Koridor Terputus, Gajah Sumatera Terancam Kehilangan Habitat

  • 14 Apr 2026 05:48 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) kembali menghadapi ancaman serius di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, Jambi. Populasi yang diperkirakan tersisa sekitar 120 ekor kini terdesak oleh ekspansi kebun sawit, karet, hingga permukiman yang terus meluas di kawasan tersebut.

Tekanan terhadap habitat yang semakin intens memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Kondisi ini menjadi sorotan dalam diskusi publik yang digelar pada Minggu 12 April, di mana berbagai pihak mengingatkan urgensi penyelamatan ruang hidup gajah.

Lembaga Geopix mengungkapkan bahwa kondisi koridor gajah di Area Konservasi Satwa Liar (WCA) dalam konsesi PT Lestari Asri Jaya (PT LAJ) kian memprihatinkan. Perambahan besar-besaran disebut telah menyebabkan fragmentasi habitat yang berdampak langsung pada pola pergerakan gajah.

“Koridor gajah terputus, padahal itu jalur vital pergerakan mereka,” kata perwakilan Geopix.

Ia menegaskan bahwa kerusakan koridor tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga meningkatkan risiko konflik dengan manusia.

Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati, menyoroti adanya jerat listrik sepanjang 70 kilometer di wilayah konsesi Michelin Group di Jambi.

“Sebanyak 46,6 kilometer bahkan berada di dalam kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi,” ujarnya.

Annisa menambahkan bahwa gajah membutuhkan ruang jelajah hingga 15–20 kilometer per hari untuk bertahan hidup.

“Kalau koridor terputus, itu sama saja memutus masa depan gajah sumatera,” ucapnya, menegaskan. Ia juga mengkritik paradigma lama yang menganggap koridor ekologis sebagai ruang kompromi. “Padahal ini ruang strategis yang tidak boleh dikorbankan,” katanya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko, mengakui bahwa ancaman terhadap populasi gajah semakin serius.

“Dengan tata kelola yang sekarang, kita belum mampu menghentikan penurunan populasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jumlah kantong habitat gajah di Sumatera kini menyusut drastis dari 42 menjadi hanya 21.

Sementara itu, Donny Gunaryadi dari Forum Konservasi Gajah Indonesia menekankan pentingnya keberadaan koridor yang aman dan dekat dengan sumber air.

“Gajah butuh makan dan minum, itu kunci utama,” katanya. Jurnalis Betahita, Aryo Bhawono, juga menyoroti peran media dalam mengangkat isu ini. “Kami memberitakan kondisi nyata di lapangan agar publik tahu, karena satwa ini milik bangsa,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....