Misteri Cokelat, Bukan Novel Biasa

  • 03 Jan 2026 09:03 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Petualangan Yusuf AleXandder di dunia Light Blue bersama sahabat-sahabatnya, tersaji dalam sebuah novel Misteri Cokelat karya Vera Yulia (VY) Hamayanthi. Butuh waktu dua tahun bagi penulis melakukan observasi, sebelum membukukan idenya yang diperuntukkan bagi para pembaca berusia 12 tahun ke atas.

Cerita dalam Novel Misteri Cokelat ini, mengisahkan petualangan sekelompok anak muda. Namun, istilah cokelat merupakan sebuah simbol untuk menggambarkan dinamika petualangan yang dihadapi para tokohnya yang kadang manis dan pahit.

”Ini bukan novel biasa,” kata penulis yang memiliki latar belakang keilmuan di Pasca Sarjana Ilmu Linguistik Universitas Indonesia (UI) itu, dalam kesempatan wawancara di Akademi Bahagia EA Jalan Raya Ngebo, Sukoharjo Ngaglik Sleman belum lama ini.

Sebetulnya, novel ini berangkat dari karya disertasi penulis yang membahas tentang semiotika. Saat itu ia juga sempat berfikir bagaimana menyampaikan teori akademis yang relatif susah di pahami oleh orang awam, menjadi bacaan yang menarik dan mudah dipahami.

Maka ia memilih novel sesuai hasil riset lapangan, karena banyak diminati pembaca. ”Supaya orang belajar tidak merasa seperti sedang belajar, dan tidak sadar ia belajar bahkan, karena dia (pembaca, red) tugasnya hanya membaca saja,” ujarnya.

Ia pun beralasan, jika novel pada umumnya hanya menyuguhkan kesenangan dan kesedihan, namun karyanya lebih dari itu. Sebab, novel yang ia tulis ingin menstimulus fungsi otak, baik otak kanan maupun otak kiri agar menstimulus kecerdasan pembacanya, melalui karya yang dilaunching tanggal 14 Desember 2025 lalu.

”Ya karena seperti kita ketahui, manusia memiliki fungsi kecerdasan berhitung dan kemampuan berbahasa. Keduanya punya kedudukan penting untuk menghasilkan sebuah kreativitas yang luar biasa,” katanya.

Agar fungsi stimulasi otak bekerja efektif, maka Vera melalui novelnya menyalurkan berbagai ide, salah satunya menyajikan sentuhan beragam warna di bagian cover depan. Penciptaan cover ini tidak mudah karena butuh proses panjang melalui serangkaian diskusi, agar lebih mendekati ke karakter tokoh dan alur cerita.

”Kalau di cover hanya dua warna, maka pembaca usia 12 tahun tidak dapat, tapi kalau ini dibuat berwarna usia di atasnya masuk,” ujarnya, yang sekaligus mengakui pernah melakukan penelitian tentang keterkaitan antara warna dengan efektivitas pesan.

Ia menganggap, ketika pesan ingin diterima secara maksimal, maka harus dihadirkan visual secara verbal dan non verbal yang bisa ditangkap dengan baik agar pesan lengkap. Namun ke depan, tampilan novel akan terus disempurnakan, hingga seluruh rangkaian cerita sampai ke level tujuh.

”Dan cerita semakin kompleks, tokohnya akan tumbuh dan bergerak, target setiap akhir tahun akan terbit seri terbaru dari novel ini, hingga tahun ke tujuh,” ucapnya. (ws/par)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....