Pesantren Duafa, Kisah Pejuang Nafkah Yogya Nyantri di Masjid Pangeran Diponegoro

  • 02 Mar 2026 19:19 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di sela riuh dan panasnya jalanan Kota Yogyakarta yang setiap harinya menemani, puluhan orang sejenak meninggalkan hiruk pikuk aktivitas pekerjaan yang setiap peluhnya ada tanggung jawab yang dibawa di pundaknya untuk keluarga tercinta.

Pemandangan indah yang terlihat saat bulan suci Ramadan ini, membawa ketenangan puluhan orang yang setiap harinya sejenak menanggalkan rompi ojek, maupun handuk kecil yang melilit leher kuli bangunan, hingga topi lusuh pengayuh becak untuk duduk dengan khusyuk di bawah naungan tiang-tiang Masjid Pangeran Diponegoro, Komplek Balai kota Yogyakarta.

Selama bulan Ramadan ini mereka bukan lagi pengejar rupiah di jalanan, melainkan menjadi seorang santri yang tengah berburu berkah dalam program 'Pesantren Duafa'.

Oase yang dihadirkan untuk mengobati dahaga imam dan ketaqwaan yang diinisiasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Yogyakarta ini bukanlah barang baru, melainkan tradisi yang hadir dan telah terjaga selama hampir satu dekade sejak tahun 2016. Menurut Pelaksana Bidang II Pendistribusian dan Pendayagunaan, Baznas Kota Yogyakarta, Kengy Gilang Ramadhan, program ini merupakan terobosan untuk merangkul para pekerja harian yang sering kali kehilangan momentum ibadah karena tuntutan hidup.

"Kita itu intinya memberi kesempatan pada bapak-bapak yang nuwun sewu pekerja harian yang mungkin selama bulan Ramadan itu untuk ibadahnya mungkin waktunya kurang optimal. Karena beliau-beliau bekerja untuk sehari-hari seperti itu," katanya, Minggu, 1 Maret 2026.

Beragam rangkaian ibadah yang dikemas untuk memberikan waktu bagi para pekerja harian yang dulunya dikemas seperti pondok pesantren dan harus menginap di Masjid ini, kini bisa dinikmati tanpa harus meninggalkan waktu bersama keluarga. Aktivitas ini dinilai lebih efektif bagi para pekerja disela kesibukannya mencari nafkah untuk keluarga.

"Jadi mulai sore sampai nanti setelah Tarawih. Kedatangan pukul 16.30 WIB nanti mengikuti kajian jelang buka puasa sekitar pukul 17.00 WIB sampai Magrib di Masjid Pangeran Diponegoro," ucapnya.

Kegiatan tidak hanya selesai saat berbuka puasa namun dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah, dan setelah itu melakukam persiapan untuk salat Isya, dan mengikuti rangkaian shalat Tarawih di Masjid Pangeran Diponegoro. Setelah salat Tarawih hingga Witir, para santri kemudian pindah ke lantai bawah untuk Tadarus Alqur'an dan mengikuti Tausiah atau materi-materi khusus terkait Keislaman.

Setiap tahunnya memberikan kemudahan beribadah bagi 50 pekerja harian dengan beragam usia yang tak lagi muda antara 40an tahun. Baznas Kota Yogyakarta memberikan ruang bagi pekerja rentan seperti tukang bangunan, ojek online maupun konvensional, hingga pengayuh becak selama 25 hari hingga H-5 Lebaran.

Dibekali peralatan untuk beribadah, para santri inipun, tidak mengharuskan persyaratan khusus untuk mengikuti Pesantren Duafa. Hanya dengan mengisi formulir yang di dalamnya mencakup data pekerjaan hingga penghasilan, para santri diutamakan bagi warga yang tinggal ataupun memiliki identitas di Kota Yogyakarta.

Disamping domisili Kota Yogyakarta, santri Pesantren Duafa yang masuk kategori rentan secara penghasilan ini juga merupakan orang yang aktif berkegiatan di masjid masing-masing. Hal ini dibuktikan dengan surat keterangan aktif di masjid dari tempat tinggalnya masing-masing.

"Harapannya sepulang dari sini, mereka semakin istikomah," katanya, menjelaskan.

Selaras dengan semangat yang diusung Pesantren Duafa 'Golek Ganjaran Entuk Bayaran' atau mendapatkan berkah/pahala di bulan Ramadan tapi juga mendapat penghasilan, para santri pada pertemuan hari pertama dikumpulkan untuk mendapatkan paket sembako. Disamping itu juga mendapatkan atribut pesantren seperti kopiah, sarung, dan baju koko, bahkan yang cukup menarik nanti pada akhir kegiatan para santri juga akan mendapatkan tunjangan hari raya (THR).

"Kopiah, sarung sama baju koko itu kemarin kami berikan di awal, lalu nanti di akhir insyaallah ada THR-nya sebesar Rp1 juta per orang," ujarnya.

Fasilitasi yang dilakukan Baznas Kota Yogyakarta di Masjid Pangeran Diponegoro selama bulan Ramadan bagi para pekerja dengan penghasilan rentan ini diharapkan semakin menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Melalui Pesantren Duafa, Baznas Kota Yogyakarta membuktikan bahwa kesalehan sosial bisa diwujudkan dengan cara yang sangat manusiawi.

Di sini, para pejuang jalanan tidak hanya pulang membawa ganjaran pahala, tetapi juga senyum lebar karena kebutuhan lebaran yang terjamin.

Rekomendasi Berita