Sejarah Jembatan Kewek, Penghubung Masyarakat Borjuis ke Malioboro

  • 20 Nov 2025 11:03 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengklaim kondisi Jembatan Kewek saat ini sudah kritis. Karena usianya yang memang sudah lebih dari seratus tahun. Pemkot pun berencana untuk membangun ulang jembatan tersebut.

Mengutip laman jejakkolonial.blogspot.com Jembatan Kewek ini diresmikan pada 14 Mei 1924. Awal pembangunan jembatan ini tidak lepas dari keberadaan kawasan Kotabaru yang berkembang di era yang sama.

Banyak warga Belanda yang tinggal di kawasan Kotabaru, fasilitas yang lengkap membuat para pekerja pabrik gula dan kaum borjuis di DIY yang memilih tinggal di kawasan ini. Terlebih lokasinya tidak jauh dari kawasan hiburan dan komersil Malioboro.

Namun, para penghuni Kotabaru ini harus memutar jauh melintasi Jembatan Gondolayu untuk bisa menuju Malioboro dan menyeberang Sungai Code. Kemudian melintasi Jalan Mangkubumen dan berhenti di perlintasan jika ada kereta yang lewat.

Residen Jonquiere kemudian meminta persetujuan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII untuk membangun jembatan baru. Lokasinya dipilih di selatan Kotabaru di atas Kali Code, melalui bagian bawah jembatan kereta Yogyakarta-Solo.

Jembatan ini akan menghubungkan wilayah Kotabaru dengan Malioboro sehingga memudahkan para penghuninya tanpa perlu memutar ke arah Gondolayu. Pembangunan jembatan menelan biaya 1.238.000 gulden yang berasal dari kas Kasultanan dan subsisi dari sebuah maskapai kereta api Belanda yaitu Nederlandsche-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS).

Proyek pengerjaan jembatan ini dilaksanakan oleh Dienst der Sultanaatswerken dan firma Sitsen en Louzada, di bawah arahan Ir Beekveld. Pembangunan dimulai pada Desember 1921 dan diresmikan pada 14 Mei 1924 oleh Sri Sultan Hamenngkubuwono VIII serta Residen LF Dingemans.

Kawasan tersebut kemudian diberi nama Boulevard Jonquiere seperti nama residen yang mencetuskan ide pembangunannya dan diharapkan mempersingkat waktu tempuh warga Kotabaru menuju Malioboro. Karena jembatan atau weg ini mengarah ke gereja atau kerk maka disebutlah sebagai kerk weg. Namun, lidah masyarakat Yogyakarta kala itu terbiasa menyebutnya sebagai Kewek. (dev/ros)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....