Tampil Beda, LCC Antikorupsi Ini Padukan Materi Kejaksaan dan Filosofi Jawa
- 09 Sep 2026 12:03 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Lomba Cerdas Cermat (LCC) Antikorupsi bagi pelajar jenjang SMP/MTs se-Kota Yogyakarta. Lomba ini menjadi sinergi penegak hukum dengan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam hal ini Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta untuk membangun pondasi moral generasi muda.
Gelaran LCC Antikorupsi tampil beda dan semakin menarik. Selain menguji wawasan kejaksaan dan materi antikorupsi, kepanitiaan memasukkan muatan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sebagai salah satu materi utama kompetisi.
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DIY, Sri Kuncoro mengatakan, LCC Antikorupsi yang digelar tidak hanya sekadar menguji tentang wawasan akademik para peserta. Tetapi lanjutnya, dirancang untuk menumbuhkan budaya malu untuk berbuat curang, menolak ketidakjujuran, dan menanamkan karakter antikorupsi lewat cara yang menyenangkan, kompetitif, dan edukatif.
Melalui para peserta LCC Kuncoro menaruh harapan, agar bisa menjadi agen perubahan dan jadilah teladan bagi teman-teman di sekolahnya masing-masing. Menurutnya, perbuatan antikorupsi bagi seorang pelajar bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana di sekolah, seperti jujur dengan tidak menyontek saat ujian, disiplin dan tepat waktu datang ke sekolah, serta bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas kelompok maupun organisasi, dan sebagainya.
Melalui karakter yang tertanam sedang dini dan menjadi sebuah budaya Kuncoro meyakini, masa depan Yogyakarta terutama Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan memiliki generasi birokrat, pengusaha, dan pemimpin yang bersih serta berintegritas tinggi.
"Menang atau kalah dalam sebuah perlombaan adalah hal yang biasa. Namun, ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai kejujuran yang akan didapatkan pada hari ini adalah piala yang sesungguhnya yang akan dapat diperoleh para peserta seumur hidup," ujarnya, Rabu, 9 September 2026.
Kuncoro menambahkan, melalui sinergi penegak hukum dengan institusi pendidikan ini, diharapkan menjadi kunci utama untuk membangun pondasi moral generasi muda. Ia menegaskan, pemberantasan korupsi tidak akan pernah cukup jika hanya mengandalkan tindakan yang bersifat represif, tetapi harus dimulai dari jalur pencegahan atau preventif dan edukasi sejak dini.
"Korupsi bukan hanya sekadar masalah hukum atau kerugian keuangan negara semata. Lebih dari itu, korupsi adalah musuh bersama yang merusak sendi-sendi kehidupan, nilai keadilan, dan masa depan bangsa," ucapnya.
Sementara itu, Sekda Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori dalam sambutannya menyampaikan, kerja sama dalam memberikan edukasi bersama Kejati DIY sudah berlangsung sekitar lebih dari 10 tahun dengan berbagai program diantaranya Jaksa Masuk Sekolah. Melalui LCC Antikorupsi ini juga diharapkan, tertanam nilai-nilai integritas kepada anak-anak sejak usia dini sebagai bagian dari pendidikan karakter, yang melingkupi beberapa aspek seperti, aspek religius, aspek nasionalis, aspek kemandirian, dan integritas serta gotong royong.
"Menegakkan integritas merupakan sesuatu yang harus ditanamkan kepada kita sejak usia dini melalui proses pembiasaan dan contoh keteladanan. Integritas adalah apa yang ada dalam hati kita, apa yang ada dalam pikiran kita sesuai dengan tindakan kita," katanya.
Filosofi Jawa sebagai benteng antikorupsi
Budi mengungkapkan, antusiasme sekolah untuk mengikuti LCC Antikorupsi yang digelar Kejati bersama Pemkot setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Menurutnya, dari total 65 sekolah yang ada di Kota Yogyakarta, pada tahun ini ada 47 regu yang turut serta dan mengalami peningkatan jumlah peserta jika dibandingkan tahun sebelumnya.
"Mudah-mudahan ke depan ini dapat terus dilaksanakan sebagai ikhtiar upaya kita bersama untuk menegakkan tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang dimulai dari sejak usia dini," katanya, menjelaskan.
Penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan dalam ajang antikorupsi ini dinilai menjadi terobosan penting dalam pembentukan karakter siswa. Salah satu guru pendamping peserta dari SMP N 5 Yogyakarta, Yumnadisi mengatakan, materi yang dipelajari sesuai ruang lingkup yang dikirim dari tim panitia, mulai dari pendidikan Antikorupsi, wawasan Kejaksaan, dan Pendidikan Khas Kejogjaan. Ia mengungkapkan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan memberikan dimensi dan tantangan baru bagi para siswa.
"Materi Pendidikan Khas Kejogjaan ini menjadi tantangan tersendiri karena baru dimasukkan dan memuat banyak istilah serta filosofi Jawa. Namun, ini sangat positif karena anak-anak tidak hanya belajar teori antikorupsi dan kejaksaan secara murni, tetapi juga paham bagaimana nilai-nilai kearifan lokal Jogja membentengi diri dari perbuatan tidak jujur," katanya.
Yumnadisi menyebutkan, banyak pelajaran yang didapatkan dari peserta didik dalam mendalami Pendidikan Khas Kejogjaan yang dikaitkan tentang budaya Antikorupsi. Seperti filosofi luhur dalam tiga filosofi Ki Hadjar Dewantara hingga Golong Gilig.
"Anak-anak kan mungkin yang sebelumnya nggak pernah belajar filosofi Jawa dalam pendidikan antikorupsi, tahun ini jadi harus belajar itu," katanya, mengungkapkan.
Melalui integrasi antara nilai antikorupsi dan Pendidikan Khas Kejogjaan, para pelajar diharapkan tidak hanya siap menghadapi iklim kompetisi, tetapi juga mampu mengaplikasikan kejujuran, kesederhanaan, dan rasa tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan sekolah hingga masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....