Dari Kiringan, Penerima Anugerah Kebudayaan Bawa Jamu Mendunia

  • 01 Des 2025 18:07 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Alunan gamelan dengan nyanyian sinden resmi membuka acara penyerahan “Anugerah Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diselenggarakan di Bangsal Kepatihan, Suryatmajan, Danurejan, Yogyakarta, pada Senin (1/12/2025). Momen ini menjadi ruang penghormatan bagi para pelaku budaya yang telah menjaga jejak kearifan tradisi sekaligus menghadirkan inovasi di tengah perkembangan zaman.

Dalam laporannya, Ketua Tim Penilai Anugerah Kebudayaan Taswir Abdullah, menyebutkan penetapan penerima anugerah melalui proses seleksi selama satu bulan. Melalui sidang pleno, terpilih 28 penerima yang terbagi dalam empat kategori, yaitu Penghargaan Upakarya Budaya, Penghargaan Adikara Cipta Budaya, Anugerah Maha Bakti Budaya, serta Anugerah Maha Adi Dharma Budaya.

Salah satu penerima penghargaan Upakarya Budaya tahun ini adalah Sutrisno, penggerak kesehatan tradisional dari Dusun Kiringan, Bantul. Sutrisno dikenal sebagai inovator jamu yang berhasil mengolah ramuan tradisional menjadi berbagai bentuk yang dekat dengan minat generasi muda. Selain itu, ia mengembangkan desa wisata jamu agar tradisi tetap hidup dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Sutrisno mulai belajar meracik tanaman obat sejak masih duduk di bangku SMP. Namun, semangatnya mengangkat martabat jamu sebagai bagian dari kebudayaan baru benar-benar tumbuh pada era 1990-an ketika ia mulai memperkenalkan jamu secara lebih luas kepada publik. Ia menyadari bahwa kekayaan budaya jamu di kampungnya bisa menjadi kekuatan besar jika diangkat bersama oleh masyarakat.

Dari kesadaran itu, lahirlah gagasan menjadikan Kiringan sebagai desa wisata jamu. Ia mengajak para ibu untuk menanam minimal sepuluh tanaman obat di halaman rumah. “Tujuannya itu satu, bilamana ada keluarga yang sakit bisa ngambil untuk sebagai obat. Kedua, kalau ada wisata datang itu bisa dijual sebagai bibit,” ujar Sutrisno saat diwawancarai RRI usai menerima penghargaan.

Meski sempat mendapat cibiran, langkah itu akhirnya membuahkan hasil. Pesanan polybag tanaman obat dari Kementerian Kesehatan pun pernah mencapai 400 dan sebagian besar dipasok dari kampungnya sendiri. Tak hanya tanaman obat, Sutrisno juga mengajak para warga untuk semakin berinovasi. Bersama 132 pengrajin jamu di Dusun Kiringan, mereka berhasil membuat es krim jamu, boba jamu, permen jamu, juga selai jamu untuk roti. Momen itu membuat warga yakin bahwa jamu bukan sekadar tradisi, tetapi juga peluang ekonomi yang nyata.

Dedikasi panjang Sutrisno juga membuka pengakuan dunia. Pada 2023, seni dan tradisi meracik jamu dari Dusun Kiringan resmi tercatat di UNESCO. Selain itu, ia telah menerima berbagai penghargaan, termasuk anugerah dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) saat itu. Kunjungannya pun tidak hanya datang dari kementerian dalam negeri, tetapi juga peneliti dan wisatawan mancanegara yang belajar langsung di kampungnya.

Dalam kesempatan ini, Sutrisno juga menyampaikan harapannya agar generasi muda tidak takut mengembangkan budidaya jamu. Ia menilai, dengan semakin banyaknya inovasi serta pengakuan dunia terhadap jamu, sudah saatnya anak muda ikut mengambil peran dalam meneruskan tradisi tersebut.

“Jadi, jangan takut. Anak-anak muda silahkan belajar ini karena sekarang jamu meracik jamu itu sudah diakui UNESCO sebagaimana batik dan wayang. Anak-anak muda besok kalau mau ekspor, kami doakan bisa ekspor karena itu lebih mudah daripada sekarang,” ujarnya mengakhiri. (Ellena/Wulan/par)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....