Genosida Gaza, Akademisi Bersatu Cari Solusi Desak Dunia Internasional Tegas

  • 11 Apr 2025 22:07 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Kemanusiaan hari ini seolah-olah kehilangan maknanya. Keprihatinan ini dilontarkan oleh Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, saat membuka diskusi Palestine Update bertajuk "Palestina di Ambang Pembinasaan: Apa yang Harus Dilakukan".

Di tengah intensitas genosida di Gaza yang kian mengguncang nurani dunia, lebih dari 250 peserta dari berbagai kampus dan latar belakang berkumpul secara daring untuk mencari jawaban nyata: apa yang masih bisa dilakukan?

Diskusi yang diselenggarakan pada Kamis (10/4/2025), melalui Zoom ini diinisiasi oleh Program Studi Hubungan Internasional UII, bekerja sama dengan Universitas Islam Riau (UIR) dan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), serta didukung oleh jaringan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Swasta Islam se-Indonesia (BKSPTIS).

Tak hanya dari kalangan akademisi, peserta juga berasal dari berbagai institusi dan latar keilmuan yang peduli terhadap isu kemanusiaan global.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Dr. Zuhair al-Shun, yang hadir memberikan sambutan menyebutkan, situasi saat ini sebagai genosida terang-terangan.

Untuk itu Dr. Zuhair mendesak, agar negara-negara Muslim dan kawasan Global South untuk meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap Israel dan para sekutunya.

“Israel adalah satu-satunya pihak yang tak berkomitmen pada perdamaian. Dunia tak bisa terus diam,” kata Dr. Zuhair.

Diskusi ini menghadirkan tujuh narasumber yang menyuguhkan pendekatan beragam. Dr. Heri Herdiawanto dari UAI menegaskan, bahwa agresi Israel telah mencaplok lebih dari 50 persen wilayah Palestina dengan dukungan AS.

Sementara Hadza Min Fadhli Robby dari UII mengusulkan, pembentukan entitas baru “State of New Palestine” serta intervensi dari negara-negara Global South sebagai alternatif nyata.

Irawan Jati, Ph.D. dari UII juga menekankan, perlunya sanksi internasional menyasar aspek fundamental Israel, seperti embargo ekonomi dan persenjataan.

Sedangkan Farhan Abdul Majiid dari UII memperingatkan bahaya normalisasi pemindahan warga Palestina ke luar Gaza sebagai bentuk kolonialisme terselubung. Isu media sosial juga tak luput dari sorotan.

Rizki Dian Nursita (UII) mengungkap, bahwa ada lebih dari 300 pelanggaran digital terhadap konten pro-Palestina dalam satu bulan terakhir, mengindikasikan bias moderasi oleh platform-platform besar.

Sementara itu, Mohamad Rezky Utama (UII) mengaitkan eskalasi di Gaza dengan pola sejarah Perang Dunia II, menyebut bahwa konflik ini dapat meluas seiring dengan keterlibatan negara-negara besar.

Sebagai penutup, Dr. Muhammad Arsy Ash Shiddiqy (UIR) mengangkat pentingnya kampanye pemakzulan Benjamin Netanyahu sebagai langkah membuka peluang perdamaian.

Diskusi yang dipandu oleh Karina Utami Dewi, Ketua Program Studi Hubungan Internasional UII ini menegaskan, bahwa perjuangan rakyat Palestina adalah cermin kepedulian global terhadap penghapusan penjajahan.

Karina mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak lelah menyuarakan kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. (dyan/atang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....