Dedikasi Tiada Henti Demi Semakin Melayani Penumpang Kereta Api
- 24 Sep 2026 23:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Terik sinar mentari, ditambah debu yang dengan cepat hinggap di wearpack menjadi pemandangan sehari-hari tim dari Depo Lokomotif Yogyakarta. Siang itu, Senin, 24 September 2026, Paryanta baru saja menyelesaikan perawatan dan pemeliharaan harian lokomotif CC 206 buatan pabrikan General Electric (GE) Amerika.
“Aktivitas yang dilakukan, untuk di sini ada untuk siklus dari lokomotif itu, ada P harian, yang dilakukan per hari untuk mempersiapkan untuk dinasan KA. Terus untuk perawatan (berkala, red) di bulanan, itu ada P1 bulanan, P3 bulanan, P6 bulanan, dan P12 bulanan atau P1 tahunan,” ujar Paryanta, Supervisor Program Depo Lokomotif Yogyakarta.
Simbol P sendiri menunjukkan definisi ‘perawatan’. Depo Lokomotif yang terletak di Jalan Suryonegaran 37, Bumijo, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta ini memang menjadi bengkel perawatan dan sekaligus gudang lokomotif.
Total ada 42 unit lokomotif yang menjadi ‘pasien’ langganan Depo Lokomotif Yogyakarta. Paryanta dengan telaten melakukan pengecekan apa yang menjadi tugas hariannya. Untuk P harian ada beberapa hal wajib yang harus dicek Paryanta bersama empat anak buahnya.
“Pengecekan (mulai) dari elektrikal, kemudian ada diesel, juga ada di kompresor, peranginan, juga di mekanikal,” kata pria kelahiran Gunungkidul, 23 April 1978.
Ketika lokomotif CC 206 dihidupkan, deru suara mesin diesel yang khas muncul dari loko yang bercorak Merah Putih plus gambar ikon harimau bernama “Kapten Rimau” itu. Lokomotif CC 206 yang didatangkan ke Indonesia pada tahun 2015 silam, menjadi andalan PT KAI untuk menarik gerbong dan kereta penumpang.
Demi menjamin keselamatan perjalanan dan kepuasan pelanggan, Depo Lokomotif Yogyakarta memiliki tanggung jawab besar untuk merawat loko yang ada. Tak hanya itu saja, perawatan dan pemeliharaan juga meliputi kereta penumpang, kereta makan atau restorasi, gerbong pembangkit, dan juga kereta bagasi.
“Untuk loko, setiap perawatan sekitar satu jam. Dari pengecekan awal selanjutnya nanti sampai terakhir di pengetesan,” ucapnya.
Tak sungkan, Paryanta kerap kali mengawasi langsung pekerjaan final perawatan yang dilakukan oleh anak buahnya. Mengawali pengabdian sebagai pekerja harian lepas di Gudang Persediaan Yogyakarta pada tahun 2001 silam, sudah seperempat abad, Paryanta mengabdikan diri untuk menjamin keselamatan perjalanan serta menjaga kenyamanan penumpang.
“Sebenarnya saya baru diterima sebagai pegawai tetap pada tahun 2011 silam. Tapi sudah sejak 2001, dulunya di Gudang Persediaan Yogyakarta,” kata Paryanta.

Lebih dari Sekadar Jasa
Sementara itu, suara klakson kereta api terdengar keras dari Depo Lokomotif Yogyakarta yang sangat berdekatan dengan Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu. Kala itu, sebuah KA Jarak Jauh baru saja memasuki stasiun terbesar di Daop 6 Yogyakarta.
KA Wijayakusuma yang memiliki relasi terbilang panjang yaitu dari Cilacap hingga Banyuwangi, baru saja memasuki Stasiun Yogyakarta. Kereta yang berangkat dari Stasiun Cilacap tepat pukul 06.00 WIB, tepat memasuki Stasiun Tugu sekitar pukul 09:03 menit.
Para penumpang yang turun di Stasiun Tugu, beberapa di antaranya, mendapat pelayanan dari porter. Mengenakan blangkon dan juga kaos polo bermotif batik dengan cekatan para porter menawarkan jasa untuk membawakan barang milik penumpang.
Beberapa penumpang bahkan telah memesan sebelum kereta tiba lewat aplikasi e-Porter dari KAI. Melalui gawai, pelanggan kereta kini tak hanya dapat memesan tiket, dan juga pesanan makanan dan minuman, akan tetapi juga jasa porter.
“Sudah 12 tahun di sini, Mas. Dari sebelum ada penataan, sampai sekarang,” kata Pardi, salah satu porter yang bertugas di Stasiun Tugu.
Belasan porter yang bekerja di Stasiun Tugu tidaklah mendapat gaji bulanan. Honor yang mereka peroleh, sepenuhnya berasal dari penumpang yang menggunakan jasa mereka untuk membawakan tas, kopor, atau bingkisan oleh-oleh yang dibawa para pelanggan moda transportasi kereta api.
“Alhamdulillah, lumayan, apalagi kalau musim liburan. Rejeki yang saya dapat cukup untuk sehari-hari dan menyekolahkan anak-anak,” ucap pria berusia 48 tahun itu.
Meski penghasilan yang diperoleh tak tentu jumlahnya, Pardi dan rekan-rekan porter tetap memberikan pelayanan yang ramah. Senyum dan keramahan khas Yogyakarta selalu terpancar dari rona wajah mereka.
Tak jarang, mereka juga harus menjawab pertanyaan penumpang yang kebingungan tentang peron, atau lokasi fasilitas di Stasiun Tugu. “Ya kalau belum rejeki, ditunggu saja,” ujar Pardi dengan tutur Bahasa Jawa.

Unggulkan Keramahan
Pelayanan dan keramahan memang menjadi ciri khas PT KAI saat ini. Inovasi yang dibawa Ignasius Jonan, yang menjadi Direktur Utama PT KAI tahun 2009 hingga 2014, telah membawa transformasi luar biasa pada moda transportasi kereta api.
Kini, kereta menjadi pilihan utama, karena faktor ketepatan waktu, pelayanan yang ramah, kebersihan. Selain itu, yang terpenting adalah akses yang semakin mudah dijangkau dari gawai atau ponsel pelanggan kereta api.
Dedikasi untuk memberikan layanan terbaik juga tampak dari sosok Hasnafia Ayu Eka Pratiwi. Gadis berumur 23 tahun, yang berdomisili di Gang Sandel, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman tersebut, telah tiga tahun lebih menjadi pramugari kereta.
“Saya sudah bekerja dari tahun 2023. Senangnya, tentu bisa mengikuti perjalanan kereta. Saya juga bisa mengenal berbagai karakter penumpang,” ucap gadis berparas manis ini.
Senyum ramah yang melayani harus menjadi kode etik bagi setiap awak kereta api. Entah itu masinis, pramugara dan pramugari, polsuska,maupun petugas On Train Cleaning (OTC).
“Bagaimana pun juga, walaupun lagi tidak mood, tetapi kita harus tetap memberi pelayanan yang terbaik,” katanya.

Keberlanjutan Inovasi
Pada usia yang menginjak 81 tahun, KAI telah menjelma menjadi penyedia layanan transportasi publik yang andal. Data dari berbagai survei menyebutkan, kereta api menjadi moda transportasi publik yang selalu berada di urutan teratas.
Menurut Manajer Humas Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih, hal itu bukanlah kerja yang dibangun dalam kurun waktu singkat.
“Oh ya. 81 (tahun) KAI melayani sudah semakin banyak, ya. Inovasi yang dilakukan salah satunya kita adalah meningkatkan konektivitas, aksesibilitas transportasi. Jika dulu 10 tahun terakhir kita meningkatkan keselamatan, pelayanan, inovasi. Nah, sekarang kita fokus lebih untuk meningkatkan konektivitas,” kata Feni, Rabu, 23 September siang, saat diwawancarai awak media pada momentum Lomba Tarik Lokomotif di Balai Yasa Yogyakarta.
Melalui tema “Semakin Melayani”, KAI ingin memberi beragam kemudahan, dan kenyamanan bagi masyarakat pengguna kereta api. Feni menyontohkan, di Yogyakarta, Stasiun Tugu menjadi satu-satunya di Indonesia yang menjadi stasiun intermoda.
Stasiun Tugu menggabungkan KA Jarak Jauh, KA Bandara, dan juga kereta Commuter. Selain itu, Stasiun Tugu mempermudah konektivitas dengan transportasi daring demi mempermudah mobilitas pelanggan.
“Intinya, bagaimana masyarakat semakin mudah dalam mengakses layanan transportasi first mile dan juga last mile-nya. Jadi tidak hanya mudah mengakses, tapi juga transportasi lanjutannya juga kita pikirkan agar semakin berkelanjutan. Itu menjadi salah satu concern KAI dan keberlanjutan dan juga konektivitas ini didukung dengan digitalisasi,” ucapnya, menandaskan.
Di tengah peningkatan mobilitas penduduk, dan kemudahan mengakses beragam moda transportasi yang ada di Tanah Air, kereta api terus menjadi pilihan utama masyarakat. Namun, hal itu tak terjadi secara serta merta. Banyak tangan-tangan ikhlas, dan dedikasi seluas samudera yang membuat KAI semakin melayani di usianya yang kini 81 tahun.

Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....