Ramayana Ballet Purawisata Didorong Adaptif terhadap Perkembangan Zaman
- 03 Mei 2026 18:15 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-50 Ramayana Ballet Purawisata, digelar Sarasehan dan Workshop bertajuk Inovasi dan Kreasi Ramayana Ballet Purawisata dalam Rangka Menginspirasi Daya Tarik Generasi Muda, di Tasneem Hotel Malioboro Yogyakarta, Minggu, 3 April 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus upaya memperkuat pelestarian seni di tengah perkembangan zaman. Acara tersebut dihadiri perwakilan Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Anggota DPD RI, serta menghadirkan tiga narasumber kompeten yakni Anter Asmorotedjo, Agung Tri Yulianto, dan Darmawan Dadidjono.
Sebanyak 100 peserta dari 50 sanggar seni se-DIY dan Jawa turut mengikuti kegiatan ini. Jumlah sanggar yang dilibatkan disesuaikan dengan momentum peringatan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata.
Kasubdit Pemberdayaan Nilai Budaya Kementerian Kebudayaan, Bobby Fernandez, mengapresiasi penyelenggaraan sarasehan dan workshop tersebut. Menurutnya, kebudayaan harus terus didekatkan kepada generasi muda agar tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu.
Dalam sabutannyam, Bobby berharap para peserta yang berasal dari berbagai sanggar seni diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
“Peserta ini nantinya akan menjadi agent of change, yang bisa memberikan inspirasi baru bagi generasi muda bahwa kebudayaan bukan sekadar tontonan dan bukan hanya berbicara tentang masa lalu,” ujarnya.
Menurutnya, kebudayaan bukan hanya membicarakan seni, tetapi kebudayaan merupakan sesuatu yang hidup di dalam diri dan harus ditularkan kepada nilai-nilai yang bersifat global.
Sementara itu, Anggota DPD RI Ahmad Syuqi Soeratno menilai inovasi menjadi kunci dalam mengenalkan nilai-nilai kisah Ramayana kepada generasi saat ini. Menurutnya, pendekatan budaya perlu menyesuaikan dengan karakter anak muda yang akrab dengan teknologi digital, media sosial, hingga kecerdasan buatan.
“Mereka menggunakan media sosial, akrab dengan teknologi informasi, juga dengan AI dan sebagainya. Jadi, inovasi tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara masa lalu,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai-nilai positif dalam kisah Ramayana tetap harus dipertahankan, namun metode penyampaiannya perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman agar lebih mudah diterima generasi muda.
Syauqi menilai penggunaan metode kekinian akan membuat anak muda merasa dekat dengan budaya. Ia menambahkan, kebudayaan bersifat dinamis sehingga perlu terus diikuti dan dikemas dengan cara yang tepat tanpa meninggalkan nilai dasarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....