"Buat Apa Susah, Jogjaku Istimewa": Sisi Eksklusif di Balik Parade 10 Band Koes Plus

  • 02 Jun 2026 07:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta--Ada yang berbeda dan eksklusif dalam gelaran Parade Band Koes Plus yang diinisiasi oleh Woro Moro Entertainment. Acara yang berlangsung meriah di Kuliner Jogja Barat (KJB) / Kontraktor Syariah Indonesia (KSI), Jl. Ringroad Barat, Gamping Kidul, Ambarketawang ini tidak hanya menjadi ajang melepas rindu bagi para pencinta musik lawas, tetapi juga menjadi ruang diskusi budaya yang berbobot.

Di tengah-tengah kemeriahan konser, suasana berubah menjadi eksklusif dengan digelarnya Talkshow bertajuk "Buat Apa Susah, Jogjaku Istimewa". Diskusi interaktif ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten: Dr. Octo Lampito (Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat), Dr. Haryadi Baskoro (Tokoh Keistimewaan), dan R. Ngt. Adhyas Woro (Pimpinan Woro Moro Entertainment).

Dipandu oleh duet moderator Titik Renggani dan Dalijo Angkring, jalannya talkshow berlangsung sangat hidup, penuh semangat, dan berkarakter (greget). Dalam sesi diskusi, Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat, Dr. Octo Lampito, membedah mengapa lagu-lagu Koes Plus masih sangat relevan dan dicintai melintasi zaman. Menurutnya, kekuatan Koes Plus terletak pada kesederhanaan yang sarat makna.

"Lagu-lagu Koes Plus ini memiliki syair yang sederhana tetapi sangat mengena di hati masyarakat. Di balik kesederhanaan itu, ada banyak makna dan tuntunan hidup agar kita lebih berbudaya, damai, dan rukun," ujar Dr. Octo. Ia juga menambahkan bukti nyata yang terlihat di lokasi acara. Ratusan anggota komunitas hadir, berkumpul, dan berjoget bersama tanpa ada rasa egois maupun emosi. "Kerukunan dan kedamaian itu benar-benar tercipta nyata di sini melalui musik," imbuhnya.

Sementara itu, Tokoh Keistimewaan Dr. Haryadi Baskoro menekankan bahwa identitas Jogja tidak boleh berhenti pada slogan semata. Kebudayaan harus hidup dan dipraktikkan langsung oleh warganya. "Yogyakarta Istimewa itu bukan sekadar slogan, melainkan realitas di mana masyarakatnya memegang teguh nilai-nilai keistimewaan dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu butuh dukungan kita bersama. Dengan melestarikan budaya yang ada, Jogja akan tetap lestari, dan dari masyarakat yang berbudaya inilah keistimewaan sejati akan memancar," jelas Dr. Haryadi.

Pimpinan Woro Moro Entertainment yang akrab disapa Bunda Woro, menegaskan bahwa acara ini adalah bentuk kepedulian nyata untuk melestarikan budaya sekaligus menghibur para pencinta Koes Plus. Bagi Bunda Woro, merawat tradisi adalah misi jangka panjang. "Selain parade musik seperti ini, banyak hal yang sudah kami lakukan dalam pelestarian adat tradisi Jawa, seperti prosesi Ruwatan, Jamasan, hingga pementasan wayang kulit. Dalam setiap pergerakan, kami selalu melibatkan berbagai seniman lokal dengan beragam talenta yang mereka miliki agar ekosistem seni di Jogja terus hidup," papar R. Ngt. Adhyas Woro.

Sebagai penutup yang manis dan menyentuh hati, sesi talkshow eksklusif ini diakhiri dengan penampilan Bunda Woro yang membacakan puisi menyentuh tentang Keistimewaan Yogyakarta, yang disambut tepuk tangan riuh dari seluruh hadirin.

Kemeriahan acara ini tidak lepas dari kontribusi luar biasa komunitas Jogja Koes Plus Community (JKPC). Sebanyak 10 band pelestari tampil bergantian menyuguhkan performa terbaik mereka, membuat para penggemar yang memadati area KJB/KSI tak berhenti bergembira. Berikut adalah 10 band pelestari yang sukses menghentak panggung, Free Plus Band, Green Plus Band, Band B Plus, Band Jago Plus, Band Family Plus, JAS Plus Band, Bayu and Friend Band, Union Band, Tama Band, Home Band (Jago Band)

Melalui sinergi antara nostalgia musik, diskusi penguat keistimewaan, dan komitmen pelestarian tradisi, acara ini sukses membuktikan bahwa melestarikan budaya lokal bisa dikemas dengan cara yang populer, menyenangkan, sekaligus sarat edukasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....