Referensi Buku When You Feel: Useless Karya Khoirul Trian

  • 24 Mar 2026 19:33 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA – “Aku tahu ini semua sulit, tapi berdamai dengan kepalamu itu harus” (halaman 9). Kalimat ini menjadi pembuka pada buku self improvement karya Khoirul Trian, seorang penulis muda kelahiran 26 September 1998 asal Kalianda, Lampung Selatan yang telah dikenal sebagai penghasil karya-karya yang dekat dan menggugah hati pembaca, khususnya pembaca dari kalangan generasi Z di Indonesia.

Pada Februari 2024, Mas Trian, demikian sapaan akrab penulis, kembali menerbitkan karya terbarunya dalam sebuah buku yang berjudul "When You Feel: Useless". Buku ini adalah karya keempat Mas Trian yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama setelah “Dari Aku yang Hampir Menyerah”, “Jujur Ini Berat”, dan “Anak Kecil yang Kehilangan Pundaknya".

Melalui buku ini, penulis ingin menemani para pembaca yang sedang mengalami perasaan tidak berguna dalam hidup hingga mengakibatkan kehilangan separuh bagian dalam diri selama cukup lama, untuk menerima, berdamai, dan berjuang untuk beranjak keluar dari perasaan-perasaan tersebut. Melalui 12 bab dan 1 bagian epilog buku ini, pembaca diajak bersama-sama memvalidasi semua pikiran pikiran “jahat” yang seringkali muncul dari dalam diri akibat dalih berpura-pura kuat di hadapan orang lain.

Dalam buku ini, penulis mengumpamakan dirinya bagaikan sebuah tanaman kaktus, karena bermula dari “ilusi perjumpaan” dirinya dengan sebuah tanaman itu. “Ilusi Perjumpaan” tersebut membuat penulis merasa dirinya dan mungkin juga dengan sebagian besar diri para pembaca memiliki hal yang “senasib” seperti kaktus, karena terus tumbuh ditengah hidupnya yang tidak beruntung karena tak menarik untuk dipandang.

Ditambah lagi banyaknya duri yang membuat sebagian besar orang takut dan jarang mempedulikan tumbuhan tersebut. Terkadang, manusia pun harus mengalami kehidupan seperti kaktus yang tidak selalu harus terlihat, tapi tetap harus bertahan dan terus hidup walau berada ditengah gurun pasir yang amat kering.

Ada beberapa hal menarik yang penulis sampaikan untuk kita refleksikan melalui buku ini terkait bagaimana caranya menjadi seorang pejuang kehidupan yang tangguh seperti sebuah tanaman kaktus. Pertama, kaktus tak pernah memaksa siapapun untuk memeluknya, namun ia justru disakiti oleh manusia, digores batangnya, dicabuti durinya, dan tak jarang juga dibuang, karena tak ada keindahan di dalamnya. Begitupun dengan diri manusia harus menjadi seperti kaktus yang walau terus menerus disakiti, tak pernah merugikan orang lain.

Kedua, penulis mengungkapkan bahwa tanaman kaktus seringkali arah perkembangannya tak menentu, begitupun dengan kehidupan dewasa para pembaca saat inipun seringkali terasa demikian: banyak angan, impian, dan tujuan yang tenggelam dan berujung pada kehilangan arah. Dalam buku ini, penulis membagikan beberapa pengalaman reflektif dirinya mengenai diri manusia yang terlahir dengan sebaik-baiknya alasan. Jadi, menurut penulis, jikalau kelak jarak yang kita tempuh akan lebih lama dibandingkan orang lain, kita tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut, karena mereka yang terburu-buru mencapai garis finishnya juga pasti memiliki rasa lelahnya masing-masing.

Ketiga, masih dengan pandangan penulis terhadap makna liar kaktus itu lahir dan berkembang, penulis juga membagikan pengalamannya ketika dirinya mengalami masa-masa kehilangan arah itu yang pernah membuat penulis pernah merasa bagai kehilangan dirinya sendiri karena harus melawati banyak kejadian yang membuat dirinya terasa kalah.

Namun, penulis mengajak para pembacanya untuk senantiasa memaafkan segala bentuk kekalahan itu dan tak menjadikan kekalahan itu sebagai alasan untuk berhenti dan tak mau berjuang lagi. “Kalah itu tidak jahat, kalah itu yang akan membentuk kita menjadi sebuah titik menang yang paling indah. Aku (penulis, red) yakin, kita bisa sampai di sana, entah dengan seberat apapun petualangannya” (halaman 38).

Keempat, penulis mengungkapkan salah satu hal menarik dari kaktus adalah disaat tanaman lain mulai gugur dan kekeringan, kaktus tak pernah merasa “kehausan”, sebab bagi kaktus, mencari arah hidup adalah tentang bagaimana membangun pondasi untuk badai-badai yang akan datang. Seolah, kaktus tersebut ingin mengajarkan kepada diri penulis dan para pembaca bahwa separah-parahnya keadaan, kelak akan reda juga.

Kelima, penulis juga mengungkapkan bahwa ia belajar dari kaktus yang mengungkapkan bahwa setiap hari, ia merasa “kesepian” dan tak memiliki satupun “teman”, karena kaktus berada di padang gurun yang gersang, sehingga semua “teman”nya sudah pergi, entah mati kekeringan, ataupun punah.

Namun, kaktus tak pernah “protes” akan hal itu. Baginya, bisa hidup saja sudah merupakan hal yang luar biasa. Kehidupan kaktus yang seorang diri itu kini sama seperti kehidupan penulis dan mungkin para pembaca: “semuanya kelak akan pergi, ada yang jauh, ada yang selamanya” (halaman 53), dan kehidupan harus terus berlanjut, walaupun tanpa siapapun seseorang yang ada di samping diri kita saat ini.

Pada akhirnya, penulis mengajak para pembaca agar mampu berdamai dengan setiap badai yang bersarang di tubuh kita, entah dengan cara memeluk diri sendiri, mengusap-usap lembut dalam dada, ataupun membaringkan tubuh, kemudian kembali mengatur ritme untuk menenangkan diri sendiri. Buku When You Feel: Useless karya Khoirul Trian sangat cocok untuk dibaca bagi siapapun yang sedang dilanda luka batin dan seringkali merasa dirinya tidak berharga bagi orang lain maupun lingkungan sekitar, karena isi buku ini juga merupakan kumpulan refleksi emosional berupa pergulatan batin penulis dalam menghadapi perasaan tidak berharga, kesepian, dan tekanan ekspektasi sosial.

Melalui gaya bahasa yang sederhana namun puitis, penulis berhasil membangun narasi yang intim dan personal, sehingga menimbulkan kesan dekat dengan pembacanya, karena seolah-olah berbicara langsung kepada pembaca yang sedang berjuang menghadapi ketakutan-ketakutan dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai bacaan self improvement ataupun motivasional, tetapi juga sebagai bahan reflektif yang memiliki nilai estetika dalam cara penulis mengolah pengalaman luka menjadi sebuah narasi yang menenangkan pikiran sekaligus menguatkan hati para pembacanya. (Kevin Ariel).

Buku When You Feel Useless (Foto: Istimewa)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....