Korupsi Material, Jadi Penyebab Infrastruktur Cepat Rusak

  • 29 Mei 2026 21:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Praktik korupsi material dalam proyek konstruksi dinilai menjadi salah satu faktor utama rendahnya kualitas infrastruktur di Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., saat menghadiri acara Sumpah Profesi Insinyur UMY, Sabtu, 16 Mei 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Zuly menyinggung ketahanan bangunan peninggalan Romawi kuno seperti Colosseum di Roma hingga amfiteater di Tunisia dan Turki sebagai contoh konstruksi yang dibangun dengan kualitas dan integritas tinggi. Menurutnya, bangunan-bangunan tersebut mampu bertahan selama ratusan tahun tanpa mengalami kerusakan signifikan.

Kondisi itu kemudian dibandingkan dengan sejumlah infrastruktur di Indonesia yang dinilai cepat mengalami persoalan tidak lama setelah dibangun.

“Kita sekarang melihat beberapa bangunan di Indonesia baru dibangun, tetapi dua minggu kemudian sudah bermasalah. Padahal, bangunan harus dibangun dengan kualitas yang baik, artistik, dan tentu saja tanpa korupsi bahan,” kata Zuly.

Ia mencontohkan kasus pembangunan jembatan layang di Ambon yang disebut mengalami persoalan konstruksi bahkan sebelum rampung dikerjakan. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis insinyur, tetapi juga dipengaruhi pengurangan kualitas material serta pemangkasan anggaran proyek.

Zuly menilai praktik semacam ini menunjukkan adanya persoalan integritas yang masih mengakar dalam proses pembangunan infrastruktur, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.

Selain menyoroti mutu pembangunan, Zuly juga mengingatkan pentingnya penerapan keselamatan kerja di sektor konstruksi. Ia menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat harus memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko pekerjaan serta disiplin menjaga standar keselamatan.

“Keselamatan kerja bukan sekadar formalitas. Banyak kecelakaan konstruksi sebenarnya dapat dicegah jika seluruh pihak bekerja dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian,” ujarnya.

Pesan tersebut disampaikan kepada 64 insinyur baru yang resmi menyandang gelar Insinyur (Ir.) usai mengucapkan sumpah profesi. Angkatan ini menjadi batch pertama Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) UMY setelah memperoleh akreditasi Unggul.

Menurut Zuly, capaian tersebut tidak hanya menjadi prestasi institusi, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab bagi para lulusan untuk menjaga profesionalisme serta integritas dalam menjalankan profesi sebagai insinyur.

Prosesi sumpah yang berlangsung secara hybrid itu diikuti 55 peserta secara luring dan 9 peserta daring. Sumpah profesi dipimpin langsung oleh Zuly didampingi rohaniawan sesuai keyakinan masing-masing peserta.

Dalam kesempatan yang sama, UMY juga menyerahkan dokumen kelulusan secara simbolis kepada Persatuan Insinyur Indonesia (PII) DIY sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap status profesional para insinyur baru.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....