ODHIV: Bertahan Kala Belenggu Stigma Memasung Ingatan Publik

  • 28 Mar 2026 10:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID,Yogyakarta- Hari itu, menjadi awal sebuah perjalanan yang berat bagi seorang Magdalena Diah Utami. Kilas balik di tahun 2007, ia masih seorang ibu muda berusia 31 tahun. Seperti memikul beban derita yang tak kunjung usai.

Anaknya baru berusia lima bulan ketika harus menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Selama hampir dua pekan, bayi itu terbaring dengan selang makanan melalui hidung dan alat bantu pernapasan, sementara dokter belum juga menemukan diagnosis pasti atas penyakitnya.

‘’Dia tidak bisa makan, kemudian ada batuk, ketika batuk itu langsung sesak nafas,’’ ucapnya.

Di tengah situasi itu, persoalan lain muncul, biaya perawatan yang makin sulit dijangkau. Hingga akhirnya, ia memutuskan membawa anaknya pulang ke rumah. Beruntung, rumah sakit tempat anaknya dirawat memiliki layanan kunjungan bagi pasien, dengan kondisi tertentu yang tidak kembali menjalani kontrol.

Kunjungan itu menjadi titik balik bagi Magda. Dari percakapan singkat di ruang sederhana di rumahnya, perlahan ia mulai mendapatkan penjelasan yang tidak pernah dipahami sebelumnya. Perawat tersebut kemudian menyarankan pemeriksaan lanjutan, yaitu tes HIV. Sesuatu yang bahkan tidak terlintas di benaknya.

”Dan kami berdua di tes HIV. Saat itu tes HIV-nya tidak kemudian (langsung) jadi 2 jam setelahnya. Tapi harus menunggu esok harinya. Buat menunggu esok hari itu kayak panjang banget waktunya. Kayak kita menunggu seribu malam-lah setelahnya. Karena deg-degan, takut gimana nanti kalau HIV-nya positif. Dan alhasil esok harinya kami datang lagi ke rumah sakit. Kami beruntung anak kita dikasih uang oleh petugas rumah sakit. Dikasih Rp20.000 untuk besok kembali ke layanan kesehatan. Dan buka hasil, kami berdua HIV positif,’’ kata Magda kala berkisah kepada RRI.

Bagi Magda, momentum ini menjadi titik paling gelap. Bukan karena virusnya semata. Namun, karena bayangan akan penilaian orang lain, yang terasa jauh lebih menakutkan. Tak sedikit orang masih mengaitkan HIV dengan stigma. dengan anggapan-anggapan yang sering kali tidak sepenuhnya benar. Namun baginya, kisah ini tidak sesederhana itu.

“Sebelumnya saya adalah ibu yang tidak menikah. Jadi rencana saya mau menikah dengan calon suami saya. Tapi kemudian saya ditinggalkan dalam kondisi hamil tiga bulan. Dia pergi katanya dapat offer (tawaran, red) kerja di Qatar. Setelah itu dia pergi dan tidak ada kabarnya kembali sampai detik ini, sampai saat ini,’’ ucapnya.

Rupanya, calon suaminya-lah yang membawa virus itu ke tubuhnya, tanpa ia duga sebelumnya. Diagnosis itu tidak mudah diterima. “Ketika keluar rumah itu, berasa tetangga yang melihat itu menusukkan busur panahnya ke tubuh saya dari ujung kepala sampai ujung kaki,” ujarnya. Perasaan itu membuat Magda menarik diri dari lingkungan sekitar. Ia memilih lebih banyak berada di dalam rumah, menghindari interaksi dengan orang lain.

Peran besar keluarga

Di tengah kondisi tersebut, dukungan justru datang dari lingkungan terdekat. Keluarga menjadi pihak pertama yang menguatkannya untuk bertahan. Ayahnya memeluknya, sementara sang ibu berusaha menenangkan dengan keyakinan bahwa kondisi tersebut masih dapat ditangani melalui pengobatan.

Dukungan itu menjadi titik awal bagi Magda untuk perlahan menerima kondisinya. Namun, pengalaman serupa, tidak hanya dialami oleh Magda seorang. Kebutuhan akan ruang aman untuk saling menguatkan kemudian mendorong lahirnya Yayasan Victory Plus yang didirikan oleh seorang Yan Michael, yang telah lebih dari 20 tahun mendampingi ODHIV.

Yayasan Victory Plus sendiri berdiri pada 2004 silam. Berawal dari kebutuhan mendampingi mantan pengguna narkoba suntik di sebuah panti rehabilitasi. Saat itu, dari 10 orang yang menjalani pemeriksaan kesehatan, delapan di antaranya dinyatakan positif HIV, termasuk salah satu di antaranya adalah Yan Michael sendiri.

“Ketakutan secara pribadi saya sendiri merasakan ketika saya di diagnosa HIV positif adalah berapa lama lagi sih umur saya apakah nanti saya bisa berumah tangga, apakah nanti saya bisa memiliki keturunan ketakutan-ketakutan itulah yang timbul dalam diri saya dan saya percaya ketakutan itu juga yang timbul bagi teman-teman yang kami dukung saat ini sehingga kenapa sih peran dari Victory Plus, untuk berbagi pengalaman hidupnya buat teman-teman yang saat ini kami dukung dan untuk memerangi stigma dan diskriminasi,” ucap pria yang akrab disapa dengan Kak Yan itu.

Ketakutan terhadap stigma tidak hanya dirasakan oleh ODHIV, tapi juga dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan tes HIV. Namun, bagi seorang Yan Michael, juga rekan-rekannya di Victory Plus, mengaku tak pernah ada kata lelah untuk berjuang menghapus stigma bagi ODHIV.

“PR-nya sebenarnya panjang kapan itu bisa hilang stigma dan diskriminasi dia nggak akan pernah hilang, berkurang iya dan itu bukan sesuatu yang mudah capek nggak kita memerangi stigma dan diskriminasi? capek, tapi jangan pernah lelah untuk kita memeranginya. Bisa gak kita melakukan sendiri? Tidak akan bisa,” ujarnya.

Yan Michael, pendiri Yayasan Victory Plus sekaligus pendamping ODHIV hingga kini saat wawancara di studi RRI Yogyakarta (Foto: RRI/Friza Cahya Putra)

Peran konselor ODHIV

Ketika seseorang dinyatakan positif HIV, dampaknya tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan sosial. Dalam kondisi ini, peran konselor menjadi penting. Laurensia Ana Yuliastanti, atau Ana, menjadi salah satu yang terlibat dalam pendampingan tersebut. Meski bukan ODHIV, ia memilih berjuang bersama, mulai dari Komisi Penanggulangan AIDS hingga kini melanjutkan perannya sebagai konselor di Yayasan Victory Plus.

“Justru bukan takut karena HIV-nya, tapi karena stigma-nya ini. Karena hampir sebagian besar teman-teman yang HIV positif itu pasti yang pertama, pasti akan down, kemudian pasti akan depresi, kemudian dia tidak punya teman, pasti akan melakukan hal-hal yang negatif, misalnya justru membuat dia semakin terpuruk, dan sebagainya,’’ kata perempuan yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun menjadi konselor.

Melalui pendampingan, berbagai kesalahpahaman tentang HIV perlahan diluruskan. ODHIV tetap dapat hidup seperti orang lain bekerja, berkeluarga, bahkan memiliki anak, selama menjalani pengobatan secara teratur.

“Mereka sama dengan orang yang tidak HIV, cuma di dalam tubuhnya ada virus. Nah misalnya kayak perempuan yang HIV positif itu bisa kok punya anak yang tidak HIV positif. Caranya bagaimana? Minum obat secara teratur, kemudian harus kelayanan untuk memastikan dia tidak HIV positif, untuk tes viral load biar dia bisa punya anak yang tidak HIV positif, jadi sama dengan kita yang tidak HIV,’’ ujarnya.

Data yang dihimpun Victory Plus menunjukkan kasus stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV masih terus terjadi. Pada 2023, tercatat lebih dari 400 laporan. Angka itu menurun menjadi 348 kasus pada 2024 dan 123 kasus hingga 2025.

‘’Dan itu pun sebagian besar mereka dibuka statusnya itu di media sosial. Dan yang kedua itu dari pekerjaan, jadi dia diminta untuk mengundurkan diri,’’ kata dia. Ana bahkan menyebutkan, rendahnya literasi tentang HIV dan AIDS, menjadi salah satu penyebab utama munculnya stigma.

Laurensia Ana, Konselor ODHIV saat memberikan edukasi kepada tenaga kesehatan di RSUD Kota Yogyakarta (Foto: Dokumen Pribadi Laurensia Ana)

Pemerintah: jauhi penyakitnya bukan orangnya

Edukasi menjadi kunci. Pemerintah melalui Dinas Kesehatan DIY menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sehari-hari. ’’Kalau HIV-AIDS ini menularnya lewat cairan tubuh, lewat hubungan seksual, lewat mungkin transfusi darah yang terkontaminasi oleh virus dan seterusnya. Jadi tidak semudah itu, jadi tidak perlu takut juga kalau mungkin bentuk stigmanya itu terus takut atau menjauhi. Jauhi penyakitnya, jangan jauhi orangnya,’’ kata dr Ari Kurniawati, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, saat ditemui RRI di kantornya.

Lebih lanjut, dr. Ari juga menjelaskan bahwa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga akhir 2025 tercatat 9.540 kasus HIV, dengan 2.482 di antaranya telah memasuki stadium AIDS. Kasus ini didominasi kelompok usia produktif, yakni 20–29 tahun untuk HIV dan 30–39 tahun untuk AIDS.

Meski demikian, masyarakat diimbau tidak perlu takut, karena HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat. Ia pun menjelaskan, kini tes HIV bisa dilakukan dengan mudah di berbagai layanan kesehatan pemerintah. ‘’Hampir semua puskesmas itu bisa melakukan tes HIV, dan banyak rumah sakit juga bisa melakukan tes HIV. Untuk layanannya sendiri sudah masuk dalam program JKN ya, kalau obatnya gratis dari pemerintah, jadi obati,’’ ucapnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati saat ditemui RRI di kantornya. (Foto: RRI/Friza Cahya Putra)

Tak hanya itu, pemerintah pun menargetkan pengakhiran HIV pada 2030 melalui capaian 90-90-90, yakni 90 persen orang berisiko mengetahui statusnya, 90 persen yang terdiagnosis mengakses pengobatan, dan 90 persen yang menjalani terapi mencapai supresi virus. Tentu target ini dinilai hanya dapat tercapai melalui dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.

Literasi yang tepat menjadi kunci. Pemahaman yang tepat menjadi kunci, untuk menghapus ketakutan yang selama ini tumbuh di masyarakat. Namun di balik penjelasan itu, ada kehidupan nyata yang harus terus berjalan. Kehidupan orang-orang yang setiap hari tidak hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga stigma.

“Putri kecil saya yang dulunya usia 5 bulan itu HIV stadium 4, stadium terminal atau stadium akhir untuk HIV. Berkat pengobatan yang rutin, komitmen untuk dukungan keluarga terkait kepatuhan pengobatan, kemudian kami hidup sehat, yang dulunya sudah istilahnya maut itu akan menjemputnya, sekarang sehat, dan sekarang duduk di kelas 3 bangku SMK,” ucap Magda yang menceritakan kisah putrinya dengan mata berbinar.

Sudah 19 tahun, ia dan putrinya hidup dengan virus HIV di tubuhnya. Magda berharap, ia dan putrinya bisa terus diterima di masyarakat tanpa stigma, tanpa diskriminasi. Pada akhirnya, orang dengan HIV dan AIDS memiliki kebutuhan yang sama seperti individu lainnya, untuk hidup, bekerja, dan berinteraksi tanpa diskriminasi. Dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan komunitas, ternyata menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup mereka. Yang dibutuhkan bukan hanya kesadaran akan penyakitnya saja, tapi juga keberanian untuk memperlakukan mereka sebagai manusia.

Tim RRI saat berkunjung ke Victory Plus, bersama staf dan pendamping ODHIV. (Foto: RRI/Lukmanawati Rahayu)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....