Aksi Nyata Generasi Muda Kawal Kebersihan Sungai Jogja

  • 09 Mar 2026 13:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, keterlibatan aktif kaum muda dalam menjaga keseimbangan ekosistem menjadi pilar utama yang tidak dapat ditawar lagi bagi masa depan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penumbuhan rasa cinta terhadap lingkungan kini harus dipandang sebagai investasi karakter yang esensial, terutama guna membangun generasi penggerak yang peduli di tengah bayang-bayang sikap apatis dan darurat sampah yang masih mengancam kelestarian kawasan sungai.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam program dialog "Kawruh" yang disiarkan oleh RRI Pro Yogyakarta, Kamis 5 Maret 2026 dengan narasumber Ferdiyanto, selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Dalam diskusinya, Ferdiyanto membedah bahwa eksistensi pergerakan mahasiswa tidak lepas dari tanggung jawab moral sebagai agen perubahan (agent of change) di tengah krisis kebersihan lingkungan.

Nilai-nilai kepedulian tersebut bukan sekadar wacana akademis di bangku kuliah, melainkan energi aktif yang harus terus diinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Secara sosial, mahasiswa perantau maupun warga lokal seharusnya bermuara pada satu tujuan bersama, yakni pelestarian lingkungan hidup. Jika fondasi kesadaran kolektif ini goyah, maka cita-cita melepaskan Yogyakarta dari krisis darurat sampah pun akan sulit dicapai.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Pesatnya gaya hidup modern ibarat rintangan yang jika tidak dibarengi dengan gerakan turun ke lapangan yang mumpuni, justru akan memperlebar celah kemalasan. Generasi muda kini sering kali terjebak dalam zona nyaman dan budaya mager (malas gerak) yang memicu ketidakpedulian sosial secara berlebihan. Ferdiyanto mengamati bahwa memfasilitasi anak muda untuk mau turun langsung menyingkirkan limbah popok dan sampah plastik di sungai adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan pendekatan khusus.

Guna membentengi hal tersebut, diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kelompok mahasiswa, penduduk bantaran sungai, hingga pemangku kebijakan. Di level himpunan mahasiswa, program bersih-bersih Kali Code dan Gajah Wong didorong untuk menjadi ruang interaksi yang nyata agar pemuda dari berbagai daerah dapat saling bahu-membahu. Sementara itu, di tingkat masyarakat luas, keterlibatan aktif mahasiswa dalam mengedukasi warga terkait pemilahan sampah dianggap efektif untuk menyosialisasikan pentingnya gaya hidup bersih.

Terkait urgensi peran generasi muda tersebut, Ferdiyanto menekankan tentang pentingnya aksi nyata di lapangan. "Menjaga kebersihan sungai itu bukan sekadar jargon semata. Ayolah kita turun bersama membersihkan secara langsung, jangan hanya sebatas wacana," ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti peran penting sinergi pendatang dan warga lokal dalam menjaga marwah keistimewaan Jogja. "Mahasiswa memang agen perubahan, tapi kita juga butuh masyarakat terjun langsung membantu. Edukasi soal jenis-jenis sampah ke warga sangat penting agar gerakan pelestarian ini berjalan selaras," katanya.

Sebagai penutup, Ferdiyanto mengajak seluruh elemen pemuda dan masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam dan aksi nyata mulai dari lingkup terkecil. Kebersihan Yogyakarta harus terus dijaga dan dirawat sebagai tanggung jawab kolektif, bukan justru dibiarkan larut dalam darurat sampah. Investasi pada karakter pemuda yang peduli lingkungan hari ini akan menjadi penentu apakah Yogyakarta mampu tetap asri, bersih, dan istimewa pada masa-masa yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....