Momi Kiti, Penitipan Anabul untuk Misi Penyelamatan

  • 23 Mar 2026 20:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pagi hari di suasana hari raya, layanan penitipan kucing di rumah Momi Kiti mendadak ramai. Jika biasanya hanya diisi beberapa ekor kucing, kini setiap sudut terasa hidup oleh suara mengeong yang bersahutan.

Kandang-kandang terisi penuh. Kesibukan mulai terasa saat hari raya, satu per satu kucing diberi nama, tak lupa dicatat kebiasaan makanannya. Adalah Isye Dewi (44), pemilik pet hotel ‘’Momi Kiti’’, bertempat di permukiman Banguntapan Bantul. Layanan penitipan berkonsep rumahan ini berdiri sejak tahun 2014.

Awalnya Isye tergabung dalam komunitas cat lover Jogja, sebuah komunitas yang peduli dengan kucing kampung, kucing liar buangan ataupun kucing yang dianggap tidak layak dipelihara. ”Kucing kampung itu bukan generasi yang Persia atau Anggora atau apa gitu, terus karena sering gak tega, bahkan yang sakit parah itu aku bawa pulang, aku rawat, lalu aku carikan yang mau mengadopsi,” katanya kepada RRI Sabtu, 21 Maret 2026.

Menurut Isye Dewi, atau yang lebih dikenal sebagai Momi Kiti, penitipan bukanlah hanya soal bisnis semata. Sebagai seorang single parent yang tinggal bersama anak dan ibunya, kebutuhan hidup tentu tak bisa diabaikan.

Namun di sisi lain, ada panggilan hati untuk terus melakukan penyelamatan dan memberi makan kucing-kucing liar. Dari situlah penitipan ini menjadi jalan tengah sebuah usaha untuk menghidupi misi kemanusiaan terhadap hewan. ”Jadi dari penitipan itu bisa aku pakai untuk tambahan buat rescue cat atau stray feeding,” ucapnya.

Lebaran kali ini, tak hanya membawa berkah bagi Momi Kiti, tapi juga kucing-kucing yang ia selamatkan. ”Di Lebaran kali ini, Alhamdulillah ada 25 kucing dewasa dan ada 9 kitten, itu yang dititipkan ya, belum dihitung yang kucing saya sendiri dan juga kucing yang termasuk dalam penyelamatan,”ujarnya.

Apa sih yang membedakan Momi Kiti dengan tempat penitipan lainnya? Ternyata Momi Kiti tidak sekadar menawarkan jasa, melainkan juga dilakukan pendekatan sebagai sesama “cat mom”. Ia memahami bahwa merawat kucing bukan hanya soal memberi makan dan membersihkan kandang, tetapi juga membaca bahasa mereka, dari nada mengeong, gerak tubuh, hingga kebiasaan kecil yang sering luput dari perhatian. ”Teman-teman bisa pakai frekuensi seperti manggil ke bayi, frekuensi yang lemah lembut, itu frekuensi yang oleh kucing itu adalah frekuensi yang diterima sebagai radar oh dia baik sama aku, dia sayang sama aku. Itu salah satu cara untuk berkomunikasi sama kucing, terus kalau ngerawat kucing ya dirawat, ya bener-bener jadikan keluarga,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....