Menelusuri Jejak Tenun Lurik Kurnia yang Masih Setia pada Tradisi
- 08 Jul 2026 19:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah perkembangan industri tekstil modern, Tenun Lurik Kurnia di Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, masih mempertahankan proses produksi menggunakan alat tenun tradisional atau juga disebut alat tenun bukan mesin (ATBM). Usaha ini dirintis oleh Dibyo Sumarto pada 1962.
Berawal dari industri rumahan yang hanya melibatkan anggota keluarga, usaha tersebut berkembang seiring meningkatnya permintaan hingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Kini, estafet usaha diteruskan oleh anak dan cucu Dibyo. Salah satunya adalah Sulis, anak keenam Dibyo, yang masih menjaga keberlangsungan usaha keluarga.
"Awalnya Pak Dibyo merintis usaha di sini, tapi masih kecil, cuma sama teman-temannya. Lama-kelamaan karena banyak yang laku, usahanya bisa berkembang," ujar Sulis saat ditemui di Tenun Lurik Kurnia.
Hingga kini, seluruh proses produksi masih dikerjakan secara tradisional menggunakan ATBM. Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Untuk menghasilkan satu gulung kain lurik sepanjang sekitar 30 meter, para penenun memerlukan waktu sekitar satu minggu.

Mayoritas penenun di Tenun Lurik Kurnia merupakan lanjut usia. Sulis mengatakan, regenerasi menjadi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini karena semakin sedikit generasi muda yang berminat menekuni profesi sebagai penenun.
"Karena sudah tua dan banyak yang meninggal, sekarang tinggal sekitar 30 karyawan. Untuk regenerasi susah juga. Anak muda jarang sekali yang mau karena pekerjaan ini perlu ketelitian," katanya.
Salah satu penenun senior adalah Jumat (80), yang telah bekerja sejak 1972. Meski sempat berhenti untuk menjadi pengayuh becak, ia memilih kembali menenun dan tetap aktif hingga sekarang.
Sementara penenun termuda di Tenun Lurik Kurnia ialah Pariyem (55). Selama 15 tahun bekerja, ia merasakan menenun bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga membuat para pekerja lanjut usia tetap aktif.
"Daripada di rumah cuma duduk-duduk, malah pikirannya enggak sehat. Kalau kerja begini malah lebih sehat, makanya sepuh-sepuh di sini masih sehat," ujar Pariyem.

Selain dikerjakan di lokasi produksi, sebagian proses menenun juga dilakukan di rumah para pekerja. Setelah selesai diproduksi, kain lurik dipajang di showroom dan dipasarkan dalam bentuk kain maupun berbagai produk kerajinan, seperti tas, dompet, hingga pakaian. Pembeli juga dapat memesan motif maupun produk sesuai kebutuhan.
Saat ini, pemasaran Tenun Lurik Kurnia masih didominasi wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Meski belum merambah pasar ekspor, Tenun Lurik Kurnia terus berupaya menjaga kelestarian warisan budaya melalui proses produksi tradisional yang tetap dipertahankan hingga kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....