Kisah Ananto si Ustad Sampah

  • 23 Jun 2026 14:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Julukan Ustad Sampah Indonesia yang pada diri Ananto Isworo, bukan tanpa alasan. Alumni Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UMY ini, berhasil membesarkan Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eco-Masjid.

Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eco-Masjid yang dimulai pada tanggal 9 Juli 2013 itu, kini sudah menjadi gerakan nasional yang diterapkan di sejumlah daerah. Sosok Ananto, memandang sampah bukan sebagai limbah.

Namun, perjalanan awal Ananto memulai Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eco-Masjid sempat dipandang aneh. Bahkan, sejumlah media internasional menilai gagasan tersebut sebagai sesuatu yang unik dan tidak biasa.

Namun baginya, masjid justru menjadi pilihan yang tepat untuk mengubah sesuatu yang dianggap kotor, menjadi bermanfaat bagi sesama. Karena sejatinya, masjid itu tempat bagi manusia untuk memperbaiki diri.

”Maka, sampah yang biasanya dianggap barang yang kotor juga bisa dibersihkan,” katanya, Selasa, 23 Juni 2026. ”Setelah bersih, kemudian diberi nilai baru, lalu menjadi lebih bermanfaat bagi pendidikan, kesehatan, dan juga aspek kemanusiaan.”

Seiring waktu, gerakan tersebut berkembang menjadi Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI). Gerakan tersebut, sudah direplikasi berbagai komunitas lintas agama, sekolah, perguruan tinggi, hingga rumah ibadah di berbagai daerah.

Ananto mengakui, keberhasilannya mengembangkan gerakan lingkungan berbekal ilmu, selama kuliah di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UMY. Pemahaman tentang ilmu komunikasi membantunya menerjemahkan pesan-pesan agama yang sering kali dianggap abstrak.

”Saya mencoba membuat Al Quran mudah dipahami melalui bahasa sederhana,” ucapnya. ”Sebab, Al-Qur’an dan hadis adalah bahasa langit, tugas kita menerjemahkannya menjadi bahasa manusia yang bisa dipraktikkan.”

Kemampuan berbicara di depan publik dan menyusun pesan yang dipelajari selama kuliah membuatnya mampu menjelaskan konsep sedekah sampah kepada berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat akar rumput hingga akademisi.

Ia pun meyakini, bahwa aksi nyata jauh lebih kuat dibandingkan sekadar retorika. ”Seribu kata kadang tidak cukup meyakinkan orang, tapi satu aksi nyata bisa membuat masyarakat percaya.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....