Menggapai "Dalan Padang", Kisah Mbah Sis Melepas Kuliner Legendaris Sengsu di Jogja

  • 08 Jul 2026 16:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kebutuhan ekonomi bukan hal utama dalam menghalalkan segala cara bagi setiap manusia menjajaki kehidupannya di dunia. Hal ini terlihat dari salah satu warung yang berada di bagian sudut perkampungan di Kota Yogyakarta.

Bagi sebagian pecinta kuliner ekstrem di tahun 80-an hingga 2000-an, pasti mengetahui warung tongseng jamu di jalan Prof. Dr. Amry Yahya, Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Warung kecil yang sempat berjaya pada eranya ini, menjadi salah satu kuliner legendaris yang menawarkan tongseng daging anjing atau akrab masyarakat menyebut tongseng jamu atau "Sengsu" (Tongseng Asu).

Berdiri sejak tahun 1977, kala itu warung yang dikelola mbah Sis (74) memiliki banyak pelanggan. Pecinta kuliner ekstrem ini datang tidak hanya dari wilayah Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Saat tiba di warung, kami berbincang bersama Putri kedua Mbah Sis, Maryati (45). Ia pun mengenang awal munculnya kuliner ekstrem ini.

"Kami tinggalnya dulu (jualan) di dalam pasar, terus direhab kami pindah sebelah Timur pasar," katanya, menceritakan.

Namun, roda nasib dan hidayah mengubah segalanya. Kini, kepulan asap dari wajan warung tersebut tidak lagi membawa aroma yang sama.

Mbah Sis dan anak-anaknya memilih banting setir dan membuang jauh-jauh bisnis yang telah menghidupi keluarga mereka selama hampir setengah abad, demi mengejar apa yang mereka sebut sebagai dalan padang (jalan yang terang).

Titik Balik di Balik Ruang Isolasi

Seberkas hidayah hadir, mengetuk disaat musibah menghampiri. Bagi keluarga mbah Sis seberkas cahaya hadir, kala badai pandemi Covid-19 melanda sekitar penghujung tahun 2019.

Kala itu, mbah Sis dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala berat sehingga harus mendapatkan perawatan di ruang isolasi RSUP Dr. Sardjito.

Maryati mengisahkan saat itu, bisnis yang dijalankan ibunya terbilang sangat laris, bahkan sebagian pelanggannya menyebut warung legendaris. Maryati menceritakan saat itu keluarga hanya bisa di rumah dan berdoa mengharap kesembuhan untuk ibunda tercinta.

"Itu udah di antara hidup dan mati, udah enggak ada harapan gitu lho, udah diisolasi di Sardjito, keadaannya udah enggak sadar, jadi enggak bisa apa-apa, diisolasi. Keluarga di rumah kan mung nangis wae, mung donga muga-muga dikei sehat. Wong soale kan kebanyakan kan waktu itu yang diisolasi itu mesti meninggal gitu lho, harapan hidup itu tipis banget," ujarnya.

Namun, keajaiban itu nyata bisa hadir bagi seseorang, seperti mbah Sis yang akhirnya dinyatakan sembuh. Bagi mbah Sis dan keluarga, kesembuhan ini tidak dilihat sebagai kebetulan semata, melainkan sebagai "kesempatan kedua" yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

"Alhamdulillah terus dari itu, kita kan rumangsa (merasa) dikasih kesempatan gitu loh, kasihan ibu saya, kalau jualan kayak gini. Terus kita berubah pikiran untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya, hidupnya lebih baik menurut ajaran agama," katanya, sembari menyela air mata haru.

Hidayah tidak serta merta datang dan langsung diambil. Pergolakan batin antara keinginan duniawi atau mengejar keberkahan diakui Maryati tetap ada, pasca kesempatan kedua tersebut.

Berbekal tekad kuat untuk hidup dengan lebih baik sembari menata hati untuk menjalani keberkahan, akhirnya tahun 2021 diputuskan untuk mengganti tongseng jamu menjadi tongseng ayam dan sapi.

Tidak tanggung-tanggung, kesungguhan untuk menjemput hidaya tersebut dilakukan tidak hanya merombak menu. Tetapi seluruh warung direnovasi mulai dari pengecatan ulang hingga mengganti seluruh alat masaknya.

"Kalau mikir uangnya itu ketoke eman-eman (kayaknya sayang). Tapi kan kita mikir ke depannya, kehidupan selanjutnya toh. Mau jadi lebih baik itulah intinya," katanya, mengungkapkan.

Jalan Terjal Menuju Suatu Perubahan

Tekad kuat terkadang tidak diiringi jalan yang mulus, hal ini menjadi kiasan yang mungkin dilalui Maryati. Menurutnya, pasca perubahan yang dilalui, rintangan dihadapi silih berganti, mulai dari merosotnya omzet pendapatan, hingga harus menunggu konsumen yang tidak pasti kapan datangnya.

"Pas pertama kali buka itu saya njeblok banget (omzet anjlok). Tapi udah, nanti rezeki nek udah diatur sama Gusti Allah gitu. Prinsipe pokokmen itu tadi, hijrah menjadi lebih baik," ujarnya, menyampaikan.

Keputusan untuk hijrah tentu bukan perkara mudah, terutama jika harus mengorbankan bisnis yang secara ekonomi sangat mapan. Saat masih berjualan Sengsu, warung Mbah Sis bisa menghabiskan 30 hingga 40 kilogram daging anjing hanya dalam satu malam.

"Dulu bukanya sore jam sepuluh sudah habis tutup," ucapnya, mengenang.

Maryati mengakui, setelah merubah orientasi bisnisnya menjadi menu halal sekitar 5 tahun, masih ada pelanggan yang dulu menanyakan menu lama. Bahkan tidak sedikit yang menyayangkan adanya perubahan menu.

"Ngopo toh Mbak wong laris-laris kok nganu eman-eman po? kok ndadak ganti, padahal kae laris banget loh ngopo kok pindah. Banyak yang kecelik juga pesen tongseng jamu," ujarnya, menambahkan.

Setelah lima tahun berjalan (2021–2026), perlahan tapi pasti warung tongseng sapi dan ayam Mbah Sis mulai menemukan pelanggannya yang baru. Meski bumbunya tetap mempertahankan resep legendaris warisan keluarga yang kaya rempah, kini warungnya jauh lebih inklusif. Banyak pelanggan muslim, mahasiswa, hingga perempuan berhijab yang kini tak ragu bersantap di sana.

"Kalau sekarang merangkak dikit-dikit, tapi udah lumayan daripada pas pertama kali buka. Banyak pelanggan yang dulu juga terus nyobain terus mau, kan rasanya sama cuma dagingnya aja yang beda," katanya, membeberkan.

Mbah Sis sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah untuk beristirahat, sementara operasional warung diserahkan kepada anak-anaknya. Walau sesekali Mbah Sis masih suka mampir ke warung sekadar untuk melepas rindu dengan suasana pasar yang telah membesarkannya.

Bagi keluarga ini, kehilangan omzet puluhan kilogram daging per malam tidak ada apa-apanya dibanding ketenangan batin yang mereka miliki sekarang. Kini perjuangan menjemput "dalan padang" menjadi landasan utama melanjutkan bisnis kulinernya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....