Perjuangan Nelayan Srandakan Menjemput Rezeki dari Laut
- 21 Nov 2025 10:40 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Bantul: Pagi itu, Kamis (20/11/2025), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengadakan kegiatan “Pemberdayaan Kampung Nelayan Merah Putih” di Padukuhan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul, Yogyakarta. Para nelayan tampak antusias mengikuti rangkaian acara, mulai dari pembukaan dan peninjauan oleh Staf Ahli Menteri KKP, Trian Yunanda, hingga sesi materi yang bertujuan meningkatkan kapasitas SDM nelayan dan masyarakat pesisir di wilayah tersebut.
Agung, salah satu nelayan yang beristirahat sejenak di sela kegiatan, berkesempatan menceritakan keseharian dan perjuangannya dalam menjemput rezeki di laut. Sebuah proses yang baginya tak sekadar pekerjaan, melainkan pertaruhan dengan cuaca, gelombang, dan hasil tangkapan yang tak pernah bisa ditebak.
“Hasil itu enggak tentu. Per harinya belum tentu sama hasilnya. Ya, kadang-kadang enggak dapat, kadang dapat, dapat banyak pun belum tentu juga. Jadi, ya hasilnya itu enggak bisa diperkirakan,” ujar Agung.
Agung bercerita bahwa pergi melaut selalu penuh dengan ketidakpastian. Berbagai faktor dari faktor alam, cuaca, banyak sedikitnya ikan sangat menentukan hasil melaut di hari itu. Apalagi, setiap kali ia berangkat, selalu ada risiko yang harus siap ia tanggung. Untuk sekali melaut dengan mesin standar 15 PK, ia harus mengeluarkan modal sekitar 250 ribu rupiah hanya untuk bensin dan perbekalan. Biasanya ia berangkat sekitar pukul enam pagi, ketika angin belum terlalu kencang dan ombak masih ramah.
“Biasanya jam enam pagi. Tergantung kitanya.Carinya sudah susah, badan capek, kita pulang. Enggak tentu, ya. Kalau sudah capek, belum tentu dapat ikan pun kita pulang,” ucapnya.
Meski begitu, Agung tetap melaut setiap hari. Tak ada jaminan ia pulang membawa ikan, tetapi ada kebutuhan rumah yang tetap harus dipenuhi. Ketika ditanya apakah profesinya masih sanggup mencukupi kebutuhan keluarga, ia mengangguk kecil. “Ya, alhamdulillah masih,” katanya pelan, seolah menyiratkan bahwa kecukupan itu penuh syarat dan selalu bergantung pada keadaan luar.
Menurutnya, yang paling menentukan saat melaut bukan hanya biaya logistik atau peralatan yang makin mahal, tetapi musim ikan. Jika sedang musim bawal atau tenggiri, hasil jualnya bisa cukup baik. Layur pun lumayan. Tapi ketika yang tersisa hanyalah ikan-ikan lokal, harga jualnya tidak bisa diharapkan. Bahkan terkadang jika ia pulang membawa sedikit ikan atau bahkan tanpa hasil, Agung tetang harus menutupi kebutuhan hari itu.
“Ya, nombok. Nomboknya, ya uang pribadi. Intinya kan buat operasional yang tadi enggak balik toh? Iya. Berarti besok kalau mau berangkat lagi kita keluar, ya keluar modal lagi. Kayak setor gitu, paroan, setengah saja. Misalnya dapat penjualan Rp1.000.000 nanti potong operasional, potong pengeluaran, baru dibagi dua. Bagi dua, sama yang punya terus yang setengahnya dibagi lagi buat pekerja,” ucapnya.
Di sisi lain, warung-warung makan kecil juga ikut merasakan naik turunnya keadaan ekonomi di pesisir. Parmi, salah satu karyawan yang bekerja di warung makan mengaku bahwa penjualan memang naik karena banyak pekerja proyek pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih datang makan. Namun hari-hari biasa tetap sepi, bergantung pada wisatawan yang jumlahnya tak menentu.
“Nek harian, harian nganu biasa, nggih. Nek hari Sabtu, Minggu itu jelas ramai ya. Nek harian itu tetap biasa. Kadang ada yang dolan (main), kadang enggak ada yang mampir. Tetep rame hari Sabtu, Minggu, tanggal merah. Hari biasa, ya biasa,” ucap Parmi.
Harapan baru mulai tumbuh di antara para nelayan dan pelaku usaha kecil setelah hadirnya program Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini akan menghadirkan fasilitas seperti pabrik es untuk penyimpanan, unit pengolahan hasil laut, sarana pendukung kapal, hingga program pelatihan pemberdayaan nelayan. Koperasi Desa Merah Putih nantinya akan mengelola seluruh fasilitas itu dan memastikan pemasaran ikan bisa lebih terarah.
“Harapannya semoga nilai tambah maju, tambah sukses juga saja. Terus hasil dari nilai tangkapan itu kalau adanya kampung nelayan bisa bisa terserap di sini. Jadi kita enggak usah jauh-jauh mungkin ke luar daerah untuk menjual ikan,” ucap Sarmidi, Ketua Nelayan Pantai Baru dan Punijo, Ketua Nelayan Pantai Kuwaru. (Ellena)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....