Menebar Manfaat Lewat Sekolah Rakyat
- 09 Feb 2026 21:23 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sambil duduk di dalam ruangan ber-AC, Endang Patmintarsih bersemangat menjelaskan tentang Sekolah Rakyat. Sebagai Kepala Dinas Sosial DIY, ia bertanggungjawab memastikan pelaksanaan program nasional itu berjalan lancar.
Sebab, sekolah rakyat menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yang berbeda dengan sekolah umumnya. Lewat cara ini, kepala negara bercita-cita ingin mencerdaskan rakyat agar mereka bebas dari belenggu kemiskinan.
”Pendidikan adalah sarana yang paling benar, untuk menghilangkan kemiskinan,” katanya saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat 34 Provinsi di Kalimantan Selatan, 12 Januari 2026 lalu. ”Saya ingin anak pemulung bisa jadi insinyur, bisa jadi dokter, bisa jadi pengusaha.
”Maka, Presiden Prabowo memastikan anak-anak dari keluarga miskin, bisa belajar di sekolah rakyat tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Endang Patmintarsih sependapat dengan presiden, saat mengetahui latar belakang para siswa.
”Bukan hanya anak yang memiliki persoalan ekonomi saja, tapi juga yang memiliki masalah sosial lainnya,” ucapnya. ”Misalkan sudah drop out dari sekolah dan jadi anak jalanan, nah ini kita ambil dari komunitas dia, meski hal tersebut tidak mudah.”
Selama setahun terakhir, program Sekolah Rakyat di DIY sudah berjalan di dua tempat. Yaitu di Sonosewu Kabupaten Bantul dan Purwomartani Kabupaten Sleman, meskipun di dua lokasi ini, sekolah rakyat masih meminjam gedung milik pemerintah.
Maka di tahun kedua ini, pemerintah pusat ingin membangun gedung sekolah rakyat yang lebih permanen. Agar 275 siswa sekolah rakyat, punya fasilitas belajar yang layak dan memadai.
”Daerah diminta pusat menyiapkan lahan di Sumbersari Moyudan Sleman, seluas 7,4 hektar,” katanya. ”Saat ini kita persiapan mengurus dokumen amdal, pembersihan lahan dan target pusat mulai pembangunan antara bulan juni atau juli.”
Para siswa yang masuk sekolah rakyat, dibentuk menjadi pribadi yang lebih disiplin. Dwi Hidayat, siswa Sekolah Rakyat Sonosewu merasakan hal itu sejak pertama kali masuk, seperti bangun sebelum Subuh untuk persiapan sholat jamaah di mushola sekolah.
”Baru setelah itu kita melakukan berbagai persiapan untuk berangkat ke sekolah,” ujarnya. ”Mulai dari mandi, menyiapkan seragam dan jadwal, lalu persiapan sarapan jam 6 pagi, terus lanjut apel pagi dan jam 7 sudah harus masuk kelas untuk belajar.”
Keputusan Dwi Hidayat masuk sekolah rakyat, untuk meringankan beban ekonomi kedua orang tuanya, yang masih harus menanggung biaya sekolah kakak dan adiknya. Saat ini, ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibunya menjadi pemulung.
Kondisi keluarganya itulah, yang membuat Dwi Hidayat memantapkan diri masuk sekolah rakyat dan tinggal di asrama sekolah. Meskipun lokasi sekolah dan asrama berjarak puluhan kilometer dari rumahnya di wilayah Kabupaten Kulon Progo.
”Saya senang tinggal di asrama,” ucapnya. ”Saya tidak khawatir karena semua disini sudah ditanggung, mulai fasilitas dan makan, kalau kangen keluarga bisa menghubungi menggunakan telpon wali asrama, bahkan setiap akhir pekan ada kunjungan ortu.”
Setelah merasakan manfaat belajar di Sekolah Rakyat, Dwi Hidayat bertekad untuk belajar sungguh-sungguh. Ia bercita-cita menjadi seorang guru, agar ke depan bisa mendidik anak bangsa menjadi generasi bermental kuat, disiplin, dan mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi.