Hatarakibachi, Kumpulan Cerpen Awit Radiani 18 Tahun Berkarya

  • 24 Jul 2025 21:03 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Aktif sebagai pegiat sastra sejak tahun 2007, pendiri sanggar Wani Migunani dan Teater GAP,Pengelola Griya Abipraya Purbonegoro Kemenkumham Yogyakarta, Awit Radiani akkhirnya menerbitkan sebuah kumpulan cerpen Hatakibachi dengan 21 cerpen yang termuat di dalamnya. Berkarya selama 18 tahun, terbitan pertama cerpennya masuk di Kurikulum Merdeka dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk anak SMA kelas 11 se- Indonesia dan menjadi favorit para penikmat sastra.

"Hatarakibachi ini bahasa Jepang artinya kutu pekerja dimuat di Kompas tahun 2012 jadi saya melihat orang-orang Jepang itu sibuk banget gitu kayak kutu buku . Kalau disana itu penuh orang-orang itu kayaknya gak berhenti berpikir, sepertinya gitu sibuk maunya gitu dan pernah ke Jepang, ngelihat langsung gimana budaya mereka dan lahirlah sebuah cerpen ini", ujar Awit Radiani kepada RRI dalam perbincangan Book Review pada Rabu (23/7/2025).

Diceritakan Awit, ia menulis cerpen Hatarakibachi selama dua bulan setelah melakukan perjalanan selama seminggu sehingga ke semua lokasi ,makanan, tempat wisata dalam cerpen sedangkan ceritanya adalah pengalaman pribadi yang dikasih fiksi.

"Saya kalau nulis judul itu malah jutru terakhir biasanya, kata-kata unik yang paling muncul terakhir,nah itu yang suka tak jadikan judul kayak Hatarakibachi itu karena dia yang paling populer aja gitu, supaya orang tau apa soalnya sering dikira yang nama, jadi yang masuk buku pelajaran itu kan," ucap Awit yang sudah menulis 100 cerpen.

Hatarakibachi merupakan cerpen yang merupakan kritik sosial,sebuah perbandingan budaya Indonesia dan Jepang dalam sebuah etos kerja, tentang bagaimana perempuan membela dirinya dan perempuan yang tidak mau menjadi pemenuh kuota.

"Cerpen Perempuan Tepi Mekong itu favorit aku karena aku menulisnya kan di Vientian, di Laos, itu benar-benar bertemu dengan bandar narkoba, aku pulang gitu, pulang dari jalan-jalan malam kembali ke hotel, tiba-tiba ada yang ada yang menawarkan Marijuana gitu apa, coba apa enggak takut, langsung kabur," kata Awit.

Ia menambahkan, di Vientian, Laos yang berseberangan dengan sungai di Thailand masih ada industri menjual barang haram secara bebas dan kehidupan perempuan malam yang memprihatinkan bahkan sopir tuk tuk (seperti bajaj di Indonesia) juga menjual marijuana sambil mengantar penumpang. Yang kemudian menginspirasinya menulis cerpen Perempuan di Tepi Sungai Mekong.

Beberapa cerpen dalam antologi Hatarakibachi antara lain Wanita Penghujung Malam, Penyanyi Gerobak, Kucing yang datang untuk makan malam, Terbunuh Selingkuh, Roh Yang Terlupakan.

Ada juga Kabar Sachiko, Kunjungan Takesho, Terbakar Matahari, Perempuan Tapi Mekong , Awet Desember, Chiang Rai Thailand , Yang Hilang di Ruang Brabang , Sepotong Lidah, Cemara Berdebu, Seorang Ayah ,Hari Setelah Hujan, Jalan Lori , Ombak Merah.

Cerpen ini sudah dimuat dalam berbagai media seperti KR Minggu Pagi, Kolam Rapi, Nova, Femina, Kompas dan kumpulan cerpen Hatarakibachi terpilih dalam antologi Cerpen Sinigami TBJ.

Awit juga pernah mendapatkan penghargaan ASEAN Youth Award 2008, wira usaha muda teladan Kemenpora 2007, wira usaha muda mandiri 2008, wura usaha wanita Femina BNI 2009 dan Anugerah Kebudayaan DIY 2024.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....