedesaan di Australia dan Indonesia. Platform tersebut dapat diakses pada https://counterinfodemic.org/ yang diharapkan menjadi pusat hub terkait informasi kebijakan iklim.
Selain itu juga dikembangkan chatbot Indoclimate yang terintegrasi dengan whatsapp. Tersedia pula dashboard data visualisasi yang interaktif yang menampilkan hasil riset bagian pertama dan kedua. (Dev)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....