Perjuangan Lea, Gadis Kecil Penuh Tanggung Jawab
- 28 Jan 2026 20:11 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kulon Progo - Di SD Negeri Gembongan, Sentolo, seorang bocah laki-laki dengan usia sekitar empat tahun asyik berlarian. Dengan pakaian kecilnya, anak bernama Reyfan Elcaraka Fahturohman ini, terlihat senang melihat teman kakaknya sedang berolahraga. Bocah tersebut tentu bukan murid setempat, namun kehadirannya menjadi bagian dari sekolah tersebut selama beberapa waktu terakhir.
Reyfan berada di sana karena kakaknya, Ariendra Ralea Irgantari (9), yang akrab disapa Lea, harus membawanya ke sekolah. Setiap hari. Ya, di usia 9 tahun, Lea harus mempunyai tanggung jawab besar yang tentunya melampaui usia saat ini. Hal ini karena ibundanya kini tengah berjuang melawan kanker payudara dan harus kemoterapi serta radioterapi yang tentunya menyita waktu di rumah sakit. Ibunya harus rutin menjalani penyembuhan secara berkala.
Dengan memakai sepeda merah mudanya, Lea membonceng adiknya. Sepedanya dikayuh perlahan, agar sang adik yang duduk di boncengan belakang bisa tenang. Sepeda mini ini dikayuh sejauh satu kilometer dari rumah kontrakan menuju sekolah.
"Tiap hari bawa adik ke sekolah. Adikku tidak nakal," Ujarnya.
Bagi Lea, membawa adik ke sekolah merupakan bentuk baktinya sekaligus tanggung jawab. Agar sang ibu tidak diliputi rasa cemas saat menyembuhkan diri.
Keluarga Lea memang hidup dalam keterbatasan. Ibunya bekerja sebagai buruh harian lepas yang kini harus melawan sakit. Meski bantuan dari berbagai pihak masuk, kebutuhan hidup dan biaya pendidikan Lea serta adiknya tetap membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Terhadap kondisi ini, Kepala SD Negeri Gembongan, Pri Hastuti Komarul, tidak melarang. Pihak sekolah memberi kesempatan bagi Reyfan. Pendidikan bukan sekadar angka, namun tentang pembentukan karakter dan empati.
"Kami menjadikan Ini sebagai 'laboratorium hidup'. Siswa-siswa lain bisa belajar kepedulian dan tanggung jawab secara langsung dengan melihat perjuangan Lea," ucapnya.
Di dalam ruangan kelas III tersebut, Guru kelas telah mengatur agar Reyfan tetap bisa beraktivitas positif agar tidak bosan. Kadangkala Reyfan duduk tenang di dalam kelas, mewarnai, atau bermain di teras. Tentu dengan pengawasan pihak sekolah. Kehadiran Reyfan justru memantik rasa sayang dari murid-murid lainnya.
Meski harus memikul tanggung jawab besar, Lea tak lupa pendidikan. Ia menjadi siswi yang cemerlang dan dikenal berprestasi sejak kelas 1. Gadis kecil ini bahkan aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk Festival Literasi Kulon Progo.
Prestasi ini sebanding dengan cita-cita luhurnya. Ia tidak ingin kesulitan keluarganya dialami oleh orang lain. Lea ingin menjadi dokter.
"Aku pengen jadi dokter. Buat rumah sakit sendiri, biar bisa ngobati orang," ucapnya.
Lea menjadi ketangguhan seorang anak di tengah badai kehidupan yang tidak kecil. Lea mengajarkan kepada semua tentang pantang menyerah serta kasih sayang. Di SD Negeri Gembongan, Lea belajar tentang masa depan, menuliskan pelajaran bahwa sekolah menjadi rumah untuk berjuang menggapai mimpi.