Modal Bukan Hambatan, Kisah Slamet Riyadi Rintis Usaha dari Rp350 Ribu

  • 01 Jul 2026 12:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di balik tenangnya suasana pedesaan dengan pagar bukit yang membentang tepat di belakang Padukuhan Karang Kulon, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terselip kisah menarik hadirnya industri kerajinan rumahan, di salah satu bangunan yang berdiri kokoh menopang perekonomian sebagian masyarakat.

Tumpukan perhiasan, logam mulia, hingga deretan alat rias yang berserakan di atas atau di dalam laci meja, bagi sebagian orang mungkin hanyalah sebuah pemandangan lumrah sehari-hari. Namun, dari bangunan ini carut-marut pernak-pernik tersebut menjadi sebuah peluang bisnis yang menjanjikan ketertiban sekaligus estetika.

Dari sinilah, kisah perjuangan Slamet Riyadi dimulai. Ayah dua orang anak ini, sukses menyulap lembaran karton tebal dan kulit sintetis menjadi produk bernilai jual tinggi.

Melalui bendera Griya Handicraft, dua bahan utamanya ini menjadi sebuah karya box organizer atau kotak pengorganisasi premium, yang kini jamak menghiasi meja rias kaum hawa dari ujung barat Aceh hingga pelosok Papua.

Bukan waktu singkat bagi Riyadi untuk mengambil sebuah perubahan penting dalam mewarnai kisah hidupnya. Bermula dari menimba ilmu sebagai buruh perajin kotak berlapis kulit asli di kawasan Kotagede, Yogyakarta, ia mampu menguasai seluruh rantai produksi dari nol hingga tahap penyelesaian (finishing).

"Jadi dari tahun 2008 kita ikut owner-owner di beberapa kota Yogyakarta, dari situlah kita mulai hobi untuk mengembangkan sebuah bisnis. Di tahun 2014 kita mulai mandiri sendiri untuk membuat beberapa desain dengan karya-karya sendiri, jadi tidak menjiplak dari owner yang kita ikuti saat itu," katanya, mengenang perjalanan awal usahanya.

Pasang surut dalam mengarungi lautan bisnis, asam garam ditelan menjadi sebuah tekat yang kuat dalam membangkitkan semangat pria berusia 45 tahun ini untuk berjuang menapaki lini usaha yang saat ini mampu menggandeng 6 karyawan yang merupakan warga sekitar.

Merintis Bisnis Membutuhkan Tekad Kuat

Bermodal uang yang terbilang nekat Rp 350.000, Riyadi memulai impiannya dengan membeli bahan baku. Dari modal cekak itu, ia berhasil melahirkan 8 buah produk pertama yang semuanya ia kerjakan secara manual dengan tangan sendiri.

"Modal awalnya itu Rp350 ribu. Jadi sekitar delapan barang saat itu, karena juga di saat itu kan harga bahan masih relatif terjangkau," ucapnya.

Pandemi Titik Balik Griya Handicraft Perdalam Digitalisasi

Pada awal berdirinya, Griya Handicraft lebih banyak bergerak di balik layar. Mereka menjadi pemasok utama. bagi para reseller lokal di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Meski sudah melirik platform e-commerce Shopee, tetapi diakui Riyadi, pada tahun 2015 lebih banyak melayani offline, sedangkan e-commerce hanya sekadar membuka toko online dan tidak dikerjakan secara serius.

"Waktu 2015 itu buka Shopee cuma modal otodidak. Pengetahuan kurang, tidak tahu apa itu optimasi foto, judul, atau kata kunci. Jadi ya tokonya terbengkalai, cuma laku satu-dua barang, karena kami memang tidak fokus ke sana," ujarnya, mengungkapkan.

Titik balik yang memaksa Griya Handicraft untuk berubah total terjadi saat pandemi Covid-19 melanda pada kurun waktu 2019-2020. Sektor pariwisata dan ekonomi Jogja lumpuh. Pesanan suvenir dari instansi pemeyang biasanya menjadi ladang rezeki para reseller mitra Riyadi, dialihkan seluruhnya untuk anggaran kesehatan. Pesanan fisik seketika mati suri.

Namun di tengah impitan tersebut, Riyadi menolak untuk menyerah pada keadaan. Di tahun 2021, ia memberanikan diri berinvestasi pada pengetahuan. Ia meng-upgrade diri dengan mengikuti berbagai kelas pelatihan optimasi penjualan digital.

Hasil dari kuliah kilat yang dijalani Riyadi pun, berbuah manis. Penataan ulang konsep foto yang menarik ditambah strategi iklan yang tepat, Griya Handicraft langsung menyabet predikat Star Seller pada dua bulan pertama. Langkah inipun semakin melesat di empat bulan berikutnya, menjadi Star Plus.

"Shopee sangat membantu kami, terutama karena transparansi datanya jelas, baik untuk iklan, campaign, hingga urusan ganti rugi jika ada barang hilang di ekspedisi. Apalagi, promosi yang kita gunakan di Shopee fitur-fiturnya itu ada kayak voucher terus ikut kampanye juga sama iklan tentunya," ucapnya, membeberkan.

Tim kerja di Griya Handicraft tengah menyiapkan pesanan yang merambah pasar Nusantara lewat platform e-commerce Shopee. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Titik balik yang terjadi dalam proses bisnisnya, mampu mempertahankan tim kerja yang setia membersamai Griya Handicraft sejak tahun 2015. Bahkan, tiga orang yang sebelumnya berada bekerja dalam tim, kini bisa mengikuti langkahnya dan menjadi mitra kerja.

"Dulu kerja tempat saya, terus sudah sesuai kualitasnya sudah sama, kuantitasnya per minggu sudah mencukupi, akhirnya saya lepas tapi tetap sebagai mitra saya. Kalau tim saya semuanya dari warga sekitar," ucapnya.

Kepedulian Sosial Menjadi Salah Satu Dorongan Griya Handicraft

Keinginan mandiri menghidupi untuk membangun usaha tidak lantas menjadi tujuan utama bagi Riyadi. Tetapi ada dorongan nyata yang mengiringi lingkungan tempat tinggalnya, ialah masalah sosial yang terjadi juga menjadi salah satu alasannya untuk menjadi seorang perintis.

"Saat itu karena kita juga memikirkan di area sekitar, jadi kita terdorong dari faktor sosial. Ada banyak anak-anak muda yang menganggur daripada dia jadi pengangguran, biar belajar-belajar tempat saya seperti itu. Yang jadi motivasi di awal-awal seperti itu," ujarnya.

Menjaga Kualitas dan Terus Berinovasi Menjadi Kunci

Beragam produk yang hampir serupa di e-commerce Shopee tidak lantas menyurutkan semangat perjuangan Riyadi. Ia membeberkan, bahwa rahasia kekuatan produknya terletak pada pemilihan bahan baku. Ia menggunakan karton bot tebal dikombinasikan dengan kayu lapis, lalu dibungkus kulit sintetis Grade A serta bagian dalam berlapis kain beludru halus.

"Kami pakai Grade A agar awet, tidak mudah sobek, dan warnanya tidak pudar. Istri saya sering beli tas yang 3-4 bulan kulitnya sudah mengelupas sendiri, nah saya tidak mau produk saya seperti itu. Konsumen tidak akan kembali kalau kualitasnya asal-asalan," ujarnya, mengungkapkan.

Sejumlah produk yang dijual Griya Handicraft. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Memiliki produk unggulan yang laris di pasaran, Griya Handicraft fokus pada produk beauty case (tempat rias) dan kotak perhiasan. Produk paling laris (best seller) mereka adalah Beauty Case Makeup ukuran L dan M yang dibanderol di kisaran harga Rp150.000 hingga Rp180.000. Untuk varian tertinggi yang dilengkapi lampu LED tiga warna, harganya mencapai Rp300.000.

Peningkatan omzet digital ini otomatis mengerek kapasitas produksi. Jika dulu mereka menggunakan alat semprot cat dan mesin jahit kecil, kini Griya Handicraft sudah beralih ke mesin produksi berskala yang lebih tinggi. Per minggu, mereka mampu memproduksi 400 hingga 500 unit barang, dengan volume pengiriman berkisar antara 225 hingga 280 resi setiap minggunya. Jika dirata-rata harian, toko online mereka konsisten mengirimkan 40 hingga 50 paket, dan melonjak hingga 110 paket per hari pada momen pasca-Lebaran, termasuk saat tanggal kembar.

"Di Shopee ada juga yang bisa PO kan, nah itu biasanya yang sesuai kebutuhan. Misalnya dia custom ukuran, custom model itu bisa, kemudian kita diskusikan dengan tim, kemudian kita kerjakan," katanya, melanjutkan.

Bagi Riyadi, tantangan terbesar dalam bisnis online, bukanlah permodalan atau bahan baku. Melainkan kecepatan untuk terus meng-upgrade diri dan membaca tren pasar.

Setiap beberapa bulan sekali, Griya Handicraft selalu melakukan riset pasar untuk melihat apa yang sedang dibutuhkan konsumen. Salah satu inovasi teranyar selain kotak rias yang dilengkapi LED, dan siap diluncurkan dalam waktu dekat adalah kotak khusus penyimpanan Logam Mulia (Antam/UBS).

Berbeda dengan kompetitor di pasaran yang hanya menyediakan slot untuk kartu emas, kotak lansiran Griya Handicraft ini dirancang hibrida, lengkap dengan tempat cincin dan kalung di dalamnya. Tak hanya inovasi produk, lini pemasaran pun mulai bersiap merambah tren kekinian.

"Sekarang promosi juga lewat affiliate karena mereka lebih paham cara bikin konten kreatif. Ke depan, kami akan gandeng rekanan untuk fokus di pembuatan konten dan live streaming jualan," ujarnya, optimistis.

Dari sebuah modal kecil dan niat tulus mengurangi pengangguran di desa, Slamet Riyadi telah membuktikan bahwa kotak-kotak kecil buatannya tidak hanya merapikan perhiasan para pelanggannya, tetapi juga berhasil menata masa depan ekonomi warga di sekitarnya. Dari sebuah rumah produksi sederhana kita belajar bahwa semangat dan pengalaman bisa menciptakan suatu perubahan dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....