Lewat Sinematografi, UNESCO dan ICHCAP Lestarikan Warisan Budaya Tak Benda
- 28 Nov 2024 20:43 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Kompetisi video ichLinks Video Competition yang digelar oleh UNESCO dengan mitra Locomotion Art Studio, serta dukungan International Information and Networking Centre forIntangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under the auspices of UNESCO (ICHCAP), sukses terlaksana pada Juni hingga November 2024.
Ajang ini bertujuan melestarikan Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) melalui karya sinematografi di Yogyakarta dan Dili, Timor-Leste. Kompetisi ini mengajak kreator muda mendokumentasikan budaya lokal, termasuk situs Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada 2023.
Sebanyak 37 peserta mengikuti lokakarya teknis dan bimbingan intensif. Dari jumlah tersebut, terpilih 15 konsep video yang dikembangkan lebih lanjut. Lima finalis terbaik diundang ke Yogyakarta pada September lalu untuk menerima mentoring dari juri profesional, seperti Wahyu Utami dan Antonius Tonny Trimarsanto, sutradara yang karyanya pernah diputar di Cannes Film Festival.
“Kompetisi ini menunjukkan pentingnya peran kreator muda dalam meningkatkan kesadaran akan kekayaan budaya Indonesia. Dengan kreativitas dan dedikasi mereka, tradisi diubah menjadi cerita menarik yang menginspirasi kita semua,” ujar Maki Katsuno-Hayashikawa, Director and Representative of UNESCO Regional Office Jakarta.
Acara puncak berupa Screening dan Awarding Ceremony digelar pada Kamis (21/11/2024) di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Dari lima finalis, dewan juri memilih tiga pemenang utama.
Babaran Pusaka meraih Juara 1, disusul Goresan Cerita sebagai Juara 2, dan Dua Pohon di posisi ketiga. Masing-masing pemenang mendapat trofi, sertifikat, dan hadiah atas kontribusi mereka dalam melestarikan budaya lewat medium film.
Risang Panji Kumoro, sutradara tim pemenang, mengungkapkan harapannya agar karya dokumenter mereka dapat menginspirasi pelestarian budaya di masa depan.
“Kompetisi ini adalah wadah luar biasa untuk menggali, merayakan, dan melestarikan kekayaan warisan budaya serta mendorong kreativitas, kolaborasi, dan apresiasi terhadap keragaman budaya yang kita miliki.” katanya.
Inisiatif ini menegaskan, sinematografi bukan hanya media hiburan, tetapi juga alat kuat untuk menjaga tradisi dan identitas budaya bagi generasi mendatang. (katon/atang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....