Sempat Alami Masa Sulit, Gadis Ini Lulus Cumlaude

  • 31 Okt 2025 20:21 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Dhiva Angger Sakhena asal Sukorejo, Trenggalek Jawa Timur, berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat pujian atau cumlaude. Ia lulus dari UNY, dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yaitu 3,97.

Namun, jalan yang ia tempuh untuk bisa kuliah di UNY, justru dimulai dari masa penantian dan perjuangan panjang. Setelah gagal pada percobaan pertama masuk perguruan tinggi, Dhiva memutuskan mengambil jeda selama satu tahun.

Namun masa jeda setahun itu, tidak diisi dengan kesedihan melainkan dengan dedikasi sosial. Ia mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak di desanya, sebagai inisiatif yang ia rancang sendiri sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Ketika akhirnya diterima di Program Studi Administrasi Publik FISIP UNY melalui jalur SBMPTN, Dhiva datang bukan sekadar sebagai mahasiswa baru. Namun, ia datang sebagai pribadi yang lebih matang dan siap berjuang dalam masa studi.

Ia membawa semangat kemandirian dan kepercayaan diri yang menjadi bahan bakar untuk setiap langkahnya di dunia akademik dan organisasi. “Saya percaya diri saya lebih kompeten daripada rintangan yang saya hadapi,” katanya, Jumat (31/10/2025).

Prinsip itu terbukti ketika Dhiva menyeimbangkan kuliah dengan berbagai aktivitas organisasi dan kompetisi. Ia aktif di English Debating Society UNY, hingga dipercaya menjadi presidennya.

Bahkan, ia juga berperan sebagai Administrator Jogja Debating Forum — wadah komunitas debat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari latihan-latihan debat di ruang kecil kampus, membawanya melangkah hingga ke panggung dunia.

”Saya pernah menjadi delegasi World Universities Debating Championship 2022,” ujarnya.

Di balik prestasinya yang cemerlang, Dhiva sempat menghadapi masa sulit karena minimnya dukungan di awal perjalanan akademik. Namun, ia justru menguatkan motivasi dari dalam dirinya.

”Dukungan yang terbaik adalah percaya pada diri sendiri bahwa saya bisa,” ucapnya.

Keyakinan itu terus tumbuh seiring dengan dukungan teman-teman dan bimbingan dari dosen UNY. Ia mengakui, lingkungan kampus yang suportif memberikan ruang besar bagi mahasiswa untuk berkembang melalui pelatihan, kompetisi, dan kolaborasi.

Kunci keberhasilan Dhiva juga terletak pada cara pandangnya terhadap belajar. Ia tidak menganggapnya sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan.

”Kalau sudah suka belajar, kegiatan simple pun bisa jadi aktivitas informatif dan analitis,” ujarnya sambil tersenyum. Ia percaya bahwa ilmu bisa datang dari mana saja, bahkan dari hal-hal sederhana seperti membaca meme di media sosial. (r-ws/par)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....