Secercah Harapan Bagi Azizah, Si Mungil Tulang Punggung dan Penjaga Sang Ayah

  • 22 Apr 2026 20:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di balik riuh gerobak rosngok dan debu jalanan, terselip sebuah kisah yang menggetarkan. Azizah Chandrasari, seorang bocah berusia taman kanak-kanak, harus merelakan masa bermainnya untuk memulung.

Bukan karena ia ingin, melainkan karena keadaan memaksa tangan mungilnya untuk memanggul beban hidup saat sang ayah, Hermanto (atau akrab disapa Siman), tak lagi berdaya melawan sakit.

Kisah Azizah merupakan potret getir kemiskinan urban. Namun sekaligus menjadi pengingat bahwa di Yogyakarta, kemanusiaan tidak mengenal batas kartu identitas.

Seberkas harapan untuk si kecil hadir saat Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo hadir di Rumah Singgah Bumi Damai, Purbayan, Kotagede, Minggu, 19 April 2026. Tidak hanya sekadar melakukan kunjungan kedinasan, tetapi Sang Dokter juga melakukan pengecekan pada benjolan di kepala yang diderita pak Siman.

Benjolan ini merupakan sebuah tumor yang setahun terakhir membuat pria asal Lubuk Linggau itu sering jatuh sakit dan tak mampu menafkahi keluarganya.

Hasto menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi seperti kesehatan dan pendidikan. Kemantren, Kelurahan dan pengurus wilayah di kampung diharapkan memperhatikan jika ada warga terlantar dan memastikan kebutuhan dasar hidup terpenuhi.

"Pemerintah di mana saja wajib untuk memperhatikan itu. Pemerintah harus hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar wajib ya kesehatan, ya pendidikan," ujarnya.

Diharapkan kasus anak TK, Azizah Chandrasari yang terpaksa memulung untuk membantu ayahnya karena sakit, tidak terjadi. Kisah Azizah itu viral di berbagai media dan menjadi perhatian.

Meski bukan warga KTP Kota Yogyakarta, tetapi harapan itu tetap dibawa Hasto dan dinas terkait di Pemkot Yogyakarta untuk membantu mereka. Terutama terkait kesehatan dan pendidikan serta kehidupan yang layak untuk anak.

Siman serta anaknya Azizah dan adik Agip kos di wilayah Giwangan. Siman sendiri ber-KTP di Jomblangan, Banguntapan, Bantul. Hasto menegaskan, Pemkot Yogyakarta terhadap warga KTP mana pun, kalau ada masalah di wilayah kota berupaya membantu mengurus.

Apalagi melihat anak kecil seperti Azizah yang usia sekolah, kemudian tidak sekolah. Ia mengaku bersyukur, karena Yayasan Bumi Damai yang menjadi salah satu Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak di Kota Yogyakarta mitra Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Yogyakarta juga merespon untuk menjamin pengasuhan dan pendidikan Azizah serta adiknya.

"Makanya Azizah sama adiknya ini, pemerintah hadir memenuhi kebutuhan pendidikan dan kebutuhan kesehatannya. Tidak boleh diajak kerja dulu nanti dia tidak sekolah dan tidak terurus kesehatannya," ucapnya.

Bantu pengobatan

Siman yang bekerja sebagai pencari rosok atau pemulung dan tidak memiliki rumah ini bertahan dengan berpindah-pindah kos. Pemkot Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan telah membantu mengaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatan Siman.

Siman akan dirujuk ke RS Jogja untuk pengobatan lebih lanjut karena Siman mau berobat dan dioperasi. Siman juga rela anaknya diasuh di Rumah Singgah Bumi Damai.

"Urusan wajib dasar itu harus diselesaikan. Apalagi kalau warga Kota. Wong bukan warga kota saja kita dengar juga, kita harus bantu menyelesaikan," ujarnya, mengungkapkan.

Upaya dalam membantu masyarakat yang tinggal di Kota Yogyakarta ini juga akan dilakukan dengan mengomunikasikan dengan Pemerintah Kabupaten Bantul untuk turut menyelesaikan. Termasuk kepesertaan BPJS juga dibantu diaktifkan kita menghubungi Bantul untuk mengaktifkan.

"Jadi prinsipnya itu kita membantu kehidupan jangan mengenal wilayah. Kalau kita merawat satu kehidupan sama dengan merawat semua kehidupan," ucapnya, menerangkan.

Selain membantu aktivasi BPJS Kesehatan, bantuan konkret juga akan diberikan Hasto melalui Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai untuk membantu pengasuhan anak-anak yang menjadi sasaran.

Menurutnya kasus Azizah tidak terpantau sejak awal karena bukan penduduk KTP Kota Yogyakarta, sehingga tidak menjadi pantauan RT RW kelurahan karena tidak ada datanya, tetapi setelah dicek Siman yang berasal dari Lubuk Linggau Sumatera terdata memiliki KTP Jomblangan, Banguntapan, Bantul.

"Maka kami itu keliling tiap minggu bedah rumah itu sebetulnya untuk memastikan bahwa di kota ini tidak ada orang yang tidak layak hidup atau hidupnya tidak layak. Harus diangkatlah. Makanya kita selalu sampaikan seperti itu agar tidak ada lagi nanti Azizah-Azizah yang lain," ujarnya, menegaskan.

Apresiasi bantuan

Dukungan yang diberikan Pemkot Yogyakarta bagi keluarganya ini, disambut baik Siman. Diakuinya, Azizah pernah bersekolah di Taman Kanak-kanak, hanya saja benjolan di kepalanya yang awal mulanya kecil kian hari bertambah besar dan menimbulkan rasa sakit.

Bahkan rasa sakit ini kian terasa selama setahun terakhir, sehingga sosok si mungil Azizah terpaksa harus membantu memulung dan mengurus rumah, karena istrinya sudah tidak hidup bersama.

"Saya sangat senang dibantu untuk anak-anak saya dan juga untuk mengobati penyakit saya. Ya sangat-sangat terima kasih sama Pak Wali Kota mau ngangkat penyakit yang di atas kepala saya ini," ucapnya.

Pengurus Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Hana Qotrunada menyampaikan, bahwa pemilik Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai Ipda Ali Nur Suwandi berkunjung ke kos yang ditempati Azizah, ayah, dan adiknya. Melihat kondisi tersebut akhirnya dibawa ke rumah singgah.

Ipda Ali selaku Kanit Provos Polsek Kotagede, Polresta Yogyakarta selama ini sering terjun langsung membantu anak-anak yatim piatu maupun terlantar.

"Bapaknya (Siman) selama sakit dirawat di sini dulu. Yang penting kita menyelamatkan anak-anaknya juga, biar sekolah dan dapat tempat tinggal yang layak. Di sini ada pendidikan agama, nggih. Tapi untuk sekolah memang dititipkan di sekolah (formal sekitar)," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....