ketika Apem Beras Klebakan Menembus Selera Generasi Z

  • 01 Sep 2026 08:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Aroma harum gurih santan dan gula pasir yang terpanggang perlahan menyapa siapa saja yang melintas di kawasan Klebakan RT 05/RW 03, Salamrejo, Sentolo, Kulonprogo. Dari dapur sederhananya, Kaminem yang akrab disapa Mimin sedang sibuk membolak-balik adonan di atas cetakan cetek berlubang. Kudapan yang dibuatinya bukanlah kue kekinian ala kafe modern, melainkan apem beras, jajanan pasar legendaris yang kini kembali bersinar di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di tangan Mimin, apem beras yang dahulu identik dengan acara tradisi atau jajanan "jadul"(Jaman Dulu) berhasil disulap menjadi kudapan favorit anak muda. Ia jeli menangkap perubahan selera zaman. Menurutnya, agar jajanan tradisional tidak tergerus waktu, kuncinya ada pada tekstur yang ramah di lidah serta kemasan yang bersih dan ciamik.

"Semua orang tahu apem, tapi tidak semua anak muda mau beli kalau tampilannya begitu-begitu saja. Kuncinya ada di rasa yang pas dan cara kita mengemasnya agar mereka bangga saat menikmati kue tradisional," ujar Mimin sembari mengolesi cetakannya Senin, 31 Agustus 2026.

Rahasia kelezatan apem beras Mimin terletak pada ketelatenan proses pembuatannya. Ia memadukan tepung beras bermutu, tepung tapioka untuk memberi sedikit kekenyalan, serta terigu sebagai pengikat adonan. Bahan-bahan tersebut dilarutkan bersama santan kental, gula pasir, telur, dan pengembang kue.

Adonan diaduk hingga benar-benar kalis dan rata, lalu diistirahatkan selama 1,5 hingga 2 jam. Proses proofing atau pendiaman ini menjadi kuncinya; gelembung-gelembung udara kecil yang tercipta membuat tekstur apem menjadi sangat lembut dan bersarang sempurna.

Saat adonan siap, Mimin menuangkannya ke dalam cetakan kue lumpur atau martabak mini yang telah dipanaskan di atas api sedang cenderung kecil. Api yang teratur menjaga agar bagian bawah kue matang membiru keemasan tanpa gosong, sementara bagian atasnya perlahan mengering dan mengembang cantik. Begitu permukaan atasnya terasa padat dan wangi gurihnya memuncak, apem hangat pun siap diangkat.

Langkah kecil yang dilakukan Mimin di Salamrejo ini membuktikan bahwa kuliner warisan leluhur tidak pernah kehilangan daya pikatnya. Lewat sentuhan rasa yang tepat dan kemasan ciamik, Mimin tak hanya menjaga kelestarian apem beras, tetapi juga membakar semangat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Kulonprogo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....