Memahami Sindroma Down dari Sudut Pandang Ignatius Dharta Ranu Wijaya
- 31 Mar 2026 00:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Salah satu bentuk disabilitas pada anak adalah Down Syndrome. Anak dengan Sindroma Down memiliki tantangan perkembangan yang unik karena kekhususan yang dimilikinya. Satu-satunya kebutuhan penting bagi mereka adalah pendampingan seumur hidup melalui interaksi sosial sesuai bakat yang mereka miliki.
Namun, masih banyak orangtua yang masih sulit menerima kenyataan ketika mengetahui anaknya mengalami disabilitas. Orangtua sering khawatir, sedih, pesimis, dan kehilangan percaya diri saat mengasuh serta mendidik anak dengan sindroma down.
Untuk itu, buku "Individu dengan Sindrom Down" karya Ignatius Dharta Ranu Wijaya atau kerap disapa Kak Dharta selaku praktisi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) hadir. Buku ini diharapkan mampu memenuhi hak-hak anak dengan disabilitas agar dapat hidup, berkembang, serta berinteraksi sosial di keluarga dan masyarakat.
Keprihatinan penulis mengenai banyaknya mitos-mitos negative mengenai sindrom down menjadi cikal-bakal hadirnya buku ini. Anak dengan sindroma down sering disebut-sebut mengidap penyakit langka sehingga harus masuk Sekolah Luar Biasa (SLB).
Perilakunya pun sering diolok-olok masih seperti anak kecil ketika dewasa, tidak bisa berprestasi, tidak bisa mempunyai keturunan dan sebagainya (halaman 15, red).
Buku ini diawali dengan pembahasan konsep dasar pendidikan anak disabilitas. Menurut kak Dharta, konsep dasar pendidikan bagi mereka yaitu berprinsip non diskriminasi serta adanya akomodasi yang wajar.
Ada lima pokok bahasan dalam buku ini yang dapat digunakan sebagai panduan kesehatan, pengasuhan dan pendidikan bagi orangtua.
Pertama, penulis menjelaskan tentang landasan hukum yang mengatur pengasuhan dan pendidikan anak dengan sindroma down. Di antaranya seperti UU Nomor 8 tahun 2016 tentang disabilitas, hingga Permen PPPA Nomor 10 tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus.
Dasar hukum tersebut sebagai bentuk tanggungjawab negara, dan panduan bagi masyarakat untuk mewujudkan kehidupan berkualitas bagi seluruh penyandang disabilitas.
Kedua, penulis juga mengajak para pembaca untuk melakukan pengenalan awal mengenai sindroma down. Penulis juga menyertakan ciri fisik umum, serta beberapa masalah kesehatan yang dapat ditemukan pada anak-anak dengan sindroma down.
Menurut penulis, sindroma down adalah kondisi kelainan genetik yang menyebabkan keterlambatan perkembangan fisik, mental, maupun intelektual (halaman 23). Disebutkan juga data dari Kemenkes RI bahwa kasus sindroma down di Indonesia cenderung meningkat sejak 2013 hingga 2018. Penulis juga menegaskan mitos tentang sindroma down, salah satunya adalah kelainan genetik ini tidak menular dan bukan merupakan suatu penyakit.
Ketiga, buku ini juga dilengkapi assesmen berupa assesmen klinis dan penatalaksanaan anak, remaja, dan dewasa dengan sindroma down. Assesmen ini dapat diisi oleh orangtua sesuai kondisi anaknya masing-masing.
Dijabarkan juga mengenai isu tumbuh kembang yang kontekstual dalam pengasuhan dan pendidikan anak dengan sindroma down dalam keluarga. Tentunya dilengkapi dengan bentuk pendekatan-pendekatan terapi yang penting bagi kelangsungan tumbuh kembang anak dengan sindroma down.
Keempat, buku ini juga membahas mengenai pendidikan seks dan kesehatan reproduksi pada individu dengan sindroma down. Sebab, mereka sering terbentur oleh adanya citra diri yang buruk dari masyarakat, sehingga kerap menghambat dalam mengekspresikan seksualitasnya. Tak lupa, dijelaskan juga apa yang harus dilakukan para orangtua menghadapi hal-hal tersebut.
Kelima, penulis juga menuliskan mengenai keberlanjutan pendidikan pada anak dengan sindroma down. Disebutkan juga mengenai contoh pekerjaan dimana orang dengan sindrom down dapat mengembangkan karirnya dengan baik. Tak lupa, rujukan konsultasi kesehatan, pengasuhan, dan pendidikan anak dengan sindroma down dibahas lengkap dalam buku ini.
Pada akhirnya, buku ini tidak hanya sekadar buku panduan yang sarat akan informasi, melainkan ruang dialog yang hangat akan nilai kemanusiaan. Penulis berhasil menyatukan aspek kesehatan, strategi pengasuhan, dan pendekatan pendidikan bagi anak dengan Sindroma Down dalam satu rujukan yang komprehensif. Tentunya, disertai dengan mafas optimisme bahwa setiap individu dengan Sindroma Down memiliki potensi untuk tumbuh, belajar, dan bermakna.(Kevin Ariel)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....