HUT ke-59 SLB Negeri 1 Yogyakarta: Mengabdi Membangun Sekolah Inklusi
- 02 Agt 2026 13:32 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Suasana Taman Budaya Embung Giwangan pada Jumat pagi, 31 Juli 2026 terasa lebih hangat dan membawa semangat. Gelak tawa riang anak-anak memberikan warna bagi setiap orang yang hadir dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-59 SLB Negeri 1 Yogyakarta.
Bukan sekadar selebrasi angka, momentum hampir enam dekade ini menjadi bukti nyata perjuangan merawat asa, mendobrak stigma, dan merajut kemandirian bagi anak-anak berkebutuhan khusus di tanah Mataram.
Mengukir Senyum Nyata di Kota Batik
Mengusung tema besar Meningkatkan Kompetensi Membangun Masyarakat Inklusi, Menjalin Kemitraan dengan Masyarakat Umum untuk Mempersiapkan Kemandirian Sosial dan Ekonomi dalam Tubuh Budaya Mataraman Berbudaya, perayaan ini menegaskan satu pesan kunci: tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang tertinggal.
Kegiatan ini menjadi ajang refleksi atas perjalanan panjang sekolah dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, sekaligus memperkuat sinergi antara sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto Wardoyo memberikan apresiasi mendalam kepada seluruh ekosistem sekolah. Menurutnya, tolok ukur kesuksesan sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari megahnya pembangunan infrastruktur, melainkan sejauh mana negara hadir merangkul kelompok rentan.
"Keberhasilan pemerintah itu terletak pada kemampuan mengurus yang lemah. No one left behind, tidak ada satu pun yang ditinggalkan. Ketika kita mampu mengangkat dan menginklusikan mereka yang lemah, itulah indikator keberhasilan," ujarnya.
Tak berhenti pada apresiasi atas dedikasi para guru dan tenaga kependidikan, Hasto Wardoyo juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mendukung pendidikan inklusif melalui kebijakan pembiayaan pendidikan bagi peserta didik difabel yang ber-KTP Kota Yogyakarta. Ia menegaskan, selain sekolah negeri yang telah bebas biaya, pemerintah juga menanggung biaya pendidikan apabila peserta didik difabel bersekolah di sekolah swasta.
"Kami tidak membedakan berdasarkan desil. Selama merupakan warga Kota Yogyakarta dan penyandang disabilitas, pemerintah akan memberikan dukungan pembiayaan pendidikan, termasuk jika bersekolah di swasta," ucapnya.
Merajut Karakter, Menanamkan Budaya
Kepala SLB Negeri 1 Yogyakarta Jumarsih menyatakan peringatan ulang tahun sekolah bukan sekadar seremoni. Momen ini menjadi sarana untuk mensyukuri perjalanan sekolah dalam memberikan layanan pendidikan khusus yang berorientasi pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kemandirian peserta didik.
Sekolah hadir tidak sekadar mengembangkan potensi siswa di bidang akademik, tetapi juga menjadi ruang dalam pelestarian budaya lokal. Para siswa tidak hanya dikenalkan pada budaya, tetapi juga menjadi pelaku budaya dengan memainkan alunan angklung, menorehkan canting di atas kain, hingga menjadi juru masak ragam kuliner tradisional.
"Anak-anak kami tidak hanya belajar menjadi pintar di kelas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, mencintai budaya, serta memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang akan menjadi bekal mereka di masa depan," ucapnya.
Menurut Jumarsih, tema besar perayaan HUT lahir bukan dari keterbatasan, melainkan menjadi semangat untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat. Hal ini bertujuan agar lulusan SLB memiliki peluang lebih besar untuk hidup mandiri secara sosial maupun ekonomi.
"Kami berharap tema ini mampu membangun kesadaran, edukasi, dan sinergi dari berbagai unsur masyarakat, sekaligus menjadi jembatan transformasi lulusan SLB menuju dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat yang lebih inklusif," ujarnya.
Setitik Asa dari Ruang Kelas
Dampak dari dedikasi dan inklusivitas di dunia pendidikan paling dirasakan oleh para orang tua. Salah seorang wali murid, Puspo Eka Wati, mengakui berbagai fasilitas dan perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dahulu, Puspo Eka Wati menceritakan kepribadian anaknya sangat tertutup (introvert) dan kerap kali menolak untuk pergi bersekolah. Namun, berkat pendekatan para guru yang penuh kesabaran dan kehangatan, harapan untuk mengenyam pendidikan akhirnya terbuka.
"Guru-gurunya sabar, metode belajarnya menyesuaikan kemampuan masing-masing anak. Anak saya tipe introvert, awalnya tidak mau sekolah, sekarang justru senang sekolah. Bahkan saat libur sering bertanya kapan bisa masuk sekolah lagi. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sebagai orang tua," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi wajah Kota Yogyakarta yang kian ramah terhadap disabilitas. Bantuan alat bantu seperti kursi roda yang disesuaikan dengan kebutuhan anak melalui kerja sama dinas terkait dan berbagai lembaga sangat membantu keluarga penyandang disabilitas. Ia juga menilai fasilitas publik di Kota Yogyakarta kini semakin ramah bagi penyandang disabilitas.
"Saya senang karena sekarang pemerintah sudah banyak mendukung teman-teman kami. Masyarakat juga semakin terbuka menerima anak-anak istimewa. Menurut saya, kondisinya sudah jauh lebih baik," ucapnya.
Usia 59 tahun bagi SLB Negeri 1 Yogyakarta bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan fondasi kuat untuk terus menjembatani mimpi anak-anak istimewa menuju dunia yang lebih ramah, terbuka, dan inklusif bagi siapa saja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....