Amar Pradopo Dalang 'Sarwa-Sarwi' Titisan Ki Wareseno Slank
- 18 Feb 2026 10:34 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dunia seni tradisi kembali menunjukkan wajahnya yang dinamis melalui sosok Amar Pradopo, putra bungsu dari dalang legendaris almarhum Ki Warseno Slank (Ki Warseno Slenk).
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, seniman asal Makamhaji, Kartasura ini membagikan pandangannya mengenai pentingnya menjadi seniman yang serbabisa atau sarwa-sarwi di era modern. Bagi Amar, menjadi seorang praktisi seni di masa kini menuntut fleksibilitas untuk melampaui satu jenis keahlian saja.
Ki Amar Pradopo mengatakan, perjalanan seninya dimulai sejak usia sangat dini. “Pada umur lima tahun, dan saya menempa diri di Sanggar Suryo Sumirat Mangkunegaran untuk mempelajari seni tari,” katanya dalam sesi wawancara bersama RRI.
Meski lahir dan tumbuh besar dalam lingkungan keluarga dalang kulit yang sangat kental, ia memilih untuk tidak membatasi diri. Selain menari, ia juga mendalami karawitan hingga pedalangan dari berbagai daerah, mulai dari gaya Jawa, Bali, hingga Sunda. Semangat ini ia rangkum dalam prinsip bahwa seorang seniman tradisional sejati harus mampu menguasai berbagai elemen pertunjukan agar seni tersebut tetap relevan dan hidup.
"Pesan Bapak dulu jangan fanatik, semua kesenian diajari. Apapun itu seni, terutama seni tradisional harus kita uri-uri dan lestarikan," ujar Amar saat mengenang petuah almarhum ayahnya mengenai tanggung jawab generasi muda terhadap budaya adiluhung Sabtu, 14 Februari pekan lalu.
Salah satu poin menarik yang ditekankan Amar adalah visinya mengenai "Wayang Nusantara". Ia memandang perbedaan gaya atau gagrak antara Solo dan Yogyakarta bukanlah sebuah hambatan yang harus dipertentangkan, melainkan peluang untuk berkolaborasi demi sebuah misi pertunjukan yang berkualitas.
Menurutnya, seniman modern harus memiliki jiwa yang "pengertian" dan mampu meleburkan idealisme pribadi demi keharmonisan sebuah karya kolektif di atas panggung.
Di sisi lain, Amar juga membuktikan bahwa kecintaan pada seni tradisi bisa berjalan beriringan dengan prestasi akademik yang mumpuni. Mengikuti pesan almarhum ayahnya agar setiap seniman tetap menyelesaikan studi formal, Amar kini tengah menempuh jenjang Magister (S2) Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo setelah sebelumnya menyelesaikan gelar sarjana di bidang yang sama. Pilihan jurusan ini terbilang unik bagi seorang seniman tradisi, namun ia merasa komunikasi adalah jembatan penting untuk menyebarkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas.
"Seniman jangan sampai dipandang sebelah mata, makanya studi harus selesai," katanya dengan penuh keyakinan saat pementasan Wayang Panggung Wayang Orang dengan Padepokan Yati Pesek di Taman Budaya Embung Giwangan beberapa waktu lalu.
Melalui perpaduan bakat seni yang diwariskan secara turun-temurun dan latar belakang akademis yang kuat, Amar Pradopo kini menjadi representasi seniman masa kini yang tidak hanya piawai beraksi di atas panggung, tetapi juga memiliki kedalaman intelektual dalam menjaga marwah seni tradisi Indonesia agar tetap dihargai di kancah global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....