Lagu "Tak Jadi Main Bola" Gambarkan Ironi Menyempitnya Lahan Bermain

  • 19 Jul 2026 18:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Temanggung - Di tengah euforia masyarakat global pada ajang Piala Dunia, musisi folk asal Temanggung Umar Haen memilih merilis single terbarunya yang bertajuk “Tak Jadi Main Bola” pada Kamis, 16 Juli 2026. Karya terbaru ini sengaja diluncurkan sebagai sebuah satir dan kritik sosial yang tajam di tengah gegap gempita pesta sepak bola terakbar di dunia.

Peluncuran lagu ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi perkenalan perdana sekaligus jembatan menuju karya yang lebih besar. “Tak Jadi Main Bola” diproyeksikan sebagai pembuka jalan menuju album penuh keduanya yang diberi judul Busa Sabun Masuk ke Mata. Jika tidak ada perubahan jadwal, album yang dinantikan para penikmat musik independen tersebut siap dirilis secara resmi pada 6 Agustus 2026 mendatang.

Dalam single ini, Umar mengambil pendekatan naratif yang sangat kuat dalam penulisan liriknya untuk menyampaikan pesan mendalam. Ia menghadirkan sosok karakter anak kecil bernama Izan untuk mengisahkan ironi tentang semakin menyempitnya ruang publik bagi anak-anak. Melalui lagu ini, Umar ingin memperlihatkan sebuah kontradiksi besar di mana saat mata dunia melihat kemegahan stadion sepak bola, di sudut lain ada anak yang justru kehilangan tempat bermainnya.

Lagu ini memotret kepolosan Izan yang digambarkan lewat detail-detail kecil. Pendengar diajak merasakan antusiasme seorang anak yang menyikat sepatu bola kesayangannya dengan sikat gigi, lalu dengan riang mengayuh sepeda menuju lapangan tempat mimpinya ditanam.

“Namun, akhir cerita tersebut berubah menjadi pilu ketika sesampainya di lokasi, Izan mendapati ruang bermainnya telah berganti menjadi deretan pondasi beton,” katanya.

Umar mengaku menulis lagu ini setelah mengamati fenomena sosial yang terjadi secara masif di berbagai wilayah, yakni maraknya alih fungsi lahan publik. Ia menyoroti bagaimana pembangunan infrastruktur saat ini sering kali bersifat sepihak dan cenderung mengabaikan kebutuhan sosial masyarakat sekitar. Proses pembangunan yang terjadi di lapangan dinilai terlalu berorientasi pada fisik tanpa melibatkan ruang dialog yang inklusif bersama warga.

“Saya banyak mendengar kisah dan berita soal pembangunan fasilitas yang terkesan dipaksakan di banyak daerah. Bahkan dengan minim pelibatan warga setempat,” ujar Umar.

Keresahan yang diangkat oleh Umar dalam lagu ini diakui bukan sekadar fiksi belaka atau sekadar memindahkan kabar burung yang jauh dari jangkauannya. Sebagai musisi yang lahir dan tumbuh besar di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ia menyaksikan sendiri bagaimana ruang-ruang komunal tempat warga berinteraksi perlahan-lahan mulai terkikis. Pembangunan yang kurang partisipatif ini pada akhirnya berdampak langsung pada hilangnya hak-hak bermain anak.

“Di daerah asal saya pun, fenomena alih fungsi lahan publik yang sempat memicu polemik warga nyata terjadi. Realitas di depan mata itulah yang jadi dorongan bagi saya untuk melahirkan lagu ini,” ujarnya.

Keresahan nyata di lingkungannya tersebut kemudian berhasil ia formulasikan menjadi sebuah komposisi lagu folk yang sederhana namun sarat akan kritik sosial yang mendalam. Gaya penulisan lirik yang sangat detail dalam "Tak Jadi Main Bola" ini diakui tidak lepas dari pengalaman berharga Umar saat mengikuti residensi AMP3 (The Asian Music for Peoples’ Peace and Progress) di Filipina pada Juni 2025 lalu.

Di sana, ia belajar langsung dari Jess Santiago, musisi senior pelopor gerakan people’s music di Asia. Dari mentornya tersebut, Umar membawa pulang satu prinsip penting, yaitu menulis dari hal terdekat karena di situlah akar persoalan besar sebenarnya berada.

Bagi Umar single terbaru ini sekaligus menjadi cetak biru dari keseluruhan materi yang akan tersaji dalam album keduanya nanti. Ia ingin mendedikasikan musiknya sebagai medium perekam sejarah dan realitas sosial yang jujur dari kacamata masyarakat biasa.

“Saya menulis album kedua ini dengan niat merekam peristiwa dan menjadikannya sebuah kesaksian, bagaimana perasaan saya menjadi warga negara hari-hari ini,” ucap Umar mengenai lagu yang kini sudah bisa didengarkan di seluruh platform streaming musik digital tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....