Mengapresiasi Karya Seni: Kegiatan Merawat Perasaan demi Meraih Kebahagiaan
- 19 Jul 2026 17:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Mengapresiasi karya seni pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan merawat perasaan demi meraih kebahagiaan, di mana proses menghargai dan menjelajahi karya menjadi esensi utamanya. Menurut Kepala SMK 1 Kasihan (SMKI Yogyakarta) Agus Suranto, S.Pd., M.Sn dalam acara dialog Pendopo PRO 4 RRI Yogyakarta, apresiasi bukan sekadar menilai suatu karya, melainkan sebuah tindakan menghargai.
"Apresiasi menika menghargai, dados sanes menilai," ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa secara umum masyarakat memang lebih tertarik pada seni yang bersifat pertunjukan karena adanya kebutuhan akan hiburan. Ketika penonton merasa senang dan terhibur, maka salah satu tujuan pertunjukan tersebut telah tercapai. Namun, Agus menekankan bahwa tidak semua jenis seni diciptakan untuk tujuan menghibur.
Ia mencontohkan seniman yang berkonsentrasi pada seni murni sering kali menciptakan karya semata-mata untuk mengungkapkan dan mengekspresikan rasa indah. Begitu karya tersebut selesai dibuat dalam bentuk produk atau karya fisik, maka proses kreatifnya sudah dianggap selesai.
Di Yogyakarta sendiri, antusiasme masyarakat untuk hadir dan mengapresiasi seni pertunjukan dinilai cukup tinggi. Banyak penonton yang datang bukan mencari kesenangan instan, melainkan untuk menghargai, menyaksikan, dan menjelajahi karya tersebut.
Agus mengungkapkan bahwa seni memang idealnya dijelajahi, meskipun dalam prosesnya terkadang memunculkan rasa yang tidak nyaman. Menurutnya, banyak godaan dan faktor yang membuat seorang penonton gagal dalam menyerap esensi dari sebuah sajian seni.
Salah satu pemicu utama kegagalan dalam mengapresiasi seni adalah ketidakmampuan penonton untuk fokus. "Banyak penonton yang secara fisik sudah berada di depan panggung atau di dalam gedung pertunjukan, namun pikiran mereka masih tertinggal di tempat lain," katanya.
Selain faktor internal, menurutnya hiruk-pikuk dan suasana lingkungan sekitar yang tidak kondusif juga andil dalam merusak konsentrasi karena menikmati seni membutuhkan ketenangan. Ia menambahkan bahwa bagi sebagian orang, hadir di tengah keramaian, melihat situasi, dan melepaskan diri sejenak dari rutinitas kerja sudah menjadi hiburan tersendiri. "Maka dari itu, kenyamanan suasana sekitar sangat memengaruhi kedalaman proses apresiasi," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....