Keramaian Tak Lagi Sama, Pedagang Teras Malioboro Merindukan Perko
- 23 Feb 2026 21:54 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kawasan Malioboro tak pernah benar-benar sepi dari langkah wisatawan. Namun, hiruk-pikuk itu belum sepenuhnya dirasakan sebagian pedagang yang berjualan di Teras Malioboro Beskalan maupun Teras Malioboro, yang kini masih bergulat dengan sepinya pembeli.
Setiap harinya, Mira membuka lapaknya di Teras Malioboro dengan harapan sederhana ada langkah kaki yang singgah. Berpindah dari kawasan emperan toko (Perko) ke Teras Malioboro 2, kini mencoba bertahan di ruang baru (Teras Malioboro) yang belum sepenuhnya hidup dalam kurun waktu 1 tahun ini.
“Kalau ini kan kayak namanya babat alas. Ini kan baru 1 tahun, ya bertahan dulu lah, enggak ada kerjaan lain,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Ia sadar, tempat barunya belum seramai dulu. Namun, bagi perempuan itu, bertahan adalah satu-satunya pilihan sebab berdagang satu-satunya sumber penghidupan yang ia miliki.
Mira mengenang masa berjualan di Perko (emperan toko malioboro) hingga Teras Malioboro 2 yang menurutnya masih lebih baik dibanding sekarang. Menurutnya, lokasi Teras Malioboro 2 lebih dekat dengan arus utama wisata Malioboro membuat pedagang lebih mudah terlihat.
Kini, ia merasa banyak pengunjung belum mengetahui bahwa ada pedagang berada di Teras Malioboro. “Kita mintanya cuma satu, ada jalan pengunjung. Biar orang tahu kalau di sini ada pedagang,” ucapnya penuh harap.
Mira mengakui keluhan itu bukan hanya miliknya. Ia mendengar banyak pedagang lain berharap akses penghubung ke Teras Malioboro 1 segera dibuka, yang kabarnya akan direalisasikan di bulan Ramadan. Sehingga area tersebut dapat terjamah dan terlihat oleh wisatawan, pasalnya hingga kini lokasi tersebut belum terlihat dan belum banyak diketahui oleh wisatawan.
Di sisi lain, Rojo salah satu pedagang di lantai dua Teras Malioboro Beskalan mengeluhkan sunyinya pembeli dan merindukan saat ia berjualan di Perko. Sudah 25 tahun ia berjualan di kawasan Malioboro, namun kali ini, ia merasa ruang usahanya tak lagi seramai dulu.
“Kalau dulu semua merata bisa merasakan pembelinya. Kalau di sini kan pembelinya itu pilih-pilih. Mungkin di bawah sudah beli, nanti ke atas cuma lihat-lihat,” ujarnya
Menurut Rojo, lokasi lapak sangat menentukan. Banyak pengunjung yang sudah berbelanja di lantai bawah, lalu naik ke atas hanya untuk melihat-lihat. Kondisi itu membuatnya berdagang terasa sekadar untuk mengisi waktu saja.
“Tempatnya yang kurang strategi kalau yang di sini. Enggak seperti di lorong, kalau di lorong tiap hari laku. Kalau di sini enggak laku sering” ujar Rojo.
Meski demikian, keinginan untuk kembali ke tempat lama bukan perkara mudah. “Maunya ya kembali lagi saja ke Lorong, tapi sulit enggak bisa itu,” ucapnya penuh harap.
Hal serupa dirasakan Emi. Ia memilih bertahan meski hasil penjualan jauh berbeda. Setiap hari ia berangkat pagi pulang malam, membuka lapak dengan sabar berharap pembeli datang mengunjungi lapaknya.
“Ya dijalani saja. Telaten,” ucapnya. Ia mengaku tak memiliki mata pencaharian lain selain berdagang.
Ia menyampaikan berbagau upaya promosi telah dilakukan pemerintah setempat. Berbagai kegiatan digelar, informasi disebarkan melalui media sosial. Namun, bagi Emi semua kembali pada diri wisatawan atau pengunjung.
“Ya kembali lagi, kalau orangnya ditawarin enggak mau ya mau gimana. Yang penting penting sudah berusaha, wes bengak-bengok koyo ning pasar luwak,” ujarnya pasrah
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....