Dua Dekade Gempa: Siapkah Jogja untuk Selamat
- 25 Mei 2026 17:29 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Raut wajah sendu tampak terlihat dari sorot mata Wiwik Marmiati, saat mengenang kejadian gempa di Bantul dua puluh tahun lalu, yang mengubah hidupnya dalam sekejap. Perempuan berusia 50 tahun itu, kini hanya mampu menggerakkan separuh badannya. Separuhnya lagi, bergantung pada kursi roda yang menemaninya sehari-hari. Sesekali pandangannya kosong, seolah ingatan tentang reruntuhan rumah, teriakan warga, dan rasa sakit yang menimpanya pagi itu kembali berputar di kepalanya.
Kejadian gempa yang mengguncang Bantul pada 27 Mei 2006, rupanya meninggalkan bekas trauma yang teramat dalam bagi Wiwik. ‘’Sampai sekarang mungkin nggak bisa hilang, nggak bisa melupakan yang pasti sampai sekarang,’’ ucapnya sambil menyeka air mata yang menetes perlahan di pipinya.
Kala itu, hari Sabtu pagi. Artinya hari gajian bagi Wiwik, yang merupakan seorang buruh pabrik. Pagi itu, seharusnya berjalan seperti biasa. Ia bangun lebih awal, menyiapkan diri dan membangun semangat di hari gajian. Namun, tak disangka, ternyata menjadi penanda terakhir dari kehidupan yang utuh seperti sebelumnya.
”Setu-setu arep bayaran, semangat, Mbak. Terus menyiapkan sarapan suami. Bikinin minum. Ya itu, terus kejadian itu, Mbak. Semuanya berubah,’’ ucapnya seolah tak percaya, walau kejadian sudah berlalu dua puluh tahun lamanya.
Wiwik mengaku, hingga kini ia masih mengingat jelas detik-detik saat dirinya tertimbun reruntuhan tembok rumahnya. Peristiwa itu bukan hanya mengubah hidupnya secara fisik, tetapi juga mengguncang batinnya.
Di tengah himpitan reruntuhan tembok, ia justru tidak merasakan sakit seperti yang dibayangkan banyak orang. Tidak ada sesak, tidak ada rasa nyeri yang tajam. Baginya, pengalaman itu menjadi momen yang membuatnya benar-benar memahami betapa besar kuasa Tuhan.
Saat proses evakuasi dilakukan, suaminya berusaha menarik tubuhnya keluar dari reruntuhan. Di momen itulah, ia mulai menyadari ada yang berbeda pada tubuhnya.
“Waktu ditarik sama suami saya, saya cuma bilang, sikilku keri mas.. kaki saya rasanya seperti tertinggal. Soalnya saya bener-bener sudah nggak merasakan apa-apa,” katanya.
Ia mengaku tak lagi bisa merasakan keberadaan kedua kakinya dari bagian perut ke bawah. Namun di tengah kepanikan itu, suaminya terus berusaha menenangkan.
“Suami saya bilang, wis tak gowo Nok. Terus saya gremeng-gremeng sendiri, loh, sikilku wutuh kabeh. Kaki saya sebenarnya masih utuh semua, tapi saya benar-benar sudah nggak merasakan kalau saya punya kaki,” ujarnya.
Sejak saat itu, hidup Mbak Wiwik berubah. Reruntuhan tembok yang menimpanya tak hanya melumpuhkan tubuhnya seketika, tetapi juga meninggalkan ingatan yang akan terus ia bawa sepanjang hidupnya.
Bagi Wiwik, tidak ada kata benar-benar siap menghadapi gempa. Bencana itu datang tanpa aba-aba, tanpa ada yang tahu kapan terjadi dan di mana seseorang sedang berada saat itu. Pengalaman tertimpa reruntuhan membuatnya memahami bahwa kepanikan adalah hal yang sulit dihindari. “Kalau dibilang siap, ya nggak siap, Mbak. Orang gempa itu nggak ada yang tahu kapan datangnya,” ujarnya. Baginya, pengalaman masa lalu membuat rasa trauma itu sulit benar-benar hilang.
Hidup di atas Sesar Opak

Yogyakarta, sebagai kota budaya, kota pelajar, juga tempat yang sering dirindukan sebagai tempat pulang. Namun, di balik itu, Yogyakarta menyimpan satu fakta yang jarang disadari. Penyebab gempa dua puluh tahun lalu bukanlah sekadar kebetulan.
Ada sesar aktif yang membentang di wilayah Yogyakarta. Namanya adalah Sesar Opak, yang terus bergerak diam-diam di bawah bumi Mataram. Sesar ini membentang dari wilayah utara hingga Selatan Yogyakarta, melintasi Kabupaten Bantul. Pusatnya berada di sisi timur Sungai Opak, yaitu pada Kawasan Zona Sesar Opak.
Hari itu, tim RRI bersama tim Stasiun Geofisika Kelas I Sleman meninjau langsung lokasi kemunculan Sesar Opak yang tampak di permukaan tanah, tepatnya di kawasan Bukit Mengger, Jetis, Bantul. Dari lokasi tersebut, jejak patahan yang membelah wilayah Yogyakarta menjadi pengingat bahwa daerah ini berada di kawasan yang memiliki aktivitas kegempaan tinggi.
Ketua Tim Pengembangan dan Inovasi MKG, Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Dr. Nugroho Budi Wibowo, S.Si., M.Si. menjelaskan, secara umum Yogyakarta memiliki dua sumber utama pemicu gempa bumi. Yang pertama berasal dari aktivitas subduksi lempeng di selatan Pulau Jawa, tepatnya di wilayah laut selatan DIY. Sementara sumber lainnya berasal dari jalur sesar aktif yang berada di daratan.
‘’Jadi sangat mungkin akan terjadi perulangan kejadian gempa dengan magnitude yang sama seperti pada tahun 2006. Tapi pertanyaannya kemudian kapannya? Nah itu yang memang belum bisa dijawab saat ini. Tapi setidaknya ketika kita tahu ada lokasi sumber gempanya di mana, kemudian potensi magnitudenya berapa, meningkatkan kapasitas diri masyarakatnya itulah yang jadi penting,’’ ucapnya.
Menurutnya, Yogyakarta dilalui jalur sesar aktif yang memanjang dari kawasan sekitar Pantai Parangtritis hingga wilayah Prambanan, dengan orientasi barat daya ke timur laut sepanjang kurang lebih 40 kilometer. Keberadaan jalur sesar inilah yang menjadikan masyarakat perlu terus membangun kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa bumi di masa mendatang.
Pasca gempa besar tahun 2006, kemampuan pemantauan aktivitas kegempaan di wilayah Yogyakarta terus mengalami peningkatan signifikan. Khususnya di kawasan Sesar Opak, berbagai penguatan teknologi dilakukan agar pergerakan gempa dapat terdeteksi lebih cepat dan lebih detail dibanding sebelumnya.
Budi juga menjelaskan, saat ini pihaknya telah mampu memantau aktivitas gempa berskala sangat kecil di sekitar Sesar Opak, bahkan hingga magnitudo rendah.
“Pasca 2006 ada peningkatan yang signifikan terhadap aktivitas monitoring kegempaan, khususnya di Sesar Opak. Saat ini kita sudah mampu memonitor aktivitas Sesar Opak dengan magnitudo kecil. Kalau dianalogikan seperti jaring ikan, dulu mungkin kita hanya memakai jaring biasa, sekarang seperti memakai pukat harimau. Artinya ikan-ikan kecil pun bisa tertangkap. Begitu juga dengan gempa-gempa kecil, sekarang bisa terdeteksi,” katanya kepada RRI, di lokasi Bukit Mengger sambil menunjukkan beberapa lokasi pendeteksi gempa.
Menurutnya, kemampuan mendeteksi gempa-gempa kecil tersebut membuat analisis aktivitas kegempaan di sekitar Sesar Opak menjadi jauh lebih presisi. Data yang lebih rinci diharapkan dapat membantu proses mitigasi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Gempa Tidak Membunuh

Dari sekian penjelasan, begitu banyak muncul pertanyaan. Setelah dua dekade berlalu apakah warga Yogyakarta sudah benar-benar belajar? Apakah Yogyakarta hari ini sudah bersiap dibandingkan tahun 2006 lalu?
Kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, menurut Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Ardhianto Septiadi, sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana di lingkungan terdekat. Cara paling mudah adalah mengenali kondisi rumah dan mengetahui titik aman yang bisa digunakan untuk berlindung ketika gempa terjadi.
Ia menjelaskan, saat merasakan guncangan, masyarakat tidak disarankan panik dan langsung berlari keluar. Sebaliknya, warga perlu segera mencari perlindungan di bawah perabot yang kuat sambil menerapkan prinsip mitigasi “drop, cover, and hold”.
“Paling gampang kita perlu mengenali lingkungan kita sendiri. Di rumah misalnya, kita harus tahu mana meja atau bangunan yang kuat untuk berlindung. Ketika ada getaran, jangan langsung keluar, tapi berlindung dulu di tempat yang aman. Terapkan drop, cover, and hold. Drop itu merunduk, cover melindungi kepala, dan hold bertahan sampai guncangan selesai. Setelah itu baru keluar dengan tertib sambil terus memperbarui informasi dari instansi terpercaya seperti BMKG maupun BPBD,” kata Ardhi.
Dari sisi pemantauan kegempaan, ia memastikan sistem observasi gempa di Indonesia kini jauh lebih siap dibanding sebelumnya. Berdasarkan kajian kebutuhan nasional, Indonesia setidaknya memerlukan sekitar 500 alat seismograf untuk memantau aktivitas gempa bumi. Saat ini, jumlah perangkat yang terpasang bahkan telah melampaui angka tersebut.
Menanggapi masih banyaknya masyarakat yang hidup dalam rasa takut pascagempa, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Ardhi mengajak masyarakat untuk tidak larut dalam ketakutan berlebihan. Menurutnya, yang terpenting adalah membangun kesiapsiagaan dan membiasakan diri memahami langkah mitigasi sejak dini.
Ia menegaskan, gempa bumi pada dasarnya bukanlah penyebab utama jatuhnya korban jiwa. Risiko terbesar justru muncul ketika masyarakat tidak siap menghadapi bencana, panik saat terjadi guncangan, atau tinggal di bangunan yang tidak memenuhi standar keamanan.
“Kita tidak perlu takut. Gempa itu tidak membunuh. Yang membunuh adalah kita tidak siap, kita tidak membangun bangunan yang benar, kita panik. Jadi poinnya adalah gempa itu tidak membunuh. Mari kita bangun bangunan yang benar. Mari kita siaga bareng dan itu menjadi habbit yang harus kita latih secara terus menerus dan konsisten selama kita tinggal di dekat sumber gempa tetonik,'' ujarnya.
Bagi sebagian orang, gempa bukan sekadar kemungkinan, tapi pengalaman yang terus melekat hingga hari ini. Sementara itu, ilmu pengetahuan memberikan kejelasan, bahwa gempa bisa kembali terjadi. Pada akhirnya kesiapan bukan lagi pilihan, tapi menjadi sebuah kebutuhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....